Kanselir Jerman Friedrich Merz Serukan Pemulangan Pengungsi Suriah, Siapkan Deportasi Bila Menolak Pulang Sukarela

Menurut data Kantor Statistik Federal Jerman (Destatis), terdapat sekitar 712.000 warga Suriah yang terdaftar sebagai pencari suaka—setara 22 persen dari total 3,17 juta pencari suaka di Jerman.

Victoria Friedman

Kanselir Jerman Friedrich Merz pada 3 November menyatakan bahwa perang saudara di Suriah telah berakhir, dan para pengungsi kini dapat mulai kembali ke negara asal mereka—baik secara sukarela maupun melalui deportasi.

Dalam kunjungannya ke kota Husum, negara bagian Schleswig-Holstein, Merz mengatakan kepada wartawan:

“Saat ini sudah tidak ada lagi dasar hukum untuk suaka di Jerman, sehingga kita bisa memulai proses pemulangan. Tanpa mereka, pembangunan kembali Suriah tidak akan mungkin. Mereka yang menolak kembali ke negaranya dapat saja dideportasi dalam waktu dekat.”

Lewat unggahan di platform X (Twitter), Merz menambahkan:

“Perang saudara di Suriah telah usai. Negara itu kini membutuhkan seluruh kekuatannya, terutama para pria dan perempuan Suriah untuk membangun kembali negeri mereka. Banyak yang ingin pulang—kami akan mendukung dan membantu proses rekonstruksi di sana.”

Di bawah kepemimpinan Angela Merkel—yang juga berasal dari partai konservatif Uni Demokratik Kristen (CDU)—Jerman menerima ratusan ribu pengungsi Suriah sejak dimulainya krisis migrasi Eropa tahun 2015.

Berdasarkan data Destatis Desember 2024, hingga akhir 2023 terdapat 712.000 pencari suaka asal Suriah di Jerman. Jumlah itu merupakan 22 persen dari total pencari suaka (3,17 juta orang), menempati urutan kedua setelah pengungsi asal Ukraina (31 persen).
Secara keseluruhan, hampir 1,3 juta orang berlatar belakang Suriah kini tinggal di Jerman, sekitar 18 persen di antaranya lahir di negara tersebut.

Pernyataan Merz yang menandakan sikap lebih tegas terhadap kebijakan suaka muncul di tengah meningkatnya dukungan terhadap partai sayap kanan Alternatif untuk Jerman (AfD) yang menentang imigrasi ilegal.

Menurut jajak pendapat gabungan Politico Poll of Polls per 30 Oktober, AfD berada di posisi teratas dengan 26 persen dukungan, sedikit di atas CDU (25 persen). Sementara Partai Sosial Demokrat (SPD)—mitra koalisi CDU—berada di 14 persen.
Isu imigrasi menjadi salah satu perhatian utama menjelang pemilu federal Februari mendatang, dengan survei menunjukkan 80 persen warga Jerman menilai arus imigrasi selama satu dekade terakhir terlalu tinggi.


Negara-Negara Eropa Hentikan Klaim Suaka Suriah

Pasca tergulingnya Presiden Suriah Bashar al-Assad pada Desember 2024, sejumlah negara Eropa—termasuk Jerman, Inggris, dan Prancis—menangguhkan keputusan atas klaim suaka bagi warga Suriah.

PBB melaporkan pada September bahwa sekitar 1 juta warga Suriah telah kembali ke negaranya sejak jatuhnya rezim Assad, namun jumlah itu baru seperempat dari total 4,7 juta pengungsi Suriah yang tinggal di negara tetangga seperti Turki dan Lebanon.

Dalam laporan 24 September, UNHCR menyebut sebagian besar pengungsi tidak berencana kembali ke Suriah dalam setahun ke depan, karena keterbatasan lapangan kerja, perumahan yang buruk, serta kekhawatiran terhadap keamanan dan keselamatan.

Sementara itu, pada 18 September, Tom Fletcher, wakil sekretaris jenderal urusan kemanusiaan PBB, menegaskan bahwa “meski perubahan besar tengah berlangsung di Suriah, negara itu masih menjadi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia—lebih dari 70 persen penduduknya membutuhkan bantuan kemanusiaan.”

Menurut data PBB, sekitar 9 juta orang di Suriah mengalami kerawanan pangan akut, dan 7 juta lainnya masih mengungsi di dalam negeri.


Deportasi Warga Suriah dengan Catatan Kriminal

Merz juga mengungkapkan pada 3 November bahwa ia telah mengundang pemimpin Suriah, Ahmed al-Sharaa, ke Jerman untuk membahas rencana pemulangan warga Suriah yang memiliki catatan kriminal.

“Kami tentu akan terus mendeportasi para pelaku kriminal ke Suriah. Itu sudah menjadi rencana kami, dan kini akan segera kami laksanakan secara konkret,” ujar Merz.

Ia menambahkan bahwa pemerintah Jerman akan membantu menstabilkan Suriah yang porak-poranda akibat perang, dan akan berdiskusi dengan al-Sharaa mengenai “bagaimana kita bisa menyelesaikan hal ini bersama.”

Rezim Assad runtuh pada Desember 2024 setelah lebih dari satu dekade perang saudara yang berawal dari Gelombang Musim Semi Arab 2011, serangkaian demonstrasi pro-demokrasi di kawasan Timur Tengah.
Kelompok pemberontak Islamis Hayat Tahrir al-Sham mengambil alih ibu kota Damaskus, menandai berakhirnya 54 tahun kekuasaan keluarga Assad.

(Laporan tambahan oleh Owen Evans dan Reuters)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine