EtIndonesia. Di Pulau Heimaey, Islandia, setiap tahun terjadi sebuah tradisi penyelamatan alam yang sangat unik. Warga setempat akan keluar rumah pada tengah malam sambil membawa senter, mencari anak burung puffin yang tersesat.
Lalu, ketika matahari terbit, mereka akan membawa burung-burung kecil itu ke tepi tebing dan satu per satu “melemparnya” ke udara.
Terdengar seperti lelucon aneh—padahal ini adalah upaya penyelamatan spesies burung yang kini terancam punah. Bagaimana sebenarnya tradisi ini berlangsung?
Pulau Heimaey — Rumah Bagi Jutaan Burung Puffin
Heimaey adalah bagian dari Kepulauan Vestmannaeyjar, salah satu lokasi koloni burung puffin Atlantik terbesar di dunia. Meski penduduknya hanya sekitar empat ribu orang, setiap musim panas pulau ini kedatangan jutaan puffin yang datang untuk berkembang biak.
Anak puffin tumbuh di sarang gelap di tepi tebing, mirip liang kecil seperti lubang kelinci. Mereka dirawat selama enam minggu hingga tiba waktunya—antara Agustus hingga September—untuk meninggalkan sarang dan memulai kehidupan baru di lautan lepas.
Terjebak Cahaya Kota, Anak Puffin Sering Tersesat
Untuk menghindari predator seperti burung camar, anak puffin biasanya keluar sarang pada tengah malam. Secara naluriah, mereka akan terbang menuju cahaya, karena pantulan cahaya bulan di permukaan laut biasanya menjadi panduan mereka.
Namun, lampu-lampu kota justru menyesatkan mereka. Banyak anak puffin yang mengira cahaya kota adalah cahaya laut, sehingga terbang turun ke permukiman, pelabuhan, atau kawasan industri—tempat mereka bisa tersangkut, terjebak, atau akhirnya mati karena kelaparan.
Sebagian lagi menjadi mangsa burung camar atau bahkan kucing rumahan.
Aksi Penyelamatan Besar-besaran di Tengah Malam
Karena itu, warga Heimaey setiap tahun menjalankan misi penyelamatan massal. Dengan senter dan kotak kardus di tangan, mereka menyisir gang-gang, atap rumah, area parkir, hingga kolong mobil, untuk menemukan anak puffin yang tersesat.
Burung-burung kecil yang ditemukan kemudian dibawa pulang, dirawat sementara sepanjang malam, dan esok paginya dibawa ke tebing.
Di sana, warga mencari momen ketika angin bertiup dengan tepat, lalu mengangkat burung itu perlahan dan melemparkannya ke udara.
Mengapa Harus Dilempar?
Bagi burung puffin, “dilempar ke udara” bukan tindakan kasar—justru penyelamatan.
Puffin memiliki sayap yang pendek dan lebih cocok untuk berenang daripada terbang. Mereka membutuhkan dorongan awal dan bantuan angin untuk bisa melayang dan kemudian terbang lurus menuju laut.
Jika dilepas dari tanah datar, kebanyakan anak puffin tidak bisa terbang dan justru akan terseret angin ke tanah atau tersandung bebatuan.
Populasi Menurun Tajam — Aksi Warga Sangat Penting
Musim penyelamatan tahun ini berlangsung hampir lima pekan, dengan total 3.284 anak puffin berhasil diselamatkan. Selama 30 tahun terakhir, populasi puffin dunia telah menurun lebih dari separuh, dan kini spesies ini masuk dalam kategori “Rentan Punah” (Vulnerable) menurut IUCN.
Tradisi penyelamatan ini telah menjadi bagian penting dari upaya melindungi spesies puffin di Islandia.
Jika Anda Berkunjung ke Islandia pada September…
Jika Anda berencana berwisata ke Islandia pada September, jangan ragu ikut serta dalam aksi penyelamatan ini. Selain membantu menyelamatkan satwa liar, Anda juga akan mencicipi hangatnya kepedulian masyarakat Heimaey—sebuah pengalaman yang benar-benar istimewa. (Jhon)


