EtIndonesia. Serangan besar-besaran kembali mengguncang wilayah Rusia pada 9 November 2025. Pasukan Ukraina melancarkan operasi terpadu yang menyasar jantung industri militer dan energi Rusia, termasuk fasilitas terkait nuklir di bawah kendali Rosatom, pembangkit listrik di Taganrog, hingga depot minyak di Krimea dan pelabuhan Tuapse di Laut Hitam. Langkah ini menandai eskalasi signifikan dalam strategi serangan jarak jauh Ukraina yang ditujukan untuk melemahkan kemampuan logistik dan pasokan bahan bakar pasukan Rusia menjelang puncak musim dingin.
Serangan ke Fasilitas Nuklir Rusia
Pada 9 November pagi, pasukan sabotase Ukraina menyerang gardu listrik di kompleks tenaga nuklir Shatura, fasilitas penting milik anak perusahaan Rosatom. Walau tidak sepenuhnya menghentikan operasi perusahaan, serangan ini menyebabkan gangguan besar pada sistem sirkuit dan kontrol otomatis, memaksa sebagian jalur produksi dihentikan sementara.
Fasilitas tersebut dikenal memproduksi komponen vital teknologi nuklir Rusia, termasuk perangkat inti hulu ledak dan sistem pengayaan uranium. Lokasinya berada di Novo-Uralsk, sebuah kota tertutup dengan izin akses terbatas yang secara administratif termasuk dalam zona strategis Rusia.
Ledakan di Taganrog dan Kebakaran di Yekaterinburg
Masih pada tanggal yang sama, serangkaian ledakan dahsyat mengguncang beberapa pembangkit listrik di Taganrog, kota industri di barat daya Rusia. Api terus menyala hingga pagi keesokan harinya sebelum berhasil dikendalikan oleh petugas pemadam. Sehari sebelumnya, 8 November malam, kebakaran besar juga terjadi di pabrik strategis Yekaterinburg, menimbulkan kobaran api yang terlihat hingga puluhan kilometer jauhnya.
Serangan Udara di Tuapse dan Krimea
Pada malam 9 November, Ukraina melanjutkan serangan udara terhadap pelabuhan minyak Tuapse di pesisir Laut Hitam. Rekaman warga memperlihatkan sistem anti-pesawat Rusia menyalak tiada henti, berupaya menembak jatuh drone yang datang dari arah laut. Namun beberapa drone Ukraina berhasil menembus pertahanan dan menghantam area penyimpanan bahan bakar, memicu ledakan besar.
Tuapse merupakan salah satu pelabuhan ekspor minyak paling vital Rusia, yang menyalurkan hasil produksi dari ladang-ladang minyak Kaukasus. Pada hari yang sama, Ukraina juga menggempur Semenanjung Krimea, terutama di sekitar Simferopol, dengan target utama depot minyak Khvaldyisky, fasilitas pasokan utama bagi operasi militer Rusia di selatan.
Serangan Balasan Rusia: 500 Rudal dan Drone
Sebagai respons, Rusia melancarkan serangan balasan masif pada malam 7–8 November, menembakkan lebih dari 500 rudal dan drone ke berbagai infrastruktur energi Ukraina. Tujuannya jelas: melumpuhkan sistem listrik nasional Ukraina menjelang puncak musim dingin, sebuah strategi klasik untuk memukul moral sipil sekaligus memperlambat logistik militer.
Pertahanan Udara Ukraina Kembali Teruji
Ukraina menangkis sebagian besar serangan tersebut berkat dukungan sistem pertahanan NATO. Dalam video resmi yang dirilis Kementerian Pertahanan Ukraina, tampak sistem anti-drone “Dzhura” buatan Inggris aktif di garis depan, berhasil mencegat rudal Rusia tipe KH-59 dan KH-101.
Sistem Dzhura dilengkapi radar, sensor elektro-optik, dan stasiun senjata jarak jauh yang mampu menembak dengan meriam 30 mm atau senapan berat 12,7 mm. Rekaman lain menunjukkan helikopter Ukraina memburu drone Shahed (Geran-2) di langit malam—menandakan perang udara kini berlangsung hampir tanpa henti di atas garis depan.
Pertempuran Darat di Red Army Village (Pokrovsk)
Di darat, situasi di Pokrovsk—atau dikenal sebagai Red Army Village—masih menjadi titik terpanas. Rusia berhasil menembus sebagian area selatan kota dan kini terlibat pertempuran jarak dekat di dalam pemukiman padat.
Dua jalur utama serangan Rusia terdeteksi:
- Dari jalan raya M30 ke arah barat laut untuk memutus jalur bantuan Ukraina.
- Dari pusat kota menuju utara dan timur, untuk menyatukan pasukan dari sisi timur laut.
Desa Mirnohhrad, di timur Pokrovsk, kini dikepung dari empat arah. Brigade Marinir ke-38 dan Brigade Serbu Udara ke-25 Ukraina bertahan keras di wilayah tersebut, sementara pasukan cadangan membentuk garis pertahanan baru di utara.
Video resmi Brigade Mekanis Independen ke-155 memperlihatkan artileri presisi Ukraina menghantam posisi Rusia siang dan malam. Meski begitu, setiap kemajuan Rusia dibayar dengan korban besar di kedua pihak.
Pernyataan Panglima Tertinggi Ukraina
Dalam konferensi pers 9 November 2025, Jenderal Oleksandr Syrskyi menegaskan bahwa situasi di Pokrovsk masih dalam kendali. Ia menyebut Ukraina telah menyiapkan rencana cadangan B dan C, jika jalur logistik benar-benar terputus.
Menurutnya, sejak Oktober, Rusia telah kehilangan lebih dari 30.000 prajurit, meski masih mempertahankan kekuatan hingga 50.000 pasukan di sektor tersebut.
Syrskyi menegaskan, mundur dari Pokrovsk hanyalah opsi terakhir—strateginya adalah menguras tenaga Rusia sebanyak mungkin sebelum melakukan reposisi taktis.
Pokrovsk Nyaris Rata dengan Tanah
Rekaman terbaru menunjukkan tank Leopard 2A4 Ukraina menembaki bangunan yang dikuasai Rusia. Kota yang dulunya berpenduduk 100.000 jiwa kini tinggal puing-puing. Tank Leopard kini dilengkapi pelindung anti-drone dan reactive armor buatan dalam negeri.
Unit pengguna Leopard diyakini berasal dari Brigade Mekanis Independen ke-54, satuan elite yang berpengalaman sejak pertempuran Bakhmut 2014. Brigade ini memiliki struktur lengkap—tiga batalyon infanteri mekanis, satu batalyon tank, dan resimen artileri dengan sistem self-propelled serta roket multi-laras.
Serangan Balasan Rusia di Kupiansk
Di sektor utara, Rusia juga meningkatkan tekanan di Kupiansk. Drone tempur Rusia menyerang kendaraan militer Ukraina hanya 19 detik setelah lepas landas, menandakan jarak pertempuran yang kini tinggal puluhan meter.
Kupiansk terbagi oleh Sungai Oskil—Ukraina mempertahankan sisi timur untuk menahan laju Rusia. Jembatan-jembatan di atas sungai terus dihantam rudal dan artileri, membuat logistik Ukraina semakin sulit.
Rusia kini menekan dari utara dan barat laut, berupaya memutus jalur suplai utama menuju Kupiansk.
Analisis Akhir
Serangan pada 9 November 2025 menjadi salah satu operasi paling terkoordinasi yang pernah dilakukan Ukraina—memadukan sabotase darat, serangan udara, dan peperangan elektronik.
Sementara Ukraina berhasil mengguncang fondasi energi dan militer Rusia, di garis depan mereka menghadapi tekanan luar biasa di Pokrovsk dan Kupiansk.
Para analis memperkirakan, jika Rusia benar-benar menguasai Pokrovsk, fokus pertempuran akan segera bergeser ke Kupiansk—membuka jalan bagi Moskow untuk merebut kendali penuh atas wilayah Luhansk.
Musim dingin kali ini tampaknya akan menjadi babak paling menentukan dalam perang Rusia–Ukraina yang kini memasuki hari ke-1.354.


