Pada 7 November 2025, Korea Utara kembali meluncurkan sebuah proyektil yang diduga merupakan rudal balistik ke arah laut timur. Militer Korea Selatan mendeteksi rudal tersebut terbang sejauh lebih dari 700 kilometer. Setelah menerima laporan, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyampaikan kepada media bahwa rudal itu “diperkirakan jatuh di luar Zona Ekonomi Eksklusif (EEZ) Jepang,” dan sejauh ini belum ada laporan mengenai kerusakan atau korban. Badan intelijen Korea Selatan dan Amerika Serikat saat ini sedang melakukan analisis mendetail terhadap data teknisnya.
EtIndonesia. Menurut laporan Yonhap News, Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS) menyatakan bahwa militer mendeteksi peluncuran tersebut sekitar pukul 12.35 waktu setempat dari wilayah Daegwan-gun, Provinsi Pyongan Utara, ke arah laut timur.
Rudal itu dilaporkan terbang sejauh sekitar 700 kilometer menuju sebuah pulau tak berpenghuni di lepas pantai Gyeongseong-gun, Provinsi Hamgyong Utara.
Pihak JCS menuturkan, rudal yang ditembakkan kemungkinan adalah KN-23, yang dikenal sebagai versi Korea Utara dari rudal Rusia “Iskander.” Karena rudal tersebut tampak mengalami pendakian ulang di fase akhir penerbangan, militer juga tidak menutup kemungkinan bahwa itu adalah rudal hipersonik “Hwasong-11U,” yang dilengkapi hulu ledak berbentuk kendaraan luncur hipersonik (HGV).
JCS menambahkan bahwa intelijen Korea Selatan dan Amerika Serikat telah terlebih dahulu memantau tanda-tanda aktivitas peluncuran, dan segera melacak begitu rudal itu ditembakkan. Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Jepang juga berbagi informasi intelijen secara erat terkait kejadian ini.
Menurut laporan Nikkei (Nihon Keizai Shimbun), Perdana Menteri Sanae Takaichi di Kantor Perdana Menteri telah mengeluarkan tiga instruksi, yakni:
- Memerintahkan kementerian terkait untuk memberikan informasi kepada publik,
- Menjamin keselamatan pesawat dan kapal Jepang, serta
- Melakukan segala persiapan guna menghadapi kemungkinan situasi darurat.
Sementara itu, NHK melaporkan bahwa ini merupakan keenam kalinya sepanjang tahun 2025 Korea Utara meluncurkan rudal atau benda yang diduga sebagai rudal, dan yang pertama sejak 22 Oktober lalu.
Pada 22 Oktober, Korea Utara sebelumnya juga menembakkan beberapa rudal balistik. Sehari setelahnya, Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) mengklaim bahwa Pyongyang telah melakukan uji coba dua rudal hipersonik.
Analis menilai, peluncuran rudal kali ini kemungkinan merupakan respons terhadap serangkaian sanksi baru dari Amerika Serikat terhadap Korea Utara.
Pada 4 November (waktu setempat), Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi terhadap 8 warga Korea Utara dan 2 entitas berbasis di Korea Utara yang terlibat dalam pencucian uang dari hasil kejahatan siber rezim Pyongyang. Sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS juga menyatakan akan meminta Komite Sanksi Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan sanksi terhadap 7 kapal milik pihak ketiga yang diduga mengekspor batu bara dan bijih besi Korea Utara ke Tiongkok.
Selain itu, mengingat jarak tembak rudal mencapai sekitar 700 kilometer, beberapa pengamat menduga bahwa peluncuran tersebut mungkin dimaksudkan sebagai peringatan terhadap kehadiran kapal induk bertenaga nuklir AS, USS George Washington, yang berlabuh di Pangkalan Operasi Angkatan Laut Busan pada 5 November lalu. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


