EtIndonesia. Ada pepatah mengatakan: “Dari ratusan jenis pekerjaan, di setiap bidang selalu ada orang yang jadi ahlinya.”
Tapi sekarang, tampaknya muncul satu pekerjaan baru — dan tak tahu apakah pekerjaan ini akan membawa seseorang menuju sukses.
Zheng Tong adalah seorang petugas layanan kamar di sebuah hotel. Hari itu, seorang tamu perempuan datang ke lantai yang menjadi tanggung jawabnya. Wanita itu berambut panjang, tubuh ramping, membawa koper kecil — jelas seorang gadis cantik.
Zheng Tong membantunya membuka pintu kamar, dan ketika dia hendak pergi, gadis itu menahannya: “Jangan pergi dulu, aku mau lihat kamarnya dulu.”
Begitu pintu terbuka, gadis itu langsung melepas sepatu hak tingginya dan masuk dengan bertelanjang kaki. Dia meraba meja teh, membuka tirai, duduk di atas tempat tidur, lalu menghampiri pintu kamar mandi dan mencium udara di sana.
Zheng Tong heran, tapi gadis itu kemudian berkata: “Aku kurang puas dengan kamar ini. Bisa diganti yang lain?”
Zheng Tong mengangguk dan menggantikan dengan kamar sebelah. Tapi setelah diperiksa, gadis itu tetap tidak puas. Dia kembali minta kamar lain. Begitu seterusnya — tiga kamar telah dia lihat, tetapi semuanya dia tolak. Dia lalu minta kamar di seberang.
Zheng Tong agak bingung. “Kamar sebelah sana bukan bagian yang saya urus. Tapi kalau mau lihat, saya bisa bukakan.”
Akhirnya dia turun untuk mengambil kunci dan membukakan pintunya.
Gadis itu tetap masuk dengan bertelanjang kaki. Baru berjalan beberapa langkah, dia keluar lagi dengan wajah kesal — telapak kakinya penuh debu.
Zheng Tong buru-buru meminta maaf, : “Maaf sekali, mungkin kamar itu tidak dibersihkan dengan teliti.”
Gadis itu tersenyum kecil: “Itu bukan kamar yang kamu urus, tapi kamu tetap minta maaf? Ya sudah, setelah lihat beberapa kamar, aku rasa kamar pertama tadi yang terbaik. Aku pakai yang itu saja.”
Akhirnya kembali ke kamar awal. Tapi Zheng Tong tetap tersenyum — tidak sedikit pun terlihat kesal.
Gadis itu sepertinya puas dengan pelayanannya. Sebelum menutup pintu, dia menjabat tangannya: “Terima kasih ya. Namaku Tang Ying. Boleh aku tahu namamu?”
Zheng Tong memperkenalkan diri lalu pergi.
Atasan yang Salah Fokus
Saat Zheng Tong menuju lift, dia bertemu kepala bagian kamar, Wang Yumin.
“Aku dengar ada tamu yang sangat rewel?” tanya Wang.
Zheng Tong menjawab tenang: “Tidak rewel kok. Hanya minta lihat beberapa kamar. Sekarang sudah check-in.”
Wang mendengus: “Kalau dia hanya cari masalah, ya tidak usah diladeni!”
Saat itu Tang Ying juga tiba di depan lift.
Zheng Tong menunjuknya dan berkata: “Ini tamunya.”
Namun Wang tiba-tiba terdiam. Matanya berbinar.
Wang memang pria tampan dan pandai berbicara, dan dia selalu bangga bisa menaklukkan wanita mana pun. Dan jelas sekali — dia langsung jatuh hati pada Tang Ying.Dia pun mulai menggoda dan mengajaknya berbicara.
Zheng Tong menyelinap pergi, enggan melihatnya. Tak lama kemudian, Wang meminta Zheng Tong mengantarkan perlengkapan mandi sekali pakai ke kamar Tang Ying.
Zheng Tong bingung: “Bukannya hotel kita sudah tidak menyediakan barang-barang itu?”
Wang mendengus tidak sabar : “Suruh antar saja! Kalau dia tanya, bilang itu layanan khusus dari bagian kamar.”
Zheng Tong pun mengantarkan barang itu. Tang Ying hanya mengucapkan terima kasih tanpa bertanya apa pun.
Perhatian yang Tidak Berbalas
Keesokan harinya, meski jadwalnya libur, Wang datang ke hotel dengan dandanan rapi dan membawa seikat bunga besar.
Zheng Tong melihatnya dari jauh ketika dia mengetuk pintu kamar Tang Ying. Dia hanya bisa menggelengkan kepala.
Sore hari, hujan lebat tiba-tiba turun. Tang Ying pulang dalam keadaan basah kuyup.
Zheng Tong segera menghampiri : “Ada yang bisa saya bantu?”
Tang Ying menggeleng: “Tidak, terima kasih. Aku tadinya ingin jalan-jalan sebentar karena besok mau berangkat. Tidak menyangka hujan turun mendadak.”
Mendengar dia akan pergi, Zheng Tong merasakan sedikit kehilangan.
Namun keesokan siang, Tang Ying tidak check-out. Dia bahkan tidak keluar kamar. Zheng Tong mulai khawatir dan memberanikan diri mengetuk pintunya.
Tang Ying membuka pintu dengan mengenakan jaket tebal. Wajahnya pucat — jelas dia masuk angin.
Zheng Tong segera kembali ke ruang simpanannya, mengambil obat flu, dan mengantarkannya untuk Tang Ying.
Kebenaran Terungkap
Keesokan paginya, Tang Ying menghampirinya: “Terima kasih untuk obatnya. Aku sudah jauh lebih baik. Kamu ada waktu hari ini? Aku ingin jalan-jalan sebentar. Kuharap kamu bisa menemaniku.”
Kebetulan Zheng Tong libur siang itu, dan dia sangat senang mengiyakan permintaan itu.
Sayangnya, percakapan itu didengar oleh Wang.
Dia marah besar: “Aku sudah mengajaknya berkali-kali dia tidak mau! Tapi kamu yang diajak? Apa kamu kasih obat yang salah kemarin?!”
Zheng Tong tidak menggubrisnya. DIa terlalu bahagia untuk peduli.
Sore itu, mereka berdua keluar bersama.
Barulah Tang Ying menceritakan hal sebenarnya: “Aku datang ke sini bukan untuk liburan. Aku bekerja. Sebenarnya aku harus pulang kemarin, tapi karena masuk angin, aku menunda sehari. Jadi hari ini sekalian istirahat.”
Zheng Tong terkejut : “Bekerja? Pekerjaan apa?”
Tang Ying tersenyum: “Aku adalah hotel tester — atau ‘tester hotel’. Tugas aku adalah menginap, mengecek kebersihan, pelayanan, fasilitas, lalu menulis laporan untuk dipublikasikan. Hari itu aku sengaja cari alasan pindah kamar untuk memeriksa tingkat kebersihan. Kamar yang kamu urus sangat bagus. Tapi kamar yang dikelola orang lain… penilaiannya tidak terlalu tinggi.”
Melihat ekspresi terkejut Zheng Tong, Tang Ying menambahkan: “Pekerjaanku sebenarnya sangat melelahkan. Aku harus pindah dari satu hotel ke hotel lain tanpa henti. Karena itu aku ingin mencari teman untuk bersantai sebentar. Kamu terlihat orang yang baik, jadi aku mengajakmu keluar hari ini. Ayo, kita nikmati setengah hari ini!”
Zheng Tong mengangguk dengan bahagia.
Kadang, kebaikan yang sederhana — ketulusan, kesabaran, dan tidak mengeluh — justru membuka pintu yang tak terduga.(jhn/yn)


