EtIndonesia. Di antara lautan manusia, setiap pertemuan antara satu orang dengan yang lain adalah sebuah pertalian—“缘” (yuan-takdir pertemuan), atau jodoh/pertalian.
Ada pepatah yang berkata: “Bila ada jodoh, meski terpisah seribu mil tetap akan bertemu; bila tak berjodoh, sekalipun berhadapan tetap tak saling mengenal.”
Segala bentuk hubungan manusia—baik yang dalam, dangkal, muncul, ataupun berakhir—semuanya berawal dari satu kata: 缘 (Takdri Pertemuan). Semua itu seperti sudah ditentukan oleh alam, tak perlu kita paksa. Misalnya, saat sepasang kekasih berpisah, mungkin itu karena jodohnya belum tiba. Terimalah dengan lapang dada. Ada pula pasangan suami istri yang harmonis puluhan tahun—itu bukan hanya karena hubungan mereka sudah sangat kuat, tapi juga karena mereka saling menghormati dan saling memahami.
Kalau yang datang adalah keterikatan buruk (孽緣), maka satu-satunya jalan adalah menghadapinya dengan hati yang luas—belajar memaafkan, menerima, dan mengubah rasa sakit itu menjadi peluang bagi pertumbuhan batin.
Sama seperti kisah cinta tragis antara Baoyu dan Daiyu—yang satu bagaikan batu giok sempurna, yang lain seperti bunga langka dari taman para dewi. Keduanya saling mencintai, namun nasib tidak memberi mereka akhir yang bahagia. Begitu pula kisah “Burung merak terbang ke tenggara”—penuh ketidakberdayaan dan kesetiaan yang membuat siapa pun yang membaca ikut menangis.
Dalam masyarakat, setiap profesi saling terhubung satu sama lain, terjalin menjadi satu jaring besar yang rapat—itulah “缘” yang tidak bisa dipisahkan. Dan setiap orang yang berada dalam jaring keterhubungan ini—kau, aku, dia—memikul perannya masing-masing.
Seorang guru harus melakukan tugasnya: mengajar, membimbing, dan menjelaskan.
Seorang dokter harus menjalankan tekadnya menolong sesama.
Seorang pekerja harus mengabdikan tenaga dan keringatnya.
Seorang rohaniwan harus menjaga tugas sucinya.
Saat kamu menjalankan tanggung jawabmu tanpa keluhan, setetes keringatmu menjadi tabungan bagi jodoh yang lebih dalam dan langgeng di masa depan.
Selain menjaga jalinan pertalian yang sudah ada, kita juga perlu menanam pertalian yang baik. Hubungan guru–murid selalu hangat dan indah adanya. Persahabatan sejati pun begitu—jernih dan tulus. Seperti persahabatan Guan Zhong dan Bao Shuya yang saling memahami, atau keakraban Ziqi dan Yu Boya yang saling mengerti melalui nada musik—hubungan seperti itu membuat siapa pun merasa iri dan kagum.
Jalinan jodoh—entah dalam, dangkal, datang, atau pergi—melahirkan berbagai kisah suka dan duka. Aku paling mengagumi sikap Yan Hui, murid Kongzi, yang mampu hidup damai dan puas meskipun serba kekurangan. Baginya, dunia tidak pernah buruk, tidak pernah mengecewakan. Hanya ia sendiri yang memahami betapa manisnya hidup sederhana dengan semangkuk nasi dan seember air.
Maka, hargailah semua jalinan hubungan yang ada di dunia ini. Biarkan setiap pertalian yang kau temui memancarkan cahaya indah melalui perjumpaan dan kebersamaanmu dengan sesama.(jhn/yn)


