EtIndonesia. Hidup manusia itu sangat singkat—secepat mekarnya bunga udumbara yang hanya mekar sekejap. Dan hidup ini pun begitu kecil, bagaikan sebutir pasir di tengah samudra luas. Bentuk nyata dari “hidup” adalah “kehidupan”. Kehidupan memang tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan materi, tetapi itu semata-mata untuk mempertahankan hidup. Yang paling penting dalam kehidupan tetaplah kenikmatan batin—ketinggian nilai spiritual.
Makna sejati kehidupan terletak pada keluhuran jiwa, pada keindahan, kebaikan, dan kebenaran. Dia harus nyata, dan karenanya membutuhkan ketulusan. Dia harus baik, maka tidak boleh ada kejahatan. Dia harus indah, maka tidak seharusnya ternodai oleh hal-hal yang buruk.
Kenyataan hidup selalu penuh kerumitan. Manusia sering baru memahami makna hidup setelah mengalami berbagai cobaan, dan dari sanalah muncul sebuah langkah maju. Karena itulah hidup seseorang memiliki isi, dan muncullah kebahagiaan dari keberhasilan.
Dua ujung kehidupan adalah kegelapan dan kematian. Yang kita miliki hanyalah bagian di tengah: masa saat kita hidup, bergerak, merasakan, dan menjalani. Bagi setiap manusia, inilah seluruh perjalanan hidupnya. Bagaimana membuat kehidupan ini bersinar, penuh makna, dan membawa kebahagiaan? Caranya adalah menjadikan hidup berwarna—bukan dijalani dengan kosong, hambar, atau tanpa arah, apalagi memadamkan api harapan terhadap kehidupan.
Kelahiran dan kematian manusia pada dasarnya sama seperti tumbuhan—ada masa tumbuh, layu, gugur, dan bangkit kembali. Semua itu adalah fenomena alami. Mengikutinya dengan lapang dada adalah hal yang wajar. Seperti bunga yang mekar dan layu, hidup manusia pun memiliki musim-musimnya: menanam di musim semi, bekerja keras di musim panas, memanen di musim gugur, dan menyimpan kekuatan di musim dingin. Siklus hidup yang terus berputar inilah yang membuat kehidupan dan kehidupan batin menyatu—saling menguatkan dan saling menghidupi.
Penyair Fan Chengda pernah menulis: “Dulu mata ini tak menyadari, wajah merona bagai delima; Kini ketika bercermin pagi hari, wajah layu bagai daun teratai kering.”
Itulah kegelisahan orang tua saat melihat rambut memutih, tubuh melemah, dan raut wajah yang berubah. Karena itu kita perlu menjalani hidup dengan hati yang tenang—menerima perjalanan hidup apa adanya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus membangun jiwa yang optimis dan sehat: menjadi tua tanpa merasa tua. Dengan hati yang damai, bahagia, dan penuh syukur, kita dapat menikmati masa tua dengan tenang dan bermartabat.(jhn/yn)


