Jembatan Besar Hongqi di Tiongkok  Runtuh, Para Ahli Menunjukkan Pemilihan Lokasi yang Mencurigakan

EtIndonesia. Pada 11 November 2025, Jembatan Besar Hongqi di Prefektur Aba, Provinsi Sichuan, terputus dan runtuh. Meskipun pihak berwenang mengklaim tidak ada korban jiwa, banyak pihak meragukan kebenaran tersebut. 

Fakta bahwa jembatan ini baru saja selesai dibangun tahun ini namun sudah ambruk, memunculkan kembali perhatian publik terhadap masalah korupsi dan proyek “tofu dregs” (kualitas buruk) di balik pembangunan infrastruktur rezim PKT.

Jembatan “di Awan” Ambruk Diselimuti Debu

Pada  11 November sore, langit di wilayah Baiwan, Kota Maerkang, Prefektur Aba, tertutup oleh awan debu tebal. Jembatan Raksasa Hongqi, yang dijuluki sebagai “jembatan di atas awan”, tiba-tiba runtuh dengan suara menggelegar.

Dalam video warga terdengar: “Jalan nasional tertutup lagi, dua arah macet total. Gunung ini sebentar lagi akan runtuh, suaranya bergemuruh!”

Dari video di internet terlihat, batuan besar berguguran dari lereng gunung di bawah jembatan, lalu tiang penopang dan bentangan jembatan di sisi gunung mulai patah satu per satu, jatuh ke sungai Jiaomuzu di bawahnya dan menimbulkan debu besar membumbung tinggi. Hanya separuh badan jembatan yang masih berdiri di tengah sungai.

Pakar Struktur: Pemilihan Lokasi Tidak Masuk Akal

“Kecelakaan ini diawali oleh longsor di lereng gunung, lalu jembatan runtuh.  Urutan ini penting. Dari bentuk lerengnya, jelas sekali itu daerah yang memiliki sejarah longsor. Jadi, membangun jembatan langsung melintasi lereng seperti itu adalah pilihan yang sangat aneh,” ujar Zhu Xueye, insinyur senior desain jembatan di AS.

Ia menambahkan,“Dari pandangan teknik saja, terlihat bahwa gunung kecil itu memiliki kemungkinan tinggi untuk longsor lagi. Menyambungkan jembatan ke gunung itu—dan menjadikannya penopang utama—adalah keputusan yang membingungkan.”

Diketahui bahwa jembatan sepanjang 758 meter ini baru selesai tersambung pada 14 Januari 2025, dan digadang-gadang sebagai proyek landmark daerah.

Zhu Xueye melanjutkan: “Gunung itu jelas adalah sisa dari longsoran sebelumnya, artinya kemungkinan longsor ulang sangat besar. Kemiringannya sangat curam—sekitar 45 hingga 60 derajat. Itu bisa longsor kapan saja. Jika lereng itu juga berfungsi sebagai bendungan penahan air, maka kondisinya lebih berbahaya lagi. Perubahan kadar air di dalam gunung dapat mengubah berat dan stabilitasnya. Bahkan jika tidak longsor, gunung itu bisa bergeser—dan itu sangat berisiko.”

Pemerintah Klaim Tak Ada Korban, Publik Tak Percaya

Pemerintah setempat mengeluarkan laporan resmi bahwa pada 11 November 2025 pukul 16.00 sore, karena deformasi struktur dan longsoran lereng, jalan dan jembatan runtuh, namun tidak ada korban jiwa.

Namun Zhu menilai: “Masalah ini bukan kesalahan para insinyur, melainkan masalah sistem Partai Komunis. Jika ditelusuri lebih dalam, kemungkinan besar ada korupsi di tingkat tinggi, ada penyaluran keuntungan pribadi, atau lembaga survei geoteknik yang tidak berpengalaman tapi tetap dilibatkan karena hubungan keluarga dengan pejabat lokal. Semua ini sangat mungkin terjadi.”

Pihak Departemen Propaganda Prefektur Aba dan pemerintah Kota Maerkang mengklaim bahwa retakan di jembatan sudah ditemukan sehari sebelumnya, sehingga jalan sudah ditutup sebelum runtuh.

Namun netizen menuduh bahwa kejadian ini murni kesalahan manusia, bukan bencana alam. Mereka mengkritik bahwa banyak insinyur diberhentikan, sistem pengawasan gagal, dan akhirnya proyek murahan pun roboh. Lebih ironis lagi, pemerintah malah memuji diri karena “menutup jalan lebih awal” sebagai prestasi.

Zhu menambahkan:“Di Tiongkok, banyak proyek seperti ini. Para insinyur tidak punya hak bicara, semua keputusan diambil secara politik. Sama seperti proyek besar lainnya—misalnya Bendungan Tiga Ngarai—itu bukan masalah teknis, melainkan keputusan politik. Karena itu, saya yakin pemilihan lokasi jembatan ini adalah titik penting. Jika diselidiki, pasti akan ada alasan ‘khusus’ mengapa dipilih tempat yang berisiko seperti itu.”

Pertanyaan Serius tentang Tanggung Jawab dan Kualitas Proyek

Laporan resmi pemerintah menyalahkan longsor dan retakan pada lereng sebagai penyebab utama. Namun beberapa pengamat teknologi mempertanyakan:

  • Mengapa jembatan yang baru selesai Januari ini tidak dapat mengantisipasi risiko longsor dalam tahap desain dan konstruksi?
  • Mengapa tidak dilakukan penguatan pada tebing di kedua sisi?
  • Apakah kondisi geologi benar-benar pernah diteliti?
  • Dan apakah di balik ambruknya jembatan ini ada kelalaian dan tanggung jawab yang ditutupi?

Zhu menegaskan: “Jika ditelusuri lebih dalam, akar masalahnya adalah politik dan korupsi sistemik. Partai Komunis telah merusak seluruh sistem sosial, termasuk birokrasi, lembaga pengawasan, dan rantai jasa konstruksi. Setelah semuanya rusak oleh korupsi, hasil akhirnya jelas: proyek-proyek bermasalah seperti ini tak bisa dihindari.”

Menurut Zhu, runtuhnya Jembatan Hongqi disebabkan oleh longsor pada fondasi gunung, namun meskipun ada kesalahan desain atau konstruksi, pemerintah PKT pasti akan menutup-nutupinya. (Hui)

Meng Xinqi/Yi Ru/Zhong Yuan

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine