EtIndonesia. Taliban Pakistan (TTP) telah mengklaim bertanggung jawab atas bom bunuh diri di Islamabad yang menewaskan sedikitnya 12 orang pada hari Selasa (11/11).
“Pejuang kami menyerang komisi yudisial di Islamabad. Hakim, pengacara, dan pejabat yang menjalankan putusan berdasarkan hukum Pakistan yang tidak Islami menjadi sasaran,” kata kelompok itu. Mereka mengancam akan melakukan lebih banyak serangan hingga hukum Islam diterapkan di negara itu.
Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi mengatakan bahwa beberapa orang tewas setelah penyerang meledakkan bahan peledak di dekat kendaraan polisi.
Mohammed Shahzad Butt, seorang pengacara dan saksi mata, mengatakan kepada AFP: “Semua orang berlarian ke dalam karena panik. Saya melihat setidaknya lima mayat tergeletak di gerbang depan.”
Pengacara lain, Rustam Malik, mengatakan bahwa dia mendengar “ledakan keras” di gerbang saat dia memasuki kompleks tersebut.
“Kekacauan total, pengacara dan orang-orang berlarian di dalam kompleks. Saya melihat dua mayat tergeletak di gerbang dan beberapa mobil terbakar,” katanya.
Ini terjadi setelah ledakan mobil di Delhi pada hari Senin, yang menewaskan 9 orang dan melukai 20 orang.
Serangan bunuh diri terakhir di Pakistan terjadi pada Desember 2022. Namun, kini negara itu mengalami peningkatan serangan dan para pejabat menyalahkan kelompok bersenjata yang diduga berlindung di tanah Afghanistan.
Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, mengatakan bahwa serangan bunuh diri itu harus dilihat sebagai “seruan untuk bangun”.
“Dalam situasi seperti ini, sia-sia saja berharap negosiasi yang berhasil dengan para penguasa Kabul dapat terwujud,” tulisnya.
Pada bulan Oktober, Pakistan dan Afghanistan terlibat dalam bentrokan besar yang dipicu oleh serangan baru-baru ini. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 70 orang tewas di kedua belah pihak, termasuk 50 warga sipil Afghanistan. (yn)


