RS Jiwa di Chengdu, Tiongkok  Diduga Mengurung Banyak Orang Sehat — Seorang Perempuan Dipenjara 8 Tahun karena Melaporkan Pejabat Komunitas

EtIndonesia. Sebuah rumah sakit jiwa di Chengdu, Sichuan, Tiongkok, baru-baru ini terbongkar karena diduga menahan sejumlah besar orang yang sebenarnya sehat, bahkan hingga bertahun-tahun atau lebih dari satu dekade. 

Salah satu kasus yang paling mengejutkan adalah seorang perempuan lulusan universitas yang dipenjara di rumah sakit jiwa tersebut selama 8 tahun, hanya karena pernah melaporkan penyimpangan seorang sekretaris komunitas. Aktivis kemanusiaan kini menyerukan pembebasannya, tetapi pihak berwenang saling lempar tanggung jawab dan menolak memberikan jawaban.

Dilaporkan karena Ungkap Penyimpangan Pejabat

Pada 8 November, aktivis dan investigator independen di daratan Tiongkok, Wu Huaijun, memposting permintaan bantuan di WeChat dan Weibo untuk menarik perhatian publik.

(Tangkapan layar internet)

Dalam postingannya dijelaskan bahwa Xu Xinrui, seorang pencinta sastra yang pada tahun 2017 pernah bekerja di perpustakaan komunitas Jalan Mengzhuiwan, Distrik Chenghua, Chengdu, pernah secara resmi melaporkan seorang sekretaris komunitas perempuan kepada Komisi Disiplin Sichuan. Ia melaporkan bahwa pejabat tersebut bermain mahjong dan berjudi bersama staf di dalam ruang perpustakaan.

Tidak lama setelah laporan itu dibuat, Xu Xinrui dipaksa oleh polisi setempat dan pihak komunitas untuk masuk ke Rumah Sakit Jiwa Dekang di Chengdu. Hingga kini, ia telah dikurung selama delapan tahun penuh.

Xu adalah anak tunggal dan kedua orang tuanya telah meninggal sebelum ia dikurung.

Permintaan Tolong yang Tak Tersampaikan

Dua tahun lalu, seorang pasien lain bermarga He yang keluar dari rumah sakit sempat menerima nomor telepon dari Xu Xinrui. Xu memintanya menghubungi pamannya untuk meminta pertolongan. Namun setelah dihubungi, sang paman tidak mengambil tindakan apa pun.

Nyonya He, yang juga pernah tiga kali dimasukkan ke rumah sakit jiwa karena mengajukan petisi kepada pemerintah, menyatakan bahwa Xu tidak memiliki gangguan kejiwaan. Ia menyukai sastra dan aktif berkomunikasi dengan beberapa guru sastra ternama melalui internet.

Nyonya He juga menggambarkan kondisi rumah sakit yang sangat buruk: makanan minim minyak, asin dan hambar, tanpa nilai gizi memadai.

Ia berkata: “Setelah dirawat lama di rumah sakit jiwa, tubuh pasti rusak. Jalan di tempat datar saja bisa jatuh.”

 Ia mengatakan pernah melihat Xu dua kali jatuh di lantai yang datar.

Upaya Minta Bantuan Ditolak Polisi

Wu Huaijun, yang mengaku sebagai “sepupu Xu Xinrui”, berhasil menelepon rumah sakit dan berbicara langsung dengan Xu. Xu berbisik dan mengatakan bahwa setiap hari ia dipaksa meminum obat-obatan psikiatri. Bila menolak, ia diikat dan pernah beberapa kali disetrum seluruh tubuh sebagai “hukuman”. Xu memohon agar ia diselamatkan.

Suara Xu terdengar ketakutan, dan suara petugas rumah sakit yang mengawasinya terdengar jelas di latar belakang.

Kemudian Wu berkali-kali menelepon kepala bangsal psikiatri V, seorang direktur perempuan bermarga Xie.

Menurut penuturan Direktur Xie:

  • Kondisi Xu “stabil” dan sebenarnya sudah bisa keluar,
  • Tetapi rumah sakit tidak bisa melepaskan pasien tanpa dijemput oleh pihak yang memasukkannya, yakni kantor komunitas dan kepolisian lokal,
  • Xu adalah penerima bantuan pemerintah (“tiga tanpa”: tanpa keluarga, tanpa sumber penghasilan, tanpa tempat tinggal),
  • Xu mendapat subsidi negara setiap bulan dan “bisa tinggal seumur hidup” di rumah sakit.

Ketika Wu melapor ke kantor polisi setempat, jawabannya justru membingungkan:

“He sudah keluar.”

Padahal Wu menanyakan Xu, bukan Nyonya He. Polisi kemudian berkata bahwa “itu bukan kewenangan mereka”.

Setelah itu, rumah sakit tidak lagi mengizinkan Xu menerima telepon. Petugas mengatakan,

“Ada instruksi.”

Wu khawatir bahwa tanpa campur tangan pihak luar, Xu Xinrui bisa dikurung seumur hidup.

Tangkapan layar

Banyak Orang Sehat Dipenjara Bertahun-Tahun

Menurut beberapa mantan pasien, Rumah Sakit Jiwa Dekang menahan banyak orang yang tidak memiliki gangguan jiwa, beberapa bahkan telah dikurung lebih dari 10 tahun.

Wu menduga bahwa rumah sakit tersebut mendapat keuntungan finansial dengan mengurung kelompok rentan untuk:

  • memperoleh dana asuransi kesehatan (BPJS versi Tiongkok), dan
  • dana bantuan sosial.

Data publik menunjukkan bahwa Rumah Sakit Jiwa Dekang berada di bawah naungan Biro Urusan Sipil Chengdu, dan didirikan menggunakan dana amal dari lotere kesejahteraan Sichuan.

Wu menghubungi Biro Asuransi Kesehatan Sichuan dan melakukan laporan resmi, menuduh rumah sakit menahan orang sehat untuk menipu dana asuransi. Namun hingga kini tidak ada respons.

Di media sosial, banyak netizen meluncurkan kampanye “Selamatkan Xu Xinrui”, mendesak pemerintah Chengdu, Komisi Kesehatan, serta lembaga disipliner untuk menyelidiki kasus tersebut. Namun semua postingan terkait telah dihapus.

Tangkapan layar dari internet
Tangkapan layar dari internet

Seorang netizen berkomentar: “Ini membuka mata saya. Kenapa mereka mengurung orang sehat? Karena setiap orang menghasilkan uang. Biaya rawat inap ratusan yuan per hari. Bila sebuah rumah sakit mengurung ratusan orang, pemasukan tahunan bisa mencapai puluhan juta.” (Jhon)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine