Misi Putin Ambruk: 150.000 Tentara Tak Mampu Rebut Red Army City, Tenggat Mundur Sebulan

EtIndonesia. Sejak awal Juli 2025, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan pengerahan 150.000 tentara untuk mengepung dan merebut Red Army City (Pokrovsk) di wilayah Donetsk—sebuah kota strategis yang selama setahun terakhir menjadi pusat pertempuran paling brutal dalam perang.

Namun setelah lebih dari empat bulan, hasilnya mengecewakan bagi Rusia:

  • Ribuan prajurit Rusia tewas,
  • Garis depan nyaris tidak bergerak,
  • Red Army City tetap berada dalam kendali Ukraina.

Kabut Pekat 3 Hari Lalu: Rusia Coba Menyusup, Justru Ketahuan

Pada 11 November 2025, kabut tebal menyelimuti wilayah sekitar Red Army City.
Sebuah video viral memperlihatkan pasukan Rusia bergerak dalam formasi tidak beraturan—terdiri atas:

  • motor,
  • mobil modifikasi,
  • barisan infanteri yang tampak kacau dan berpencar.

Banyak warganet menduga Rusia sedang memanfaatkan kabut karena drone Ukraina sulit melakukan pengintaian.

Namun analisis lanjutan menunjukkan hal berbeda:

  • Formasi itu lebih mirip unit yang mundur, bukan pasukan penyerang.
  • Gerakan mereka justru membuka arah pergerakan kepada intelijen Ukraina.

Komandan Angkatan Bersenjata Ukraina, Jenderal Oleksandr Syrskyi, menegaskan bahwa sektor ini memang menjadi titik serangan paling agresif Rusia, tetapi Ukraina:

“Tetap memegang kendali penuh atas seluruh garis pertahanan.”

Drone dan rudal Ukraina kemudian menghantam kelompok tersebut.

Hasilnya:

  • Infanteri Rusia terpecah,
  • Banyak yang melarikan diri dalam kondisi panik,
  • Tidak ada terobosan yang dicapai Rusia.

Mengapa Tank Rusia Menghilang? Ancaman Drone Menjadi Jawaban

Pertanyaan publik tentang “menghilangnya tank Rusia” dijawab oleh intelijen Ukraina.

Sejak September, penggunaan drone FPV berpeledak meningkat drastis, membuat:

  • tank Rusia sulit maju,
  • kendaraan lapis baja menjadi target empuk,
  • logistik Rusia semakin terhambat.

Akibatnya, Rusia kini sering mengirimkan infanteri tanpa dukungan armor, yang membuat mereka jauh lebih rentan.

Tank Ukraina Melawan Kembali: Serangan ke Timur Laut Red Army City

Pada 10 November 2025, sebuah video langka dirilis:

  • Tank Ukraina menyerbu sebuah desa di timur laut Red Army City,
  • Mereka menghancurkan kelompok infanteri Rusia,
  • Menutup salah satu jalur suplai cadangan pasukan Rusia.

Kementerian Pertahanan Rusia akhirnya mengakui serangan ini, menyebut bahwa mereka “menghadapi tekanan signifikan” di sektor tersebut.

Ukraina Membersihkan 7,4 Km² dalam Sepekan

Antara 4–11 November 2025, pasukan Ukraina melakukan operasi kontra-sabotase.

Dalam laporan resmi:

  • 7,4 km² wilayah berhasil dibersihkan dari kelompok infiltrasi Rusia,
  • Sebuah jaringan pengintai Rusia berhasil dihancurkan,
  • Titik komunikasi musuh di sektor timur dinonaktifkan.

Ini menjadi salah satu operasi defensif paling berhasil sejak awal musim gugur.

Putin Gagal Memenuhi Tenggat 15 November

Menurut laporan Ukrinform (12 November 2025), awalnya Putin mengeluarkan instruksi internal untuk merebut Red Army City sebelum 15 November 2025.

Namun setelah kegagalan di lapangan, tenggat baru diubah menjadi: 15 Desember 2025.

Perubahan ini dianggap sebagai sinyal bahwa Kremlin frustrasi terhadap lambatnya kemajuan militer.

Pernyataan Tegas Zelenskyy pada 14 November 2025

Dalam konferensi pers pada 14 November 2025, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyampaikan: “Situasi di Red Army City sangat berat. Tidak ada yang akan saya paksa mati demi puing-puing. Yang terpenting adalah nyawa prajurit kami.”

Pernyataan ini sejalan dengan kebijakan Ukraina terbaru—menghindari taktik “bertahan sampai prajurit terakhir” seperti tragedi Bakhmut pada 2023, dan menggantinya dengan pertahanan dinamis.

Ukraina Mulai Menembakkan Rudal Flamingo Buatan Dalam Negeri

Pada siang hari, 14 November 2025, Ukraina untuk pertama kalinya dalam skala penuh menembakkan empat rudal jelajah jarak jauh Flamingo, produksi industri pertahanan Ukraina.

Hasil serangan:

  • 1 rudal ditembak jatuh di atas Oryol, sekitar 350 km dari Moskow.
  • 3 rudal lainnya menghantam sasaran strategis, yaitu:
    1. Depot minyak di Krimea
    2. Gudang drone Rusia di Zaporizhzhia
    3. Markas Korps Gabungan Ke-5 Rusia di Berdyansk
      – Termasuk markas Divisi Infanteri Bermotor ke-127

Cuplikan serangan dirilis oleh Angkatan Udara Ukraina, memperlihatkan ledakan besar di lokasi-lokasi tersebut.

Serangan ini menandai:

  • kemampuan Ukraina memproduksi rudal jelajah subsonik generasi baru,
  • kemampuan menyerang target hingga lebih dari 650 km,
  • peningkatan kapasitas industri militer Ukraina di tengah embargo internasional.

 KESIMPULAN

Situasi di Red Army City memasuki fase krusial:

  • Rusia gagal memenuhi target Kremlin,
  • Ukraina justru memanfaatkan pertahanan dinamis untuk menekan balik,
  • Penggunaan rudal Flamingo menandai peningkatan kemampuan ofensif Ukraina.

Jika Rusia gagal mencapai terobosan pada pertengahan Desember, peluang mereka untuk menaklukkan Red Army City pada musim dingin semakin kecil, dan keseimbangan perang dapat kembali bergeser.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine