EtIndonesia. Menanggapi pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang menyebut bahwa “jika Taiwan menghadapi krisis, Jepang juga berada dalam ancaman eksistensial”, pihak Tiongkok langsung bereaksi keras — mulai dari penghinaan diplomatik, balasan ekonomi, sampai provokasi militer.
Namun, bukannya membuat Jepang mundur, tindakan Beijing justru memicu kemarahan publik Jepang secara luas. Para analis menilai langkah Beijing ini merupakan bentuk “deterrence yang merugikan dirinya sendiri” dan akan menimbulkan backfire di banyak aspek.
Serangkaian Balasan Beijing
Dalam sesi parlemen Jepang pada 7 November, Takaichi menegaskan bahwa krisis di Taiwan sama dengan kondisi darurat bagi kelangsungan hidup Jepang. Sehari kemudian, pada 8 November, Konsul Jenderal Tiongkok di Osaka, Xue Jian, bahkan melontarkan komentar “pemenggalan kepala” secara terbuka terhadap Takaichi.
Setelah itu, Beijing terus mengeluarkan berbagai langkah pembalasan, antara lain:
- Media pemerintah CCTV menayangkan segmen 3 menit di program Xinwen Lianbo untuk menakut-nakuti Takaichi.
- Membatasi kembali perjalanan wisata warga Tiongkok ke Jepang.
- Menarik film Jepang dari berbagai platform.
- Mengirim kapal penjaga pantai mendekati Kepulauan Senkaku (Diaoyu) untuk memancing ketegangan.
- Meluncurkan dua putaran latihan militer dengan peluru tajam di Laut Kuning.
- Di ranah diplomasi, opini publik, dan ekonomi, tekanan ke Jepang juga ditingkatkan.
Langkah terbaru terjadi pada 19 November, ketika Beijing mengumumkan pelarangan impor hasil laut Jepang dengan alasan “pengawasan air olahan Fukushima tidak memadai”.
Selain itu, kapal pesiar Tiongkok yang dijadwalkan singgah di Pulau Miyako pada 20 November tiba-tiba membatalkan pendaratan tanpa pemberitahuan dan langsung kembali ke Xiamen — membuat ribuan turis Tiongkok kebingungan.
Mengapa Beijing Begitu Marah?
Pakar menilai pernyataan Takaichi soal Taiwan telah memukul titik paling sensitif bagi Tiongkok.
Mantan pengacara Beijing yang kini memimpin aliansi pro-demokrasi di Kanada, Lai Jianping, mengatakan: “Takaichi menyingkap apa yang selama ini hanya menjadi ‘strategic ambiguity’ Jepang. Itu memalukan bagi Beijing, membuat mereka merasa tersudut, lalu melancarkan serangan personal dan ingin ‘menghukum’ Jepang.”
Meski propaganda Tiongkok menggambarkan Jepang seolah “mundur”, faktanya pemerintah Jepang teguh mempertahankan sikap dan sama sekali tidak menarik kembali pernyataan Takaichi.
Efek Berbalik: Jepang Justru Semakin Bersatu
Menurut Lai Jianping: “Bukan hanya Takaichi yang tidak mundur—parlemen Jepang juga tidak gentar. Rakyat Jepang melihat arogansi Beijing dan justru bersatu. Jepang dan Taiwan kini semakin solid dalam menghadapi satu musuh yang sama.”
Hal ini terlihat dalam survei terbaru media Jepang, yang menunjukkan kabinet Takaichi masih mempertahankan tingkat dukungan sangat tinggi, salah satu yang tertinggi dalam sejarah pemerintahan Jepang modern.
Akademisi menilai tekanan Tiongkok justru memperkuat sentimen anti-Beijing di masyarakat Jepang.
“Deterrence yang Merugikan Diri Sendiri”
Profesor Sun Guoxiang dari Universitas Nanhua Taiwan menjelaskan bahwa tekanan keras Beijing justru mempercepat:
- proses militerisasi Jepang,
- peningkatan kemandirian diplomasi Jepang, dan
- dukungan publik terhadap politisi garis keras seperti Takaichi.
“Tindakan Beijing dibaca sebagai upaya mempertahankan kehormatan nasional Jepang — sehingga justru memperluas dukungan publik dan internal Partai Demokrat Liberal.”
Ia menambahkan bahwa efek lain dari pendekatan Beijing adalah memaksa negara-negara Asia berdekatan membentuk blok yang semakin kompak untuk menghadapi Tiongkok.
“Diplomasi intimidatif Beijing hanya menambah rasa takut dan kewaspadaan di Asia Timur dan Asia Tenggara, membuat mereka semakin aktif mencari keseimbangan kekuatan.”
Dampak terhadap Kawasan dan Ekonomi
Dengan meningkatnya tekanan Tiongkok, negara-negara sekitar makin sadar bahwa ketergantungan ekonomi saja tidak cukup menjamin keamanan. Kerja sama dengan AS dan negara sekutu akan menjadi pilar keamanan yang lebih penting.
Penasihat senior lembaga kajian Indo-Pasifik sekaligus Wakil Rektor Universitas Kainan, Chen Wenjia, berkata: “Sikap memalukan Beijing justru memberikan amunisi bagi kubu konservatif di Jepang bahwa Beijing bukan pihak yang bisa diajak berdialog, melainkan ancaman yang harus dihadapi.”
Ia juga menilai ketegangan ini mempercepat:
- perpindahan perusahaan Jepang keluar dari Tiongkok,
- diversifikasi rantai pasok Asia,
- penguatan kerja sama AS–Jepang–Taiwan.
“Secara keseluruhan, diplomasi serigala Beijing kembali melukai diri sendiri. Tiongkok ingin menunjukkan kekuatan, tetapi hasilnya justru mendorong Jepang semakin ke kanan, semakin pro-Amerika, dan semakin mendukung Taiwan.”
Pada 18 November, Komite Khusus DPR AS untuk Kompetisi Strategis AS–Tiongkok juga menegaskan: “AS dan sekutu Jepang berdiri dalam satu garis, menentang intimidasi dan pemerasan yang dilakukan Tiongkok.” (jhon)


