Topan Kalmaegi telah melanda Filipina dengan dahsyat, menyebabkan banjir besar yang belum pernah terjadi sebelumnya di Provinsi Cebu. Hingga kini, sedikitnya 140 orang dilaporkan tewas dan 127 orang hilang. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. telah menyatakan status darurat nasional. Saat ini topan tersebut sedang menuju Vietnam, yang selama seminggu terakhir juga dilanda banjir besar dengan 47 korban jiwa.
EtIndonesia. Pada 4 November 2025, ketika topan “Kalmaegi” menghantam Kota Mandaue di Provinsi Cebu, Filipina. Warga terlihat memanggul barang-barang mereka dan berjalan melewati jalan yang tergenang air.
Kantor Pertahanan Sipil Nasional Filipina pada Kamis 6 November 2025 mengkonfirmasi bahwa sejauh ini 114 orang telah dinyatakan tewas, namun angka ini belum termasuk 28 korban tambahan yang dilaporkan oleh pemerintah Provinsi Cebu.
Di Cebu, banjir besar membuat pemandangan seperti kehancuran total — mobil-mobil menumpuk satu sama lain, atap rumah beterbangan, dan warga berjuang membersihkan jalan yang tertutup lumpur tebal.
Seorang wanita bernama Christine Aton (29 tahun) mengenang: “Kami mencoba membuka pintu dengan pisau dapur dan linggis, tapi pintunya tidak bergerak sama sekali… lalu kulkas mulai mengapung. Aku membuka jendela, dan bersama ayahku kami berenang keluar. Kami menangis sambil berusaha menolong kakak, tapi ayah berkata kalau kami kembali, kita semua akan mati.”
Kakaknya, Michelle, yang memiliki keterbatasan gerak, tewas terjebak di kamarnya karena tidak sempat melarikan diri.
Di Pulau Negros yang berdekatan, polisi melaporkan hujan deras dari topan memicu aliran lahar dan tanah longsor dari lereng gunung berapi, menimbun beberapa rumah di Kota Canlaon.
Seorang perwira polisi, Stephen Polinar, menjelaskan: “Sejak letusan tahun lalu, banyak material vulkanik menumpuk. Hujan deras membuat tumpukan itu longsor dan menimbun seluruh desa.”
Dari total korban tewas di seluruh negeri, termasuk enam anggota kru militer yang tewas dalam kecelakaan helikopter saat menjalankan misi penyelamatan.
Presiden Ferdinand Marcos Jr memimpin rapat bersama pejabat penanggulangan bencana dan mengumumkan status darurat nasional, untuk mempercepat penyaluran dana bantuan, mencegah penimbunan bahan pangan, dan menekan lonjakan harga.
Pada Kamis pukul 08.00 pagi, kecepatan angin maksimum di pusat topan mencapai 155 km/jam, dengan hembusan mencapai 190 km/jam. Topan terus menguat dan bergerak ke arah Vietnam. Badan Meteorologi Nasional memperkirakan topan “Kalmaegi” akan mendarat di wilayah tengah Vietnam pada malam hari disertai gelombang laut setinggi hingga 8 meter dan badai pasang yang sangat kuat.
Pejabat Vietnam khawatir topan ini akan memperparah banjir besar yang selama seminggu terakhir telah menewaskan 47 orang. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


