EtIndonesia. Seorang petani memiliki dua buah ember. Setiap hari, dia memikul kedua ember itu dengan sebatang kayu sambil berjalan menuju sungai untuk mengambil air.
Salah satu ember memiliki retakan di sisinya. Setiap kali mereka sampai di rumah, ember yang retak itu hanya membawa kembali setengah dari air yang dipikulnya, sementara ember yang satunya selalu penuh.
Selama dua tahun, hari demi hari, petani itu hanya bisa membawa satu setengah ember air pulang ke rumah.
Ember yang utuh merasa sangat bangga karena sempurna dan selalu dapat menjalankan tugasnya. Sebaliknya, ember yang retak merasa rendah diri dan malu karena kekurangannya membuatnya tidak bisa bekerja dengan “baik”.
Setelah dua tahun merasa gagal, akhirnya suatu hari di tepi sungai ember yang retak memberanikan diri berkata kepada tuannya: “Tuan, saya sangat malu. Karena retakan ini, saya selalu bocor sepanjang jalan, dan hanya bisa membawa pulang setengah ember air.”
Petani itu tersenyum dan menjawab: “Pernahkah kamu memperhatikan bahwa di sepanjang sisi jalan tempat kamu berada, tumbuh bunga-bunga yang indah, sedangkan sisi ember satunya tidak ada bunga sama sekali?
Aku sudah mengetahui cacatmu sejak awal. Karena itu aku menaburkan benih bunga di sisi jalanmu.
Setiap hari saat kita pulang membawa air, air yang bocor dari tubuhmu menyirami benih-benih itu.
Selama dua tahun ini, berkat dirimu, aku bisa memetik bunga-bunga segar untuk menghias meja makan di rumah.
Jika bukan karena “kekuranganmu”, bagaimana aku bisa memiliki bunga yang begitu indah untuk mempercantik rumahku?”
Ember yang retak tertegun mendengarnya. Ternyata kekurangannya justru membawa keindahan kepada pemiliknya.
Kita Semua Adalah “Ember yang Retak”
Setiap orang memiliki kekurangan dan kelemahan. Tidak ada yang sempurna. Namun, jika kita mau melihat dengan hati yang lapang:
- setiap kekurangan bisa berubah menjadi kekuatan,
- setiap kelemahan bisa membawa kebaikan,
- setiap ketidaksempurnaan bisa menciptakan keindahan lain yang tidak kita sadari.
Yang terpenting adalah belajar melihat kelebihan orang lain, menerima keterbatasan diri sendiri, dan memanfaatkan apa yang kita punya.
Dengan cara itu, hidup akan menjadi lebih ringan, hangat, dan penuh warna.(jhn/yn)


