Kamu Tidak Akan Pernah Bisa Masuk ke Lingkaran yang Bukan Milikmu Hanya dengan “Like”

EtIndonesia. Entah sejak kapan, linimasa media sosial dipenuhi artikel yang mengajarkan cara bersosialisasi: bagaimana menjilat atasan, bagaimana bersandiwara untuk mendekati orang-orang “berkelas”, bagaimana memanfaatkan setiap kesempatan demi keuntungan pribadi. Intinya: demi mencapai tujuan, lakukan apa pun, asal berhasil. Dan yang paling sering muncul adalah anjuran untuk selalu memberi like pada status orang-orang yang dianggap “berguna”.

Tapi menurutku, jadilah manusia dulu, baru belajar bersosialisasi. Sosial itu bukan soal kelicikan, bukan soal trik, bukan soal menaiki tangga sosial dengan cara memaksa diri masuk ke lingkungan yang tidak sesuai.

Semua Orang Tidak Bodoh

Aku pernah menemani seorang teman artis pergi ke salon kuku. Selesai perawatan, dia merasa puas dan langsung membuat kartu member senilai 10 ribu yuan. Petugas yang mengerjakan kukunya langsung mengenalinya—temanku memang sudah pernah main banyak drama. 

Melihat dia begitu royal, pegawai itu pun mendekat:  “Jie, kita tambah WeChat ya. Kalau nanti mau datang lagi, kabari saya dulu biar saya atur waktunya untuk Anda.”

Sejak malam itu, pegawai tersebut mulai like setiap postingan teman artisku.

 Setiap komentar selalu berupa pertanyaan:

  • “Kak, gaun ini cantik banget! Merknya apa? Aku mau beli juga.”
  • “Rumahnya bagus, ini komplek mana? Indah sekali!”
  • Bahkan saat temanku mem-posting foto seekor anjing, dia komen: “Ini anjing siapa? Kok baru lihat? Aku pengin banget elus!”

Awalnya temanku membalas sopan, namun lama-lama dia berhenti. Namun si pegawai tetap memaksa mendekat: tengah malam kirim pesan:

  • “Kak, aku patah hati. Bisa tolong carikan aku pacar?”
  • “Kak, kapan-kapan aku ikut belanja ya. Kakak kan stylish, bisa bantuin aku pilih-pilih.”

Akhirnya temanku benar-benar tak tahan dan memblokirnya.

Dia berkata, “Aku bukan meremehkan dia. Baju yang aku pakai adalah sponsor, tiap satu harganya ribuan. Bukan untuk pamer, itu kenyataan. Dia masih anak muda umur 20-an yang tinggal kamar sewaan. Di usianya, aku juga tidak bisa membeli apa-apa.

 Kalau pun aku beri tahu merknya, dia tidak akan sanggup membelinya. Aku umur 35, sudah kerja keras belasan tahun sampai bisa tinggal di lingkungan bagus. Sedangkan dia baru merantau. Bahkan tahu nama komplek pun, dia belum tentu bisa sanggup sewa.  Kami tidak punya kesamaan apa pun. Awalnya hubungan profesional saja sudah cukup, tapi dia memaksa mendekat, dan itu membuatku tidak nyaman.”

Menurutku, pegawai ini pasti membaca artikel-artikel “tips bersosialisasi” dan mencoba menerapkannya secara membabi buta.

Dan di sini aku ingin menegaskan: Tidak ada persahabatan yang lahir dari saling like.

Setiap Orang Memang Setara, Tapi Lingkaran Sosial Tidak Sama

Benar bahwa semua manusia setara. Mendiskriminasi orang adalah hal yang menyedihkan dan tidak bermartabat. Namun dalam kenyataan, fondasi ekonomi dan posisi sosial memang memengaruhi siapa yang akan menjadi temanmu, dan siapa yang akan memilihmu sebagai teman.

Dulu saat usiaku 22 tahun, aku bekerja sebagai jurnalis majalah dan sering mewawancarai artis. Awalnya aku juga bermimpi suatu hari aku bisa akrab dengan mereka, jadi teman dekat. Tapi tidak sampai setahun, aku paham bahwa itu hanya ilusi.

Para artis itu ramah, profesional, dan menghargai siapa pun di sekitarnya. Tapi untuk menghabiskan akhir pekan berjalan-jalan ke mall mewah dan “belanja tas”,  aku bahkan tidak mampu membeli satu pun. Topik mereka, gaya hidup mereka, lingkaran mereka—semuanya bukan dunia yang aku pahami.

Sosialisasi seperti itu melelahkan bagi dua pihak. Tidak ada yang menikmati, tidak ada yang mendapat manfaat.

Jika Lingkaran Sosial Berbeda, Jangan Memaksa Masuk

Tidak perlu memaksa diri mendekati orang dari lingkaran yang tidak cocok denganmu. Tidak perlu memaksa diri bersikap manis demi terlihat ramah. Tidak perlu menyiksa diri demi memenuhi standar orang lain.

Mengurangi sosialiasi yang tidak perlu itu penting.

  • Pertama, jika tidak ada kecocokan, dipaksakan pun tetap tidak bahagia.
  • Kedua, waktu sangat berharga. Semakin dewasa, kita tidak ingin membuangnya untuk hal-hal yang tidak menghasilkan apa pun. Lebih baik fokus cari uang, mengembangkan diri, atau bersama orang-orang yang benar-benar kita sukai.
  • Ketiga, kenyataannya: Tanpa modal yang setara, tidak ada “pertemanan strategis” yang mampu memberi manfaat nyata.

Koneksi yang berguna hanya lahir saat dua orang berada pada level yang seimbang.

Kesimpulan

Jadi, tidak perlu “berusaha mati-matian” agar diterima oleh lingkaran yang bukan milikmu. Tidak perlu mengejar-ngejar orang yang tidak sefrekuensi denganmu.

Ketika waktunya tiba, ketika dirimu sudah berada pada tahap yang tepat,  lingkaran yang kamu impikan akan membuka pintunya sendiri untukmu.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine