EtIndonesia. Suatu hari, Albert Einstein pernah bertanya kepada matematikawan terkenal Hermann Minkowski:
“Bagaimana caranya agar seseorang bisa meninggalkan jejak gemilang dalam dunia sains maupun dalam perjalanan hidupnya sendiri? Bagaimana agar ia benar-benar bisa memberi kontribusi yang berarti bagi umat manusia?”
Minkowski hanya tersenyum tanpa menjawab. Ia kemudian mengajak Einstein berjalan-jalan menuju sebuah lokasi proyek bangunan yang sedang dikerjakan.
Begitu sampai, ia tanpa ragu melangkah ke atas lantai semen basah yang baru saja dituangkan para pekerja.
Tentu saja para pekerja langsung berteriak memarahinya.
Einstein pun kebingungan — ia tak paham apa maksud tindakan aneh gurunya itu.
Namun Minkowski berdiri tenang, lalu berkata dengan nada serius:
“Kau lihat ini, Einstein? Hanya dengan cara seperti inilah seseorang bisa meninggalkan jejak kakinya.
Hanya di tanah yang masih basah dan belum dikerjakan orang lain, seseorang dapat meninggalkan bekas langkah yang dalam.
Tapi bila kau berjalan di atas jalan yang sudah lama mengeras, yang sudah dilewati begitu banyak orang—kau tak akan pernah bisa meninggalkan bekas apa pun.”
Einstein terdiam lama, menatap lantai semen dengan penuh renungan.
Saat itu ia mulai memahami maknanya:
untuk menciptakan sesuatu yang baru, seseorang harus berani melangkah ke wilayah yang belum dijelajahi.
Beberapa tahun kemudian, dunia menyaksikan bagaimana Einstein benar-benar meninggalkan jejak cemerlangnya sendiri.
Ia menciptakan Teori Relativitas, meletakkan dasar bagi fisika modern, dan pada tahun 1921 dianugerahi Hadiah Nobel Fisika.
Namanya pun dikenang sebagai “Genius Abad Ini.”
Dalam banyak kesempatan, Einstein sering mengingat kembali peristiwa bersama gurunya itu.
Ia berkata dengan nada penuh makna:
“Jika sepanjang hidup kita hanya meniru apa yang telah dilakukan orang lain, maka tak akan pernah ada ilmu pengetahuan, tak akan ada teknologi, dan kemajuan pun mustahil terjadi.”
Penulis Prancis Stendhal pernah berkata: “Orang yang benar-benar jenius tidak akan menempuh jalur pemikiran orang biasa.”
Einstein adalah contoh sempurna dari kata-kata itu.
Keberaniannya untuk berpikir berbeda, menembus batas logika lama, dan menyusuri wilayah yang belum dijelajahi, membuatnya menjadi ikon inovasi dan kebebasan berpikir.
Makna Kehidupan:
Hanya mereka yang berani menapaki jalan yang belum dilalui yang mampu meninggalkan jejaknya di dunia.
Jika kamu hanya mengikuti langkah orang lain, bekas kakimu akan segera tertutup debu masa lalu.
Tapi bila kamu berani melangkah ke “tanah yang masih basah”—ke bidang baru, gagasan baru, cara baru—di sanalah kamu akan menulis sejarahmu sendiri. (Jhon)


