EtIndonesia. Di kota kecil Meissen—“kota porselen” Eropa yang berada di kaki Pegunungan Ore, Jerman—terdapat sebuah pabrik keramik terkenal. Namun selain porselennya yang mendunia, tempat itu juga terkenal karena sosok seorang pria bernama Johann Friedrich Böttger. Lebih dari tiga puluh tahun lalu, Böttger hanyalah seorang pekerja pengangkut sampah di pabrik porselen Meissen.
Saat itu, ahli teknik utama pabrik tersebut adalah seorang Italia bernama Puce. Seluruh kemampuan produksi pabrik bergantung pada Puce dan beberapa muridnya. Suatu hari, karena berselisih dengan manajemen, Puce marah dan membawa seluruh muridnya kembali ke Italia.
Pabrik pun lumpuh total. Produksi terhenti karena tidak ada satu pun yang mampu menggantikan posisi sang ahli. Semua pimpinan pabrik kebingungan—situasi kala itu benar-benar kacau.
Di tengah kepanikan itu, seseorang tiba-tiba berdiri dan berkata: “Bolehkan saya mencoba?”
Itulah Böttger, si pengangkut sampah.
Pimpinan pabrik langsung menggeleng keras: “Kamu? Seorang pengangkut sampah ingin mengerjakan pekerjaan seorang ahli?!”
Tanpa menunggu izin, Böttger pulang mengambil sebuah vas keramik buatannya sendiri.
Dia menaruhnya di atas meja dan berkata: “Silakan lihat. Bandingkan dengan produk pabrik. Menurut Anda, yang mana lebih baik?”
Para pimpinan memeriksanya—dan mereka semua tertegun. Mereka tak percaya apa yang mereka lihat.
“Benar kamu yang membuatnya?” tanya mereka hampir serempak.
Böttger mengangguk mantap: “Tentu. Saya yang membuatnya.”
Ternyata, selama hampir sepuluh tahun bekerja sebagai pengangkut sampah, dia secara diam-diam mempelajari teknik Puce setiap hari.
Bahkan hal-hal yang tidak berhasil dipelajari oleh pekerja resmi yang ditugaskan sebagai murid Puce—justru berhasil dia kuasai sepenuhnya.
Manajemen pabrik kemudian bertanya: “Kalau begitu, apa permintaanmu? Katakan saja.”
Dengan penuh kehati-hatian Böttger berkata: “Gaji saya sekarang 20 euro per bulan. Bisakah dinaikkan menjadi 30 euro?”
Dia buru-buru menambahkan : “Saya tetap akan mengangkut sampah seperti biasa. Posisi teknisi hanya pekerjaan sampingan. Ibu saya menderita asma parah dan membutuhkan obat seharga 10 euro setiap bulan. Sedangkan gaji saya hanya cukup untuk kebutuhan makan keluarga.”
Rupanya, selama ini dia iri pada para murid teknisi yang digaji 30 euro per bulan, sementara dirinya hanya mendapat 20 euro.
Karena ingin menyamai mereka—dan terutama agar ibunya bisa membeli obat—dia menekuni keterampilan membuat keramik secara diam-diam.
Mendengar itu, manajemen pabrik berkata: “Jika kamu benar-benar bisa menggantikan Puce, bukan hanya kamu tidak perlu lagi mengangkut sampah, mulai sekarang gajimu akan sama dengan Puce — 10.000 euro per bulan!”
Sejak hari itu, pabrik porselen Meissen kembali beroperasi. Dan Böttger, si pengangkut sampah yang sederhana, sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari dia dapat memperoleh gaji setinggi itu.
Kini, Meissen telah menjadi pusat keramik ternama di Jerman—dan nama Johann Friedrich Böttger bahkan jauh lebih dikenal daripada para ahli keramik terbaik dari Italia.
Apa pun pekerjaanmu saat ini, apa pun statusmu, selama kamu memiliki mimpi dan mempersiapkan diri dengan tekun, akan tiba waktunya ketika mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan.
Karena kesempatan selalu berpihak kepada mereka yang siap menyambutnya.(jhn/yn)


