Ledakan Ganda Guncang Masjid SMAN 72 Jakarta, Lukai 55 Orang

EtIndonesia. Aparat pada Jumat (7/11/2025) menyatakan telah mengidentifikasi seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun sebagai tersangka dalam serangan yang mengguncang sebuah masjid di SMAN 72 Jakarta Utara. Insiden tersebut menyebabkan sedikitnya 54 orang terluka. Mereka sebagian besar adalah pelajar.

Para saksi mata mengatakan kepada stasiun televisi lokal bahwa mereka mendengar  dua ledakan keras sekitar tengah hari, tepat ketika khotbah Jumat baru saja dimulai. Ledakan berasal dari dalam dan luar masjid di SMAN 72, sebuah sekolah negeri yang berada di dalam kompleks TNI Angkatan Laut Kodamar di  Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Para siswa dan jamaah lain berlarian panik saat asap abu-abu memenuhi masjid.

Dikutip dari Associated Press, polisi mengatakan mereka menemukan sebuah senjata mainan jenis senapan otomatis milik tersangka yang bertuliskan slogan-slogan supremasi kulit putih. Namun, polisi menepis spekulasi bahwa ledakan tersebut merupakan serangan teror.

“Tersangkanya adalah seorang siswa laki-laki berusia 17 tahun yang saat ini sedang menjalani operasi,” kata Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad kepada wartawan setelah menjenguk para korban di rumah sakit. Ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengatakan tersangka adalah satu dari dua siswa yang menjalani operasi akibat luka-luka dari ledakan tersebut.

“Petugas kami saat ini sedang melakukan penyelidikan mendalam untuk menentukan identitas tersangka dan lingkungan tempat tinggalnya, termasuk rumahnya dan orang-orang di sekitarnya,” ujar Sigit dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan Jakarta.

Sigit mengatakan, penyidik masih mengumpulkan informasi untuk menentukan motif pelaku, termasuk bagaimana tersangka bisa merakit senjata mainan dengan tulisan seperti “14 words. For Agartha,” dan “Brenton Tarrant: Welcome to hell.”

Istilah “14 words” umumnya merujuk pada slogan supremasi kulit putih, sementara Brenton Tarrant adalah pelaku penembakan massal pada tahun 2019 di sebuah masjid dan pusat Islam di Christchurch, Selandia Baru, yang menewaskan 51 orang dan melukai puluhan lainnya.

“Kami menemukan bahwa senjata tersebut adalah senjata mainan dengan tanda-tanda khusus, yang juga sedang kami selidiki untuk memahami motifnya, termasuk bagaimana ia merakitnya dan melancarkan serangan itu,” kata Sigit.

Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri menuturkan, sebagian besar korban mengalami luka bakar dan luka akibat pecahan kaca yang beterbangan. Jenis bahan peledak yang digunakan belum diketahui secara pasti, tetapi ledakan berasal dari dekat pengeras suara masjid.

Ia memperingatkan masyarakat agar tidak berspekulasi bahwa insiden ini adalah serangan teror sebelum penyelidikan polisi selesai.

Polisi mengonfirmasi bahwa mereka sedang menyelidiki laporan di media lokal yang menyebutkan bahwa tersangka adalah siswa kelas 12 yang telah menjadi korban perundungan (bullying). Si pelaku ingin membalas dendam dengan melakukan apa yang tampaknya merupakan serangan bunuh diri.

“Kami masih menyelidiki kemungkinan bahwa perundungan menjadi faktor yang memotivasi tersangka untuk melakukan serangan tersebut,” kata juru bicara Polda Metro Jaya, Budi Hermanto, kepada wartawan pada Jumat malam.

“Ada beberapa kendala dalam memperoleh keterangan dari para saksi karena mereka juga merupakan korban yang memerlukan perawatan medis untuk pulih,” ujar Hermanto, seraya menambahkan bahwa pihak berwenang sedang memberikan ‘pemulihan trauma’ (trauma healing) bagi para siswa dan guru.

Ia memperbarui jumlah korban luka menjadi 54 orang, bukan 55 seperti yang disebutkan polisi sebelumnya, dengan penjelasan bahwa sebagian besar korban berdiri dekat pengeras suara dan mengalami gangguan pendengaran akibat ledakan di dalam masjid. Sekitar 33 siswa masih dirawat di dua rumah sakit karena luka bakar dan luka akibat serpihan ledakan.

Hermanto menegaskan bahwa ibu kota berada dalam kondisi aman dan situasi keamanan terkendali, serta mengimbau masyarakat untuk tidak cemas.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan puluhan siswa berseragam sekolah berlari panik melintasi lapangan basket sekolah, beberapa menutup telinga dengan tangan mereka, tampaknya untuk melindungi diri dari suara ledakan.

Beberapa korban luka tampak dibawa dengan tandu ke mobil-mobil yang sudah menunggu.

Kerabat para korban yang shock berkumpul di posko-posko yang didirikan di Rumah Sakit Yarsi dan Cempaka Putih untuk mencari informasi tentang anggota keluarga mereka. 

Para orang tua mengatakan kepada stasiun televisi bahwa anak-anak mereka mengalami luka di kepala, kaki, dan tangan akibat terkena paku tajam serta serpihan benda yang meledak. (***)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine