EtIndonesia. Pada 13 November 2025, Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth mengumumkan secara resmi melalui platform X bahwa AS telah meluncurkan sebuah operasi militer besar di kawasan Belahan Bumi Barat bernama Southern Spear. Operasi ini ditujukan untuk menghancurkan jaringan kartel narkoba yang selama ini beroperasi di Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan Karibia.
Dalam pernyataan resminya, Hegseth menegaskan: “Presiden Trump telah memerintahkan dimulainya operasi ini. Hari ini saya secara resmi mengumumkan pelaksanaannya. Di bawah Komando Gabungan Southern Spear dan Komando Selatan Amerika Serikat, kami akan mengusir para pengedar narkoba dari hemisfer kita dan melindungi keamanan rakyat Amerika.”
Dia menambahkan bahwa kawasan Belahan Bumi Barat merupakan “tetangga langsung Amerika Serikat”, sehingga Washington memiliki kewajiban untuk menjaga keamanan regional.
Bagian dari Strategi Besar Trump dalam Memukul Kartel Narkoba
Menurut laporan Newsweek, persiapan Operasi Southern Spear telah dimulai sejak musim panas 2025, dan operasi ini merupakan elemen penting strategi Trump untuk memberantas jaringan penyelundupan narkoba lintas negara yang selama ini bermarkas di negara-negara Karibia dan Amerika Latin.
Nama “Southern Spear” dipilih untuk menandai karakter operasi yang berkembang terus-menerus serta diproyeksikan berlangsung jangka panjang, bukan sekadar operasi satu kali.
Briefing Tingkat Tinggi di Gedung Putih — Termasuk Opsi Serangan Darat ke Venezuela
Pada 13 November 2025, Hegseth bersama Ketua Gabungan Kepala Staf Jenderal Kane dan beberapa jenderal senior telah memberikan laporan langsung kepada Presiden Trump di Gedung Putih. Laporan tersebut mencakup:
- perkembangan situasi militer di Karibia
- pergerakan armada Amerika Serikat
- berbagai opsi penggunaan kekuatan, termasuk serangan darat ke Venezuela
Meskipun tidak ada rincian yang dipublikasikan secara terbuka, sumber militer menyebutkan bahwa opsi-opsi tersebut kini berada di atas meja dan siap diaktifkan sewaktu-waktu.
Armada Perang AS Masuk ke Zona Ekonomi Eksklusif Venezuela
Pergerakan militer AS semakin intens sejak awal November.
Menurut analis maritim Tang Mao di platform X, dua kapal perang AS telah terdeteksi berada di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Venezuela, hanya sekitar 50 km dari Caracas:
- USS Stockdale (Destroyer kelas Arleigh Burke)
- USS Gettysburg (Kapal Penjelajah Berpeluru Kendali kelas Ticonderoga)
Keberadaan USS Gettysburg sangat signifikan karena kapal tersebut mampu menembakkan rudal jelajah Tomahawk, yang biasa digunakan untuk serangan presisi jarak jauh terhadap sasaran darat.
11 November — Kedatangan Kapal Induk Terbesar Dunia
Pada 11 November 2025, kapal induk terbesar dunia USS Gerald R. Ford beserta Carrier Strike Group-nya memasuki Laut Karibia. Kelompok tempur ini mencakup:
- lebih dari 4.000 personel
- jet tempur F/A-18 Super Hornet
- helikopter dan pesawat peringatan dini
- rudal jelajah Tomahawk di kapal pendampingnya
Kehadiran Gerald R. Ford menandakan peningkatan status operasi dari sekadar patroli maritim menjadi operasi militer berskala penuh.
Total kekuatan militer AS yang kini terkonsentrasi di kawasan Karibia diperkirakan melampaui 15.000 personel.
Maduro: “Ancaman Terbesar dalam 100 Tahun Terakhir”
Presiden Venezuela, Nicolás Maduro menanggapi pengerahan armada AS ini dengan keras. Dalam pidato nasionalnya, ia menyebut langkah Washington sebagai: “Ancaman terbesar dalam 100 tahun terakhir terhadap kedaulatan Venezuela.”
Caracas menuduh AS mempersiapkan invasi terselubung dengan dalih pemberantasan narkoba.
20 Serangan Udara Berturut-Turut ke Kapal Penyelundup
Sejak awal November hingga 13 November, militer AS telah melakukan 20 serangan berturut-turut terhadap kapal-kapal penyelundup narkoba di Karibia menggunakan:
- pesawat tempur
- drone tempur
- pesawat serang darat
- kapal perang bersenjata
Skala operasi ini jauh melampaui operasi anti-narkoba biasa dan secara de facto sudah menyerupai operasi tempur.
Pakar keamanan regional berpendapat bahwa AS sedang membangun zona dominasi penuh di Karibia sebagai landasan untuk opsi militer yang lebih agresif.
Apakah Venezuela Target Utama?
Secara resmi, Washington menyebut bahwa Operasi Southern Spear mencakup seluruh wilayah Karibia dan Amerika Latin. Namun, sejumlah indikator menunjukkan bahwa Venezuela adalah fokus utama:
- Lokasi serangan AS berada dekat jalur penyelundupan yang terhubung dengan jaringan narkoba berbasis Venezuela.
- Armada AS masuk ke ZEE Venezuela, sesuatu yang jarang terjadi kecuali menjelang operasi besar.
- Trump dan Hegseth telah menerima laporan tentang opsi serangan darat ke Venezuela.
- Maduro berulang kali menuduh AS ingin menggulingkan pemerintahannya.
Para analis memperkirakan bahwa jika kartel Venezuela-Kolombia terbukti memperluas operasinya, Washington dapat menggunakan hal tersebut sebagai pembenaran untuk operasi militer terbuka.
Kesimpulan
Operasi Southern Spear menandai eskalasi terbesar AS di wilayah Karibia sejak Perang Dingin. Dengan lebih dari 15.000 personel, kapal induk raksasa, rudal Tomahawk, dan serangkaian serangan udara, Washington ingin menunjukkan bahwa perang melawan kartel narkoba kini berada pada level yang sama dengan operasi militer internasional skala besar.
Sampai saat ini, situasi di Karibia bergerak cepat dan penuh ketegangan. Banyak pihak menilai bahwa Venezuela hanya tinggal selangkah lagi dari menjadi arena konflik militer baru di Belahan Bumi Barat.


