EtIndonesia. Jumlah properti yang dipasang untuk dijual oleh berbagai bank di Tiongkok terus meningkat. Agen properti mengungkapkan bahwa karena jumlah kredit macet (NPL) membengkak, banyak bank tidak lagi menunggu proses lelang sitaan yang memakan waktu lama. Mereka langsung menjual properti—bahkan dengan diskon 50% hingga 70%—asal bisa menarik kembali dana. Langkah ini menjadi salah satu faktor yang mendorong penurunan harga rumah di banyak kota.
Menurut laporan Economic Observer yang dikutip Jumat (14/11/2025) semakin banyak bank yang menjalankan layanan “penjualan langsung” properti. Bank-bank kota, bank pertanian, dan koperasi kredit memiliki skala penjualan terbesar. Di platform Alibaba Asset dan JD Asset, sistem kredit pedesaan dari Guangdong, Sichuan, dan Liaoning telah memasang lebih dari 10.000 unit properti untuk dijual.
Kredit macet meledak, bank terpaksa menjual rumah
Konsultan properti dari Anhui, Mr. Wang, menjelaskan: “Sekitar 60% dana yang dipinjamkan bank keluar terkait sektor properti. Kredit macet meningkat, muncul begitu banyak rumah sitaan, sehingga menimbulkan risiko bagi sistem keuangan. Bank sekarang turun langsung untuk menjual rumah, jika tidak mereka bisa kolaps.”
Agen properti di Jiangsu, Mr. Wu, juga mengatakan bahwa strategi diskon besar-besaran ini mempercepat penurunan harga rumah: “Banyak rumah gagal bayar. Bank tidak mau menunggu proses lelang, karena lelang baru bisa selesai minimal satu tahun. Mereka tidak punya waktu, yang penting dana kembali. Diskon 50% atau bahkan 70% sangat mungkin terjadi.”
“Rumah tiket”: kebijakan baru yang memaksa warga membeli rumah baru
Karena berbagai kebijakan insentif tidak lagi mampu memulihkan minat beli masyarakat, pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan baru yang lebih agresif: “kebijakan rumah tiket” (房票政策).
Konsultan Wang menjelaskan skema tersebut: “Pemerintah membongkar rumah lama Anda, lalu memberi ‘tiket rumah’. Dengan tiket itu, Anda mendapat subsidi 15% sampai 30% untuk membeli rumah baru. Kalau menolak tiket, kompensasi dipotong 200.000 sampai 300.000 yuan.”
Contohnya, Chongqing diperkirakan akan membongkar 7 juta unit rumah lama dalam setahun dan menggantinya dengan 7 juta unit rumah baru—untuk menghabiskan stok rumah tak terjual.
Namun, Wang menegaskan bahwa kebijakan ini justru menjadi beban:
“Setelah rumah lama Anda dihancurkan, Anda dipaksa membeli rumah baru. Anda harus bayar selisih harga, harus renovasi, dan harus menanggung cicilan baru. Mereka menyebut ini ‘pengaturan pasar’, tetapi intinya adalah memaksa masyarakat mengeluarkan uang.”
Pemilik rumah tercekik: harga turun drastis, pendapatan anjlok
Kebijakan rumah tiket dinilai sangat tidak adil untuk pemilik rumah yang membeli ketika harga masih tinggi. Banyak yang kini tidak sanggup membeli rumah baru ataupun membiayai renovasi.
Seorang programmer perusahaan teknologi besar di Beijing, Mr. Wang, membeli rumah pada puncak harga tahun 2019. Kini harga rumahnya turun 40%, membuatnya hidup dalam tekanan berat:
- Harga rumah jatuh ke level tahun 2015
- Uang muka 2,5 juta yuan hilang tak berbekas
- Masih punya cicilan 3 juta yuan
- Gajinya tahun lalu dipotong setengah
- Tahun ini kehilangan pekerjaan
- Cicilan bulanan lebih dari 10.000 yuan
- Rumahnya kini menjadi aset negatif
Ia mengeluh: “Apartemen tua 70 meter persegi itu sudah menjadi beban. Semua tabungan selama 15–16 tahun bekerja habis. Kalau saja saya tidak membeli rumah pada 2019, hidup saya pasti jauh lebih mudah sekarang.” (jhon)
Sumber : NTDTV.com


