Selalu Melihat Kekurangan Orang Lain—Sebetulnya yang Tersakiti Adalah Diri Sendiri

EtIndonesia. Seorang pemuda yang baru menikah sering bertengkar dengan istrinya. Dia menyesal karena merasa telah “salah pilih” sebelum menikah. Dia merasa hidup seperti ini tidak ada artinya. Maka dia berniat meminta nasihat ayahnya sebelum memutuskan untuk bercerai.

Setelah mendengar keluhan panjang lebar itu, sang ayah bertanya: “Anakku, istrimu punya kelebihan tidak?”

Pemuda itu mengeluh : “Sebelum menikah ada, sekarang sudah tidak ada.”

Ayahnya bertanya lagi:  “Kalau begitu… apakah kamu punya kelebihan di mata istrimu?”

Dia terdiam sebentar, lalu berkata :  “Sepertinya sama saja. Waktu sebelum menikah mungkin ada, tapi sekarang tidak ada lagi.”

Ayahnya tersenyum dan berkata : “Kamu masih lebih baik dariku. Saat sebelum menikah, ayah bahkan tidak tahu apa kelebihan ibumu.”

Pemuda itu ingin membantah, namun menelan kembali kata-katanya.

Pelajaran dari Sebongkah Batu dan Segumpal Kapas

Ayahnya berjalan keluar rumah, mengambil sepotong pecahan genteng dan segumpal kapas. 

Dia bertanya :  “Menurutmu, mana yang lebih keras?”

Pemuda itu bingung, tapi menjawab: “Tentu saja gentenglah yang lebih keras!”

Ayahnya lalu memegang keduanya pada ketinggian yang sama dan melepaskannya. Pecahan genteng jatuh dan hancur berkeping-keping.  Kapas jatuh perlahan, tanpa terluka sedikit pun.

Ayahnya bertanya:  “Kenapa yang keras justru pecah, sementara yang lembut tidak apa-apa?”

Pemuda itu berpikir sejenak lalu berkata:  “Kapas itu ringan dan lunak, jadi tidak rusak.”

Ayahnya menepuk bahunya dan berkata dengan penuh makna :  “Anakku, belajarlah untuk menjadi seperti kapas—rendah hati, lembut, tidak melukai orang lain, juga tidak melukai dirimu sendiri. Jangan menjadi seperti genteng: keras, kaku, penuh sudut tajam—begitu terkena dingin akan membeku, begitu terbentur akan pecah, menyakiti orang lain sekaligus menyakiti dirimu.”

Dia melanjutkan :  “Sepanjang hidup ayah menyadari satu hal: Mengakui kelebihan orang lain akan membuat hatimu hangat.  Terus-menerus menatap kekurangannya justru melukai dirimu sendiri.

Belajarlah seperti kapas—bisa menghangatkan orang lain, bisa melindungi dari angin dingin. Satu ucapan yang baik bisa menghangatkan pasanganmu seumur hidup. Satu kalimat yang egois dan tajam bisa membuatnya sakit hati selama bertahun-tahun… bahkan menghancurkan pernikahanmu.

Sekarang jawab ayah: apakah kamu ingin ayah memperlakukan ibumu seperti kamu memperlakukan istrimu?”

Pemuda itu menunduk dan berkata : “Tidak, Ayah. Sama sekali tidak.”

Kemudian dia berbalik, pulang ke rumahnya tanpa berkata apa-apa lagi.

Penutup

Mengakui kelebihan seseorang membuat hati kita lebih hangat. Terus mencari kekurangannya hanya akan menyakiti kita sepanjang hidup.

Dalam pernikahan apalagi—ingatlah kebaikannya, ingat pula kekurangan kita sendiri. Dengan begitu, hati menjadi lebih lembut, hubungan menjadi lebih hangat.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine