Provinsi Liaoning, Tiongkok : Praktisi Falun Gong Chen Yan Meninggal Dunia Tiga Hari Setelah Dipenjara

EtIndonesia. Seorang praktisi Falun Gong dari Kota Benxi, Provinsi Liaoning, Chen Yan, berusia 45 tahun, meninggal dunia secara tragis hanya tiga hari setelah dipindahkan ke Penjara Wanita Provinsi Liaoning. Ia ditangkap pada Juli tahun lalu dan pada Mei tahun ini dijatuhi hukuman lima tahun penjara atas tuduhan yang dianggap tidak sah.

Menurut laporan Minghui.org, Chen Yan sebelumnya memiliki kehidupan stabil setelah lulus kuliah. Namun pada 2015, ia ditangkap karena membagikan informasi tentang Falun Gong dan ditahan di Rumah Tahanan Kota Benxi. 

Selama penahanan itu, ia mengalami penyiksaan berat, termasuk dipaksa mengonsumsi obat tak dikenal, dipukul, dicaci maki, dan disiksa menggunakan metode “penarikan ekstrem”. Ia kemudian dijatuhi hukuman tiga tahun dan menjalani hukuman di Penjara Wanita Provinsi Liaoning, di mana penyiksaan obat berlanjut. Setelah bebas, kesehatannya tidak pernah pulih total.

Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah latihan spiritual yang dipublikasikan di Tiongkok pada awal 1990-an. Praktik ini mengajarkan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar, dan di luar Tiongkok umumnya dianggap sebagai keyakinan.

Pada tahun 1999, Partai Komunis Tiongkok (PKT) melancarkan penindasan brutal terhadap para praktisi Falun Gong, menggunakan kampanye propaganda untuk menggambarkan para pengikut damai itu sebagai musuh negara dalam sekejap. Pada dini hari 20 Juli tahun itu, penangkapan massal dilakukan, dan ribuan orang dikirim ke kamp kerja paksa berdasarkan hukum yang saat itu memungkinkan “re-edukasi melalui kerja” selama tiga hingga lima tahun tanpa proses pengadilan ataupun vonis.

Penindasan tersebut terus berlangsung hingga sekarang, mencakup penahanan sewenang-wenang terhadap tahanan hati nurani, kerja paksa, penyiksaan, cuci otak, hingga pengambilan organ hidup-hidup.

Penangkapan Kembali pada 2024

Pada 14 Juli 2024, saat membagikan informasi Falun Gong di dekat Stasiun Liubei, Distrik Xihu, seseorang dari komunitas setempat merekamnya dan melaporkannya ke polisi. Chen Yan langsung ditangkap.

Keesokan harinya, 15 Juli, ia dibawa ke Rumah Tahanan Kota Benxi dengan kepala ditutup kain hitam. Di sana, ia berulang kali dipukuli oleh tahanan lain hingga mengalami luka di berbagai bagian tubuh. Kondisi fisik maupun mentalnya menurun drastis—ia tampak murung, lamban merespons, dan berada dalam kondisi mental yang sangat buruk.

Chen Yan kemudian menceritakan bahwa pada 5 Agustus 2024, di area udara terbuka penjara yang diawasi sipir bernama Wang Naihan, beberapa narapidana memukulnya hingga jatuh. Setiap kali ia berusaha bangkit, ia kembali dihajar. Ia tidak tahu berapa lama itu berlangsung. Lehernya kaku, kepalanya sakit luar biasa, dan seluruh tubuhnya kesakitan. Ketika ia meminta sipir menindak pelaku, Wang hanya berkata: “Pergi!”

Pemukulan Berkali-kali dan Tidak Ada Akses ke Pengacara

Pada 1 Januari 2025, di sel yang diawasi sipir yang sama, seorang tahanan narkoba bermarga Ma memukul bagian belakang kepalanya. Besoknya, tahanan lain bermarga Li—pelaku kasus pembunuhan—memukul mata kanannya hingga kacamatanya mental. Ketika ia hendak menulis surat pengaduan, sipir menolak memberi kertas dan pena.

Ia berkali-kali meminta bertemu jaksa yang membawahi rumah tahanan, namun permintaannya ditolak.

Proses hukumnya pun penuh kejanggalan. Pengacara keluarga Chen Yan tidak diizinkan membaca berkas kasus, apalagi bertemu dengannya. Pada 17 Desember 2024, pengadilan menjadwalkan sidang, tetapi Chen Yan menolak hadir karena dipukuli dan tidak ada tindak lanjut dari pihak rumah tahanan. Pengadilan akhirnya membatalkan sidang.

Pada 15 Januari 2025, sidang kedua dijadwalkan. Ia kembali menolak hadir karena masih terus dipukuli dan tidak diberi akses bertemu jaksa.

Setelah desakan keluarga, pertengahan Januari barulah ia bertemu jaksa bernama Che Dingding, namun jaksa ini tidak melakukan apa pun dan bahkan berusaha menutupi fakta pemukulan.

Chen Yan kemudian juga menolak sidang ketiga yang direncanakan Februari, karena kondisi pemukulan berlanjut dan tidak ada proses hukum yang benar.

Sidang Pemaksaan dan Kondisi Tubuh yang Memburuk

Pada 15 Mei 2025, petugas Pengadilan Distrik Xihu memaksa melakukan sidang keempat langsung di dalam sel tahanannya.

Setelah hampir 10 bulan ditahan, Chen Yan tampak sangat kurus dan kulitnya menghitam. Ia menolak mengakui legalitas sidang tersebut. Saat proses berjalan, ia sempat ke kamar mandi, lalu berdiri di dekat pintu kamar mandi—hingga hakim hanya bisa melihat ke arah lubang pembuangan saat membacakan agenda sidang.

Selama sidang, Chen Yan terus meneriakkan:  “Falun Dafa baik! Sejati–Baik–Sabar itu baik!”

Namun para petugas hanya menjalankan sidang secara formalitas.

Pada 26 Juni, ia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 5 tahun penjara serta denda 5.000 yuan. Ia langsung mengajukan banding.

Tanda-tanda Beban Fisik yang Semakin Parah

Pada 18 September, ketika ayahnya datang bersama pengacara, Chen Yan dibawa dengan kursi roda. Kedua kakinya tidak dapat digerakkan, rambutnya kusut menempel satu sama lain, dan tubuhnya terus bergetar.

19 September, Pengadilan Tinggi Benxi menolak bandingnya dan menguatkan putusan.

Pada Oktober, kedua orang tuanya kembali menjenguk. Ia tetap didorong dengan kursi roda. Ia berkata tubuhnya sangat lemah, bahkan untuk pergi ke toilet ia harus berpegangan pada dinding dan menekan lantai dengan satu tangan agar bisa menggeser tubuhnya. Ia mengatakan bahwa ia “mungkin tidak akan bertahan sampai pulang.”

Kalimat terakhir yang terdengar dari Chen Yan ketika bertemu orang tuanya adalah:  “Falun Dafa baik! Sejati–Baik–Sabar baik!”

Kematian Setelah Dipindahkan ke Penjara

Setelah kunjungan tersebut, orang tuanya bertanya kapan bisa bertemu lagi. Wakil kepala rumah tahanan menjawab:
“Ini terakhir. Bulan November dia akan dipindahkan ke penjara. Setelah itu, hanya bisa menjenguk di sana.”

Pada 5 November, keluarga mendapat kabar bahwa Chen Yan telah dipindahkan ke Penjara Wanita Provinsi Liaoning. Ketika ayahnya mempertanyakan kondisi putrinya yang sudah sangat lemah, pihak rumah tahanan mengatakan bahwa Chen Yan “normal” dan menuding ia berpura-pura sakit.

Namun pada 8 November pagi, mereka menerima telepon dari penjara: Chen Yan kritis dan sedang “diselamatkan” di rumah sakit. Ketika orang tuanya tiba, ia sudah meninggal.

Ibunya bertanya:
“Jika saat diterima pada tanggal 5 dia dinyatakan normal dan memenuhi syarat masuk, kenapa hanya tiga hari kemudian dia meninggal?”
Seluruh petugas diam tanpa menjawab.

Saat proses autopsi selesai, keluarga meminta laporan namun dilempar ke sana kemari—tak ada petugas yang bersedia memberi dokumen tersebut. Nomor kontak yang diberikan pihak penjara ternyata nomor kosong.

Ketika jenazah dipindahkan untuk dipakaikan pakaian terakhir, dari mulut Chen Yan mengalir cairan kental berwarna hitam, namun tidak ada pemeriksaan forensik terhadap cairan tersebut.

Bukan Kasus Tunggal

Dalam kasus-kasus Falun Gong, penahanan praktisi tanpa memperhatikan kondisi kesehatan telah berulang kali menyebabkan kematian dini. Dua contoh lain:

  • 15 Maret 2021: Hu Hanjiao (53 tahun), dari Hanchuan, Hubei, ditangkap karena membagikan informasi kesehatan kepada warga. Pada 9 November 2021, ia dipindahkan ke Penjara Wanita Wuhan dan meninggal pada hari ke-13. Keluarga dilarang melihat rekam medis maupun jenazah.
  • Ma Junting (86 tahun), insinyur senior dari Universitas Sains dan Teknologi Shandong, pernah mendapat “pembebasan bersyarat medis”. Namun pada 2025, pembebasan itu dibatalkan secara sepihak dan ia—yang sudah memakai kursi roda—dipaksa dipenjara di Penjara Wanita Jinan. Hanya dua bulan kemudian ia jatuh koma dan meninggal beberapa hari setelahnya. (jhon)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine