Menghadapi Kesalahan dengan Kecerdasan dan Humor

EtIndonesia. Pada 8 Februari 2014, Olimpiade Musim Dingin ke-22 resmi dibuka di Sochi, Rusia. Tidak lama setelah upacara pembukaan dimulai, sebuah kesalahan teknis yang cukup memalukan terjadi: lima kepingan salju elektronik yang seharusnya mekar membentuk lambang lima cincin Olimpiade, hanya empat yang terbuka—yang paling kanan macet dan tidak berubah menjadi cincin!

Sebuah pertunjukan megah dan elegan rusak oleh kesalahan kecil.

Usai acara, sutradara umum—Konstantin Ernst—segera mengadakan konferensi pers. Ia duduk dan langsung berkata:

“Saya tahu semua ingin tahu mengapa satu kepingan salju tidak berubah menjadi cincin. Dalam pandangan Zen Buddhis, tidak ada yang benar-benar sempurna. Satu kekeliruan tidak mempengaruhi kesempurnaan bagian lainnya.”

Jelas, itu bukan jawaban yang diinginkan para wartawan.
Ketika salah satu wartawan menanyakan detail lebih jauh, Ernst malah menjawab dengan nada tak sabar:

“Kenapa kamu terus mengungkit hal itu? Sikapmu sangat bodoh!”

Kata-kata itu membuat semua wartawan terdiam.

Sikap Ernst—yang terus berusaha mencari “alasan pembenaran”—justru menunjukkan ketidakmauannya menghadapi kesalahan.

Dan saat ia menggunakan kata-kata kasar, wartawan langsung mengaitkannya dengan insiden “empat cincin”, menjadikannya bahan pemberitaan negatif di seluruh dunia.


Namun hal serupa pernah terjadi… dengan hasil yang berbeda total!

Pada 15 November 2013, sebuah festival balon udara internasional besar dibuka di León, Meksiko.
Saat pembukaan, para atlet balon udara tuan rumah menerbangkan lebih dari 40 balon dengan berbagai bentuk yang indah.

Namun di tengah pertunjukan, seorang atlet jatuh ke sungai Balsas karena salah mengoperasikan balonnya.

Ketika wartawan menanyakan insiden itu, Wali Kota León—Vicente Guerrero—malah tersenyum dan berkata:

“Itu semua salahku!
Aku lupa memberitahu para atlet bahwa sekarang bukan musim berenang!”

Seketika seluruh ruangan meledak oleh tawa.
Seorang wartawan kemudian menanyakan penyebab kecelakaan itu.
Vicente Guerrero tetap tersenyum dan menjawab:

“Yang paling saya khawatirkan bukan bagaimana kejadiannya,
tetapi apakah atlet itu terluka.
Untungnya, dia baik-baik saja!

Memang ini kecelakaan kecil,
tapi ini mengingatkan kita bahwa tidak ada yang bisa sempurna.
Ini juga mengajak kita untuk bekerja sepenuh hati.
Jika semua orang bisa belajar sesuatu dari kejadian ini,
bukankah itu berarti insiden ini memiliki makna?”

Setelah itu, media hampir tidak menyoroti kecelakaan tersebut.
Sebaliknya, mereka memuji humor dan kebijaksanaan sang wali kota.
Insiden itu pun “dikecilkan” dan akhirnya dilupakan.


Dua Kasus yang Sama, Dua Akhir yang Sangat Berbeda

Padahal kedua kejadian itu mirip—keduanya adalah insiden memalukan di acara internasional.
Namun mengapa hasilnya sangat berbeda?

Orang mungkin berpikir jawabannya adalah perbedaan kemampuan berbicara.
Tetapi inti sebenarnya adalah sikap menghadapi kesalahan:

  • Menutupi kesalahan dan terus mencari pembenaran hanya membuat situasi semakin buruk.
  • Tetapi menghadapinya dengan kesadaran, humor, dan ketenangan jauh lebih bijaksana dan lebih disukai orang.

Kesalahan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Yang membuat seseorang dihormati bukanlah “tak pernah salah”,  melainkan bagaimana ia menghadapi kesalahannya. (Jhon)

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine