EtIndonesia. Beberapa minggu terakhir, Rusia berturut-turut menguji berbagai rudal nuklir dan torpedo super bertenaga nuklir, sekaligus memperketat serangan ke kota tambang batu bara Pokrovsk . Pasukan Ukraina terus mengalami kemunduran di medan perang, menimbulkan kekhawatiran bahwa perang Rusia–Ukraina mungkin mulai lepas kendali.
Untungnya, sistem rudal pertahanan Patriot mulai tiba di Ukraina, yang membuat Presiden Volodymyr Zelensky mengucapkan rasa terima kasihnya. Namun, di tengah meningkatnya uji coba senjata nuklir oleh Tiongkok, Korea Utara, dan Rusia, Amerika Serikat pun memutuskan mengakhiri pembekuan uji coba nuklir yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Pertempuran di Musim Dingin ke-4
Memasuki musim dingin keempat perang, fasilitas energi Ukraina terus menjadi sasaran serangan. Di kota Pokrovsk di wilayah Donetsk, bendera Ukraina masih berkibar, tetapi Rusia telah mengirimkan tiga korps besar — sekitar 100.000 tentara — dengan tekad kuat untuk merebut kota itu.
Presiden Zelensky mengatakan bahwa dari garis depan perang sepanjang 1.250 km, Pokrovsk adalah wilayah yang paling sulit dipertahankan. Pada 7 November, pasukan Rusia juga dilaporkan berkumpul di dekat kota perbatasan Vovchansk, menambah kerumitan situasi.
Zelensky: “Situasi di Pokrovsk sangat berat. Semua pasukan mereka ada di sana. Sekitar 170.000 tentara musuh terkonsentrasi di arah itu.”
Selain Pokrovsk, beberapa kota besar Ukraina terus berada di bawah bayang-bayang perang, dengan jumlah korban tewas dan luka yang meningkat. Sebuah supermarket besar seluas 2.000 meter persegi dilaporkan hangus terbakar akibat serangan udara.
Rudal dan Senjata Baru Rusia
Zelensky mengungkapkan bahwa Rusia menembakkan ratusan drone dan rudal berbagai jenis dalam beberapa minggu terakhir. Rusia juga menggunakan rudal jelajah darat 9M729, dengan jangkauan hingga 2.500 km dan kemampuan membawa hulu ledak nuklir.
Pada 2019, Presiden AS Donald Trump menarik diri dari Perjanjian INF (Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty) karena Rusia mengembangkan rudal yang melanggar ketentuan jarak maksimal 500 km tersebut. Namun, Rusia tetap membantah telah melanggar perjanjian itu.
Zelensky juga mendesak Eropa untuk segera membekukan aset Rusia dan menegaskan bahwa sektor energi nuklir Rusia belum tersentuh sanksi.
Uji Coba Nuklir dan Perlombaan Senjata
Dalam beberapa minggu terakhir, Rusia terus mengumumkan berita terkait uji coba senjata nuklir, termasuk peluncuran rudal jelajah bertenaga nuklir “Burevestnik” (kode 9M730) dan torpedo super bertenaga nuklir “Poseidon”.
Meskipun tingkat keberhasilannya tidak tinggi, Rusia mengklaim bahwa lintasan terbang Burevestnik tidak dapat diprediksi dan tidak bisa dicegat bahkan oleh Amerika Serikat.
Pada 6 November, Presiden Donald Trump memerintahkan militer AS untuk melanjutkan uji coba nuklir pertama dalam 33 tahun terakhir. Namun, ia belum menyetujui pengiriman rudal Tomahawk ke Ukraina.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov membantah bahwa Burevestnik adalah uji coba nuklir Rusia, dengan mengatakan bahwa semua negara sedang mengembangkan sistem pertahanan, dan Rusia “tidak tahu negara mana yang benar-benar melakukan uji coba senjata nuklir.”
Reaksi Dunia dan Sikap NATO
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, mengatakan pada 6 November bahwa Rusia kini bekerja sama erat dengan Tiongkok, Korea Utara, dan Iran dalam industri pertahanan, dan bahwa kerja sama ini mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Rusia adalah sumber ketidakstabilan bagi Eropa dan dunia. Eropa tidak boleh terlalu naif atau lengah,” kata Rutte dalam sebuah forum keamanan.
Bantuan untuk Ukraina
Sementara itu, sanksi ke-19 Uni Eropa terhadap Rusia sudah mulai berlaku. Lebih banyak sistem rudal Patriot sedang dikirim ke Ukraina.
Jepang berjanji akan membantu Ukraina dalam sektor energi agar dapat bertahan melewati musim dingin kali ini, sedangkan Swedia menandatangani perjanjian dengan Ukraina untuk mengembangkan teknologi militer baru di medan perang.
Zelensky juga mengumumkan rencana sanksi baru terhadap proyek eksplorasi sumber daya Rusia di Arktik, yang setiap tahunnya menghasilkan puluhan miliar dolar bagi Moskow.
Posisi Hungaria dan Ekonomi Rusia
Pada 7 November, Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán. Selain membahas hubungan dagang dan pertemuan tingkat tinggi di Budapest, Trump juga memutuskan untuk tidak menjatuhkan sanksi terhadap Hungaria yang masih membeli energi dari Rusia.
Trump mengatakan: “Viktor (Orbán) yakin bahwa perang ini akan segera berakhir.”
Orbán menjawab: “Saya sangat percaya perang ini akan segera berakhir, tapi pertanyaannya: apakah Barat bisa tetap bersatu?”
Hungaria adalah salah satu dari sedikit negara Uni Eropa yang berpendapat bahwa perang hanya bisa berakhir jika Ukraina mau berkompromi. Negara ini tidak memiliki cadangan energi yang cukup dan sangat bergantung pada pasokan dari Rusia.
Sementara itu, Lukoil, salah satu perusahaan minyak terbesar Rusia, baru saja menjual aset-aset internasionalnya, sedangkan perusahaan kilang milik negara India HMEL (HPCL-Mittal) menghentikan pembelian minyak Rusia sejak akhir Oktober. Uni Eropa juga menargetkan mengakhiri impor gas alam Rusia sepenuhnya pada akhir 2027. (Hui)
Laporan gabungan NTD Weekly News oleh Lin Chao dan Yu Wei


