EtIndonesia. Israel pada Jumat (7/11/2025) menggelar upacara pemakaman untuk Omar Neutra, seorang sandera berkewarganegaraan ganda Amerika–Israel. Hingga saat ini, enam jenazah sandera lainnya masih ditahan di Gaza. Sementara itu, Israel melancarkan serangan besar terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon selatan, menyebabkan ketegangan antara kedua pihak kembali meningkat.
Israel Melepas Kepergian Sandera yang Tewas
Upacara pemakaman Kapten Omar Neutra, sandera warga AS–Israel, digelar di Tel Aviv. Warga Israel dan sejumlah pejabat menghadiri acara tersebut untuk memberikan penghormatan terakhir.
“Saya ingin menegaskan kembali bahwa masyarakat internasional harus bersatu untuk membela nilai-nilai kemanusiaan. Prioritas utama saat ini adalah membantu semua sandera yang masih ditahan agar bisa pulang dengan selamat dan dimakamkan dengan layak,” kata Presiden Israel Isaac Herzog.
Jenderal Bradley Cooper, Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), menyampaikan: “Saat kita memakamkan Omar di tanah yang ia bela, misi kita belum selesai.
Masih ada enam jiwa yang tertahan di Gaza, dan keluarga mereka juga menantikan saat untuk mengucapkan selamat tinggal.”
Militer Israel menyatakan bahwa pada 7 Oktober dua tahun lalu, Neutra gugur ketika mempertahankan wilayah Israel dari serangan Hamas. Jenazahnya kemudian diculik dan dibawa ke Gaza, baru dikembalikan pada Minggu lalu.
Upaya Diplomatik dan Serangan di Lebanon
Sementara itu, AS dan sejumlah pihak mediator tengah mendesak Israel untuk memberikan jalur aman bagi sekitar 150 pejuang Hamas yang terjebak di jaringan terowongan bawah tanah Gaza, sebagai imbalan agar mereka menyerahkan senjata.
Steve Witkoff, utusan khusus Presiden Trump untuk Timur Tengah, mengatakan pada Kamis (6 November) bahwa ia telah berkoordinasi dengan Israel dan Turki mengenai hal ini.
Pada hari yang sama, konflik antara Israel dan Hizbullah kembali memanas. Israel melancarkan serangan udara terhadap beberapa target Hizbullah di Lebanon selatan, setelah sebelumnya memperingatkan warga setempat untuk mengungsi.
Rekaman video menunjukkan serangkaian ledakan besar di wilayah Lebanon, dengan cahaya api menerangi langit malam dan kepulan asap tebal membubung.
“Serangan ini bertujuan untuk mencegah Hizbullah memulihkan kekuatan militernya. Israel akan terus mempertahankan setiap perbatasannya dan menuntut implementasi penuh atas perjanjian gencatan senjata Lebanon–Israel. Kami tidak akan membiarkan Hizbullah kembali bersenjata dan menjadi ancaman bagi Israel. Aksi teror mereka jelas melanggar semangat perjanjian gencatan senjata,” kata Juru bicara pemerintah Israel, Peter Bedrosian,.
Israel dan Hizbullah sebelumnya menandatangani perjanjian gencatan senjata pada November tahun lalu, mengakhiri perang besar yang telah berlangsung selama beberapa bulan.
Trump Umumkan Kazakhstan Akan Bergabung dengan “Perjanjian Abraham”
Presiden AS Donald Trump pada Kamis (6 November) mengumumkan bahwa Kazakhstan akan segera bergabung dengan “Perjanjian Abraham”, dan menjadi negara Muslim terbaru yang menjalin hubungan diplomatik resmi dengan Israel.
Dalam unggahan di platform media sosialnya, Truth Social, Trump menulis: “Langkah ini baru permulaan — ini adalah langkah besar untuk membangun jembatan perdamaian di dunia.”
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menambahkan bahwa perjanjian tersebut tidak hanya mencakup kerja sama diplomatik, tetapi juga akan diperluas ke berbagai bidang kerja sama nyata lainnya. (Hui/asr)
Laporan oleh: Zhao Fenghua, reporter NTDTV


