Wabah Flu di Tiongkok Meningkat Tajam, Permintaan Obat Antivirus Melonjak

Wabah flu di Tiongkok meningkat tajam dalam beberapa waktu terakhir. Virus influenza tipe A H3N2 menyebar dengan cepat. Bahkan, produsen obat antivirus seperti oseltamivir (Tamiflu) melaporkan bahwa pabrik mereka kini beroperasi 24 jam tanpa henti. Para ahli memperingatkan bahwa risiko infeksi ganda oleh berbagai jenis virus juga semakin tinggi.

EtIndonesia. Pada 10 November 2025, seorang peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Tiongkok menyatakan dalam konferensi pers bahwa puncak wabah flu kali ini diperkirakan terjadi antara pertengahan Desember hingga awal Januari tahun depan.

Data pemantauan menunjukkan bahwa aktivitas flu di Tiongkok saat ini sedang meningkat, dengan virus H3N2 menyumbang lebih dari 95% kasus. Selain itu, juga terdapat sejumlah kecil virus H1N1 dan influenza tipe B yang turut beredar.

Di ruang gawat darurat rumah sakit besar, flu kini menjadi penyakit menular paling dominan. Seiring meningkatnya kasus, permintaan terhadap obat antivirus melonjak tajam. Perusahaan yang memproduksi oseltamivir melaporkan bahwa sejak pertengahan Oktober, penjualan obat terus meningkat, dan beberapa produsen kini mengoperasikan produksi 24 jam nonstop.

Selain itu, perusahaan pembuat inhibitor RNA polymerase juga menyatakan tengah mempercepat produksi komersial untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Profesor Liu, dari Akademi Pengobatan Tradisional Tiongkok di Kanada, mengatakan bahwa situasi flu di Tiongkok saat ini memang sangat serius, terutama pada kalangan lanjut usia, di mana sekitar 60% pasien mengalami infeksi paru-paru berat, yang dikenal dengan istilah “paru-paru putih”.

“Banyak pasien lansia tidak hanya terinfeksi oleh satu jenis patogen. Sebagian besar mengalami infeksi campuran — selain virus flu, juga ada virus-virus lain yang ikut aktif. Jadi satu jenis obat antivirus saja mungkin tidak cukup efektif. Karena itu, jangan menganggap enteng penyakit ini,” ujarnya. 

Sementara itu, Dr. Zhen Lixue, ahli kedokteran dari Universitas Okayama, Jepang, berpendapat bahwa penyebaran luas flu di Tiongkok bukan hanya karena virusnya, tetapi juga karena polusi lingkungan, masalah keamanan pangan, kondisi medis yang buruk, serta maraknya obat palsu dan obat berkualitas rendah.

“Sejak pandemi COVID-19, berbagai jenis penyakit menular terus bermunculan. Dalam kondisi seperti ini, sistem kekebalan tubuh manusia menjadi kacau dan lemah, sehingga lebih mudah terinfeksi. Dalam epidemiologi, kami menyebutnya ‘populasi rentan’. Karena itulah skala penyebaran penyakit bisa membesar,” katanya. 

Para ahli memperingatkan bahwa situasi flu saat ini sangat serius, dan masyarakat perlu melakukan pencegahan tepat waktu, terutama bagi anak-anak dan lansia. Bila muncul gejala seperti demam atau sesak napas, disarankan untuk segera mencari pertolongan medis. (Hui)

Laporan oleh Li Yun dan Qiu Yue, NTDTV

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine