EtIndonesia. Kereta melaju menembus pegunungan yang terjal. Saat itu tengah malam, sebagian besar penumpang telah tertidur pulas. Di saat semua tampak tenang, seorang pemuda berpakaian rapi diam-diam menyelinapkan tangannya ke saku seorang penumpang. Tak lama kemudian, dia berhasil mencopet dompetnya.
Namun ketika hendak kabur, seorang petugas kereta yang sedang berpatroli di gerbong sebelah melihatnya dan segera mengejarnya. Sang pencopet terpaksa berlari menuju gerbong kereta makan.
Kereta makan benar-benar sunyi. Hanya ada seorang anak laki-laki lusuh, rambut kusut, yang sedang merangkak di bawah meja untuk mengumpulkan botol-botol minuman kosong.
Pencopet itu tahu betul: setelah kereta makan adalah gerbong tempat tidur. Jika dia masuk ke sana, dirinya akan terjebak. Artinya, dia harus lolos dari pengejaran sekarang—jika tidak, dia tak punya jalan keluar.
Dia sempat mempertimbangkan untuk melompat turun dari kereta, tetapi kereta melaju begitu cepat. Melompat berarti mati berantakan.
Dengan panik dia menoleh. Petugas yang mengejarnya berhenti, kini berdiri menghalangi satu-satunya jalan kabur, sambil berbicara ke walkie-talkie untuk memanggil petugas lain. Jelaslah—dia tak punya peluang melarikan diri.
Tepat pada saat putus asa itu, kereta mengerem mendadak. Ini seperti peluang dari langit.
Pencopet itu segera melompat ke jendela yang terbuka lebar. Tubuhnya sudah setengah berada di luar jendela. Di luar gelap gulita. Angin dingin membuatnya merinding. Justru saat dia bersiap-siap melonca.
Teriakan itu Mengubah Segalanya
Dari dalam gerbong tiba-tiba terdengar teriakan mengerikan: “Aduh! Mataku… mataku!”
Bahunya refleks menegang. Dia menoleh.
Anak kecil yang tadi memungut botol kini memegangi wajahnya yang berlumuran darah. Saat kereta mengerem, dia terantuk botol kaca, membuat botol itu pecah. Pecahannya menusuk wajah dan melukai kedua matanya.
Anak itu tak bisa melihat apa pun. Darah hangat mengucur di sela jari-jarinya. Dia menangis, merintih, dan ketakutan sepenuhnya.
Di gerbong itu, hanya ada dua manusia: Anak kecil yang sekarat… dan pencopet.
Pilihan dalam Sepersekian Detik
Pencopet itu ragu sesaat. Di depannya jendela adalah jalan keluar. Kesempatan untuk kabur hanya tinggal hitungan detik.
Tetapi kemudian—dia menarik kembali kakinya dari jendela. Dia berbalik, mengangkat anak yang penuh darah itu, dan berlari menuju arah petugas—tempat ruang medis kereta berada.
Anak itu akhirnya selamat. Dan pencopet itu pun langsung diborgol oleh polisi kereta.
Percakapan yang Menggetarkan
Di ruang petugas, polisi bertanya dengan bingung: “Kamu jujur saja. Tadi kamu sebenarnya bisa kabur dengan melompat. Mengapa kamu memilih menyelamatkan anak itu?”
Pencopet itu gemetar, lalu berkata lirih: “Karena… karena aku dulu juga seperti dia. Seorang anak kotor yang mengumpulkan botol di kereta. Tidak ada yang peduli… tidak ada yang mau menolong…”
Jawaban itu membuat polisi terdiam.
Kemudian polisi menatapnya lekat-lekat dan berkata: “Untung kamu tidak lompat. Kamu tahu apa? Tepat di bawah jendela tempat kamu akan melompat itu… jurang ratusan meter! Jika tadi kamu melompat, kamu pasti mati seketika.”
Tubuh pencopet itu langsung lemas. Sebuah keputusan kecil yang lahir dari belas kasih—tidak hanya menyelamatkan anak itu— tapi juga menyelamatkan nyawanya sendiri.(jhn/yn)


