EtIndonesia. Siput tua itu merayap perlahan—pelan sekali, bahkan kura-kura tua pun menganggapnya terlalu lambat. Kura-kura itu pernah menang dalam lomba lari melawan kelinci, jadi dia merasa punya hak untuk mengejek siput.
“Zaman sudah berubah, kamu masih saja jalan pelan begitu? Tidak ada kemajuan sama sekali!” cibir kura-kura.
“Apa salahnya bergerak pelan? Pelan itu lebih aman,” jawab siput. “Lagu rakyat saja bilang, ‘Siput memanggul rumah yang berat, langkah demi langkah merayap naik… saat dia sampai di pohon anggur, buahnya sudah matang.’”
Melihat siput begitu puas dengan diri sendiri, kura-kura pun malas menanggapi lebih jauh.
Siput tua tetap menjalani kebiasaannya: sebelum bergerak, dia selalu memanjangkan antenanya perlahan—mengendus kiri, menengok kanan—dan hanya ketika benar-benar merasa aman barulah dia maju setapak demi setapak.
Dengan bangga dia berkata kepada anak-anaknya: “Berhati-hati adalah tradisi mulia keluarga siput. Keluarga kita bisa bertahan sampai sekarang justru karena kebiasaan ini. Tidak apa-apa lambat, yang penting tidak membuat kesalahan. ‘Kerja lambat menghasilkan hasil terbaik.’ Setiap langkah yang kita ambil harus meninggalkan jejak untuk diwariskan kepada generasi setelah kita—jejak penuh kebanggaan!”
Takut anak-anaknya tidak mendengar dengan jelas, siput tua itu lalu merayap ke atas sebuah roda karet, berdiri di atasnya dengan penuh wibawa, dan mengulanginya sekali lagi.
Dia berpesan: “Ingat baik-baik!”
Dia tidak tahu bahwa roda itu ternyata adalah salah satu roda pesawat. Tiba-tiba roda itu mulai bergerak. Siput hampir saja tergilas!
Beruntung dia berpengalaman dan dengan cepat masuk ke celah kecil, sehingga lolos dari maut.
Pesawat itu kemudian melaju di landasan. Beberapa saat kemudian—lepas landas.
Saat roda pesawat mulai terlipat ke dalam badan pesawat, siput ikut terseret dan menempel di bagian bawah tubuh pesawat.
Ketika dia membuka mata…
“Wow! Dunia di luar begitu indah, begitu luas!”
Baru saat itu siput memahami mengapa kura-kura dulu menganggap mereka tidak punya ambisi.
“Kami selama ini puas dengan secuil tanah di bawah hidung sendiri. Kami menutup diri, tidak mau maju, tidak ingin melihat dunia yang lebih besar… betapa menyedihkan!”
Pesawat itu kadang terbang rendah, kadang menembus awan, dan dalam sekejap melintasi ribuan gunung dan sungai. Siput terpukau.
“Makhluk raksasa ini mampu menciptakan keajaiban begitu besar, tapi tidak pernah memikirkan meninggalkan ‘jejak mulia’ seperti kami. Sementara kami—setiap gerakan kecil sudah merasa hebat, sibuk meninggalkan jejak seolah-olah berharga. Betapa lucunya… betapa menyedihkannya!”
Siput tua ingin sekali pulang dan menceritakan pengalaman ini kepada anak-anaknya. Dia ingin memperbaiki ajaran lamanya.
Namun…
Saat pesawat mendarat di negeri asing, guncangan keras membuat siput terjatuh di landasan.
Dia tidak pernah berhasil pulang. Dia tidak pernah bertemu anak-anaknya lagi.
Dan karena itu…
Anak-anak siput tetap memegang teguh ajaran kuno sang leluhur. Mereka terus mengulang-ulang “pelan itu aman”, “harus hati-hati dulu”, “setiap langkah harus meninggalkan jejak”.
Mereka pun tetap merayap dengan cara lama: perlahan memanjangkan antena, memeriksa depan-belakang-kiri-kanan, memastikan semuanya aman—baru bergerak setapak. Setelah itu dengan tekun meninggalkan bekas lendir yang berkilap… bekas yang bagi dunia luar tampak menjengkelkan.
Kisah ini mengingatkan kita:
Kadang tradisi yang diyakini benar selama turun-temurun justru mengurung kita dalam dunia yang sempit.
Dan sayangnya, mereka yang pernah melihat dunia lebih luas sering kali tidak sempat kembali untuk membuka mata generasi berikutnya.
Karena itu, jangan hanya puas dengan langkah kecil dan zona aman. Dunia jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di depan hidung kita. (jhn/yn)


