EtIndonesia. Gelombang perlawanan generasi muda kembali mengguncang Nepal. Dua bulan setelah tumbangnya pemerintahan sebelumnya akibat aksi besar-besaran Gen-Z pada September 2025, kekacauan kembali pecah. Bentrokan terbaru yang terjadi pada 19–20 November 2025 menandai “gelombang kedua” revolusi anak muda terhadap struktur politik yang dianggap korup dan feodal.
19 November 2025: Bentrokan di Simara Meledak
Menurut laporan CNA (Channel News Asia), kerusuhan pecah kembali pada 19 November 2025 di Simara, distrik Bara, Nepal. Bentrokan melibatkan aktivis pemuda yang dikenal sebagai motor “Gerakan Z-Generation” melawan kelompok pendukung partai komunis yang sebelumnya memegang kekuasaan.
Acara publik Partai Komunis Nepal hari itu memobilisasi ribuan pendukung. Namun kelompok pemuda segera menggerakkan massa tandingan untuk memprotes apa yang mereka anggap sebagai kembalinya “status quo korup” yang pernah mereka gulingkan sebelumnya.
Ketegangan meningkat ketika kader partai menyerang kelompok demonstran. Bentrokan menyebar cepat hingga ke area Bandara Simara, mengganggu jadwal penerbangan dan memaksa otoritas keamanan mengerahkan pasukan tambahan.
20 November 2025: Gelombang Aksi Susulan
Situasi memanas lagi pada 20 November 2025. Ribuan pemuda kembali turun ke jalan di berbagai kota, terutama di distrik Bara dan wilayah perbatasan dengan India.
Tuntutan utama mereka:
- Penangkapan dan hukuman bagi kader partai yang menyerang demonstran.
- Akuntabilitas aparat yang dianggap membiarkan kekerasan terjadi.
- Reformasi total sistem politik dan administrasi lokal.
Pemerintah menetapkan jam malam dan larangan berkumpul untuk mencegah eskalasi. Namun kebijakan itu justru memicu kemarahan lebih besar karena dianggap sebagai pengulangan praktik otoriter yang memicu revolusi September.
Latar Belakang: Revolusi September 2025
Revolusi Gen-Z Nepal pertama kali meledak pada awal September 2025 setelah Perdana Menteri K.P. Sharma Oli memblokir beberapa platform media sosial untuk “keamanan nasional”. Kebijakan itu dianggap sebagai serangan langsung terhadap kebebasan berbicara.
Protes serentak mahasiswa, pekerja muda, dan kelompok digital activism membuat pemerintah tumbang. Oli akhirnya mundur di bawah tekanan publik dan internal partai.
Namun dua bulan setelah tersingkirnya pemerintahan tersebut, masalah-masalah mendasar yang melahirkan gerakan itu ternyata tak kunjung ditangani.
Akar Kemarahan: “Ini Bukan Lagi soal Pemerintah, Tapi Sistemnya”
Seorang pengguna platform X (Twitter) bernama Thau Meow menulis pada 20 November 2025 bahwa akar kemarahan generasi muda tidak terselesaikan pascarevolusi September: “Masalah dasarnya tetap sama — korupsi, nepotisme, dan ketidakadilan distribusi sumber daya. Tidak ada yang berubah.”
Dia menekankan bahwa Gen-Z Nepal kini bergerak lebih jauh: “Anak muda Nepal tidak hanya ingin mengganti pemerintah; mereka ingin mengganti seluruh sistem politik yang dikuasai kaum bangsawan lama.”
Ungkapan ini menjadi viral dan dikutip ribuan kali, mencerminkan sentimen luas di kalangan pemuda Nepal yang frustrasi terhadap elite politik yang dianggap tidak mau melepas kekuasaan.
Nepal di Persimpangan Jalan
Krisis politik Nepal kini memasuki fase paling berbahaya sejak pergolakan 2025 dimulai. Dua faktor utama membuat situasi semakin volatil:
1. Struktur Politik yang Feodal
Banyak jabatan penting—dari pusat hingga tingkat distrik—masih diisi berdasarkan loyalitas keluarga dan patronase politik.
2. Generasi Baru yang Tidak Mau Menunggu
Gen-Z Nepal menguasai media sosial, berpendidikan lebih tinggi, dan memiliki jaringan aksi yang bergerak cepat. Mereka menolak kompromi yang biasa dipakai elite lama untuk meredakan krisis.
Apa Selanjutnya?
Jika pemerintah gagal meredakan ketegangan dan memberikan reformasi konkret dalam beberapa minggu ke depan, analis memperkirakan gelombang ketiga dapat terjadi—potensial lebih besar dan lebih terorganisir dibanding dua episode sebelumnya.
Nepal kini berada di tengah badai politik yang dipimpin generasi muda yang tidak lagi percaya pada struktur lama. Apa yang terjadi dalam hari-hari mendatang dapat menentukan arah masa depan politik negara ini selama satu dekade ke depan.


