Ekonomi Jawa Timur Tetap Tangguh, BI Optimistis Pertumbuhan 2025 Bertahan di Kisaran 5,4–5,7%
Surabaya — Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur menyampaikan bahwa stabilitas ekonomi nasional dan daerah tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Dalam paparan resmi kepada media, Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, menegaskan bahwa perekonomian Indonesia dan Jawa Timur memasuki 2025 dengan landasan makro yang kuat, didorong inflasi yang rendah, daya beli yang terjaga, serta sinergi kebijakan antar-otoritas.
“Ini menjadi modal awal untuk memperkuat stabilitas ekonomi makro nasional di tengah dinamika perekonomian global,” ujar Ibrahim.
Ekonomi Global Masih Berisiko, Indonesia Bertahan Stabil
BI menilai ekonomi global masih berada dalam fase melambat. Namun, Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan pada level di atas 5%, jauh lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan global yang berada di kisaran 3%. Inflasi nasional pada Oktober 2025 tercatat 2,86%, masih berada dalam rentang sasaran 2,5 ±1% sesuai target pemerintah.
Ibrahim menegaskan bahwa keberhasilan menjaga inflasi menjadi kunci utama stabilitas, terlebih menjelang periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang kerap memicu lonjakan harga.
Kebijakan BI Turun Berjenjang, Dorong Sektor Keuangan dan Riil
Sejak September 2024, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak enam kali hingga mencapai 4,75%. Namun Ibrahim menjelaskan bahwa transmisi kebijakan tidak dapat dirasakan secara seketika oleh sektor riil.
“Kebijakan moneter tidak langsung menyentuh sektor riil, tetapi ditransmisikan melalui sektor keuangan. Ini memerlukan waktu dan koordinasi lintas lembaga,” jelasnya.
BI juga memperkuat kebijakan sistem pembayaran, termasuk perluasan transaksi QRIS dan instrumen non-tunai untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Pertumbuhan Ekonomi Jatim Tetap Menguat
Ditopang oleh struktur ekonomi terbesar kedua di Indonesia setelah DKI Jakarta, Jawa Timur memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional:
- 25,65% terhadap ekonomi Pulau Jawa
- 14,5% terhadap ekonomi nasional
Pada triwulan III 2025, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,22% (yoy), sedikit lebih rendah dari triwulan sebelumnya (5,23%) namun tetap dalam tren ekspansi kuat.
Pertumbuhan ini ditopang oleh:
- Konsumsi rumah tangga, yang menyumbang 60% PDRB Jatim
- Investasi, meskipun masih di level 27,5%, dinilai perlu ditingkatkan ke atas 30% untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan
- Sektor konstruksi, pertanian, pendidikan, dan informasi–komunikasi, yang menunjukkan akselerasi signifikan
Sementara dari sisi eksternal, kinerja ekspor Jatim memang melambat namun masih tumbuh dobel digit. Kenaikan harga emas turut mendorong nilai ekspor komoditas perhiasan.
Inflasi Jawa Timur Lebih Rendah dari Nasional
Inflasi Jawa Timur pada Oktober 2025 tercatat 2,69% (yoy), lebih rendah dibandingkan nasional (2,86%). BI memperkirakan inflasi Jatim akan tetap dalam koridor sasaran hingga akhir tahun, yakni 2,5 ±1%.
Meski begitu, BI mengingatkan potensi tekanan harga pada komoditas tertentu menjelang Nataru, terutama:
- Telur ayam ras
- Minyak goreng
- Beras
- Cabai rawit
- Angkutan udara
Berdasarkan pola historis 2019–2024, telur ayam ras selalu mengalami kenaikan harga pada bulan Desember dalam 11 dari 12 kali pengamatan.
BI meminta pemerintah daerah mengambil langkah antisipatif melalui penguatan pasokan dan kelancaran distribusi pangan.
Transaksi Digital Melesat, Penggunaan QRIS Naik Signifikan
Aktivitas ekonomi Jawa Timur tercermin dari tingginya transaksi tunai dan non-tunai. Penggunaan QRIS tumbuh pesat, sejalan dengan preferensi generasi milenial dan Gen Z yang semakin terbiasa dengan transaksi digital.
Pertumbuhan transaksi QRIS tercatat masih double digit, baik dari sisi volume maupun nilai. Hal ini menjadi indikasi kuatnya aktivitas ekonomi masyarakat.
Outlook 2025: Pertumbuhan Tetap Solid, Inflasi Terkendali
BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada 2025 berada di kisaran 5,4–5,7%, didorong konsumsi rumah tangga dan investasi yang semakin membaik. Sementara itu, inflasi diperkirakan tetap dalam rentang 2,5 ±1% hingga 2026.
Meski demikian, BI menyoroti adanya peningkatan permintaan akhir tahun yang berpotensi menaikkan inflasi hingga 0,7% selama November–Desember, namun level tersebut masih dinilai aman.
BI Gelar High Level Meeting TPID, Perkuat Ketahanan Pangan dan Stabilitas Harga
Sebagai bentuk kewaspadaan menjelang Nataru, BI bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan menggelar High Level Meeting TPID, TP2DD, dan TP2ED pada 25 November 2025, dipimpin oleh Gubernur Jawa Timur.
Pertemuan ini akan fokus pada:
- Penguatan ketahanan pangan
- Pengendalian harga
- Percepatan digitalisasi ekonomi daerah
- Antisipasi permintaan tinggi akhir tahun dan persiapan Ramadan–Idul Fitri 2026
BI menegaskan bahwa sinergi lintas lembaga diperlukan untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif.
Ibrahim menutup pemaparannya dengan ajakan untuk terus memperkuat kolaborasi antar-otoritas, dunia usaha, dan masyarakat dalam menjaga stabilitas ekonomi Jawa Timur.
“Kami ingin memastikan semua bisa diantisipasi sejak awal. Stabilitas harga, ketersediaan pasokan, dan kelancaran distribusi adalah kunci agar ekonomi tetap tumbuh,” ujarnya.


