EtIndonesia. Menjadi dua hari yang mengguncang lanskap geopolitik dunia. Dari Brussel hingga Karibia, dari Helsinki hingga Caracas, berbagai perkembangan besar berlangsung dalam waktu hampir bersamaan—menciptakan ketegangan baru antara kekuatan Barat, Rusia, Tiongkok, dan Venezuela.
Zelenskyy Mendesak Uni Eropa: “Aset Rusia Harus Dipakai untuk Menyelamatkan Ukraina”
Pada 12 November, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mendesak Uni Eropa untuk segera memanfaatkan aset Rusia yang dibekukan, menegaskan bahwa langkah tersebut “menyangkut hidup dan mati Ukraina”
UE awalnya dijadwalkan mengambil keputusan bulan ini, namun proses kembali terhambat setelah:
- Belgia menunda pembahasan karena khawatir risiko hukum; Belgia adalah negara dengan aset Rusia beku terbesar di Eropa.
- Perdana Menteri Slovakia, Robert Fico secara terbuka menyatakan penolakannya.
Dalam wawancara eksklusif dengan Bloomberg TV, Zelenskyy menegaskan bahwa Rusia harus membayar harga perang, dan penyaluran dana dari aset beku merupakan satu-satunya bentuk keadilan yang layak.
Von der Leyen Ajukan 3 Opsi Pendanaan untuk Ukraina
Pada 13 November 2025, Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen mengajukan tiga opsi pendanaan alternatif untuk mengatasi kebuntuan:
- Pinjaman berbasis aset Rusia yang dibekukan,
- Menggunakan anggaran surplus UE,
- Memberi kewenangan negara anggota untuk menghimpun dana masing-masing.
Von der Leyen menekankan bahwa UE dapat memberikan pinjaman sekarang, dan ketika Rusia diwajibkan membayar kompensasi perang di masa depan, dana itu akan menggantikan anggaran UE.
Mayoritas menteri keuangan UE mendukung opsi pertama sebagai yang paling realistis, namun Belgia tetap menjadi penghalang utama, menyebabkan bantuan untuk Ukraina kembali tertunda.
Delapan Negara Nordik–Baltik Suntik 500 Juta Dolar untuk Ukraina
Pada 13 November 2025, Finlandia, Swedia, Norwegia, Denmark, Islandia, Latvia, Lituania, dan Estonia mengumumkan bergabung dalam Daftar Prioritas Kebutuhan Ukraina yang dipimpin AS–NATO.
Mereka berkomitmen memberikan bantuan 500 juta dolar untuk mempercepat pengadaan sistem pertahanan, amunisi, dan peralatan kritis Ukraina.
Dalam pertemuan Menteri Pertahanan Nordik–Baltik di Helsinki, negara-negara ini sepakat meningkatkan mobilitas militer dan kerja sama udara lintas perbatasan. Target mereka: lebih dari 200 pesawat tempur generasi baru dalam 10 tahun.
Inggris Mendirikan Jalur Komunikasi Rahasia dengan Kremlin
Financial Times mengungkap bahwa penasihat keamanan nasional Inggris, Tim Barrow, diam-diam menghubungi Yuri Ushakov, penasihat kebijakan luar negeri Presiden Putin. Tujuannya adalah membuka jalur komunikasi rahasia Eropa–Rusia tanpa melibatkan AS.
Pada 12 November 2025, Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengonfirmasi kontak tersebut, namun menegaskan bahwa percakapan itu hanya terjadi sekali dan tidak berlanjut karena pihak Inggris dianggap “tidak sungguh-sungguh ingin mendengar perspektif Rusia”.
Beberapa diplomat Eropa menilai tindakan Barrow terlalu cepat dan dapat mengganggu strategi tekanan bersama AS–UE terhadap Moskow.
Rubio Menekan Eropa: “Sanksi AS Sudah Maksimal, Giliran Kalian”
Pada 13 November 2025, dalam pernyataan publiknya, Menlu AS, Marco Rubio menegaskan bahwa sanksi AS terhadap Rusia hampir berada di batas maksimal. Karenanya, Eropa harus memikul peran lebih besar.
Rubio juga mengkritik sikap Eropa yang dinilai terbelah dan lambat, terutama dalam isu pendanaan untuk Ukraina.
AS Tingkatkan Tekanan di Karibia: Operasi Terhadap Venezuela Memasuki Fase Baru
Operasi Militer AS Melawan Kapal Narkoba
Sejak September 2025, pemerintahan Trump menjalankan operasi militer besar-besaran terhadap jaringan penyelundupan narkoba di Karibia dan Pasifik Timur.
Langkah ini memicu kecaman:
- Menlu Prancis Catherine Colonna menyebut operasi tersebut pelanggaran hukum internasional,
- Inggris dilaporkan menunda sebagian kerja sama intelijen dengan AS.
Rubio membantah keras pada 13 November 2025, menegaskan UE tidak memiliki otoritas menentukan hukum internasional, dan operasi AS ditujukan untuk memerangi kartel serta ancaman teroris.
Armada Raksasa AS Mendekati Venezuela
Pada pagi 13 November 2025, laporan Pentagon dan data maritim menunjukkan:
- Kelompok tempur kapal induk USS Gerald R. Ford memasuki Laut Karibia,
- Didampingi tiga kapal perusak rudal dan sekitar 15.000 personel,
- USS Stout dan USS Gettysburg telah memasuki Zona Ekonomi Eksklusif Venezuela, hanya 50 km dari pantai La Guaira.
USS Gettysburg membawa peluncur vertikal MK-41, mampu menembakkan rudal jelajah Tomahawk sejauh 2.500 km—memberi AS kemampuan serangan presisi terhadap fasilitas militer Venezuela.
Traktat Pertahanan Rusia–Venezuela Mulai Berlaku
Pada 12 November 2025, traktat Kemitraan Strategis dan Kerja Sama Rusia–Venezuela resmi berlaku. Perjanjian ini mencakup:
- Energi
- Pertambangan
- Telekomunikasi
- Keamanan
- Kontra-terorisme
- 25 bidang kerja sama lainnya
Wakil Menlu Rusia, Sergei Ryabkov menyatakan bahwa perjanjian tersebut merupakan respons langsung terhadap operasi militer AS terhadap kapal Venezuela, menegaskan penguatan poros Moskow–Caracas.
Tiongkok Membuka Akses Bebas Bea untuk 43 Negara Termiskin
Masih pada 12 November 2025, Tiongkok mengumumkan kebijakan ekonomi baru:
mulai 1 Januari 2026, 43 negara paling tidak berkembang, termasuk Venezuela, akan mendapat akses bebas bea penuh untuk semua komoditas.
Analis menilai langkah ini sebagai respons atas kebijakan tarif energi AS, sekaligus upaya Beijing memperluas pengaruh di Amerika Latin.
Pesawat Kepresidenan Maduro Terbang ke Havana: Evakuasi atau Konsultasi Darurat?
Pada pagi 13 November 2025, data Flightradar24 menunjukkan pesawat kepresidenan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro berangkat dari Caracas menuju Havana, Kuba.
Spekulasi publik langsung bermunculan:
- Apakah Maduro melarikan diri dari kemungkinan serangan AS?
- Atau sedang mengadakan konsultasi rahasia terkait perjanjian Rusia–Venezuela?
Sehari sebelumnya (12 November 2025), Maduro mengumumkan pengerahan militer skala besar sebagai persiapan menghadapi potensi operasi darat AS.
Kuba, sekutu paling setia Venezuela, dikenal sebagai lokasi pertemuan rahasia antara pemimpin kedua negara—memperkuat dugaan adanya koordinasi strategis tingkat tinggi.
KESIMPULAN: Dua Hari yang Mengguncang Dunia
12–13 November 2025 memperlihatkan:
- UE terpecah,
- AS agresif di Karibia,
- Rusia memperkuat aliansi pertahanan,
- Tiongkok memperluas pengaruh ekonomi,
- Ukraina semakin terdesak mencari dukungan finansial,
- Venezuela berada di ambang krisis militer terbesar dalam sejarah modernnya.
Dinamika yang berlangsung dua hari itu menjadi salah satu episode paling menentukan dalam ketegangan global menjelang akhir 2025.


