Taiwan Tangkap Mata-mata Tiongkok; AS Setujui Paket Penjualan Senjata Senilai Rp 16,6 Triliun untuk Perkuat Pertahanan

EtIndonesia. Pada Selasa, 18 November 2025, Taiwan kembali menggagalkan operasi mata-mata yang bertujuan merekrut prajurit aktif dan pensiunan untuk mengumpulkan informasi militer sensitif. Seorang warga negara Tiongkok ditangkap, sementara enam tentara Taiwan—baik aktif maupun pensiunan—ditahan dan diinterogasi. Kasus ini muncul di tengah meningkatnya tekanan militer Beijing terhadap Taiwan, termasuk latihan tempur simulasi yang semakin agresif.

Dalam satu minggu terakhir, Amerika Serikat juga dua kali menyetujui penjualan senjata ke Taiwan, menegaskan kembali komitmennya yang “kokoh seperti batu karang”.

Jaringan Mata-mata Terungkap, Warga Tiongkok Ditangkap

Otoritas Taiwan menangkap seorang warga Tiongkok bermarga Ding, yang diduga menjalankan operasi intelijen untuk kepentingan militer Tiongkok. Enam tentara Taiwan yang ditahan dituduh bekerja sama dengannya untuk mengumpulkan dan membocorkan rahasia pertahanan nasional.

Biro Investigasi Taiwan menyebutkan bahwa sejak 2018, Ding beberapa kali mengunjungi Taiwan dengan kedok perjalanan bisnis dan wisata. Selama itu, ia:

  • merekrut dua perwira pensiunan sebagai inti jaringan mata-mata,
  • kemudian memperluas jaringan dengan merekrut tentara aktif,
  • serta menerima transfer dana sebesar USD 356.444 ke rekening yang dibuka atas nama jaringan tersebut di Taiwan.

Dana itu diduga digunakan untuk membiayai operasi intelijen, termasuk pembayaran kepada para anggota jaringan.

Beijing Tingkatkan Simulasi Serangan Amfibi

Selain operasi mata-mata, aktivitas militer Tiongkok terhadap Taiwan terus meningkat.
Menurut citra satelit yang ditinjau Reuters, pada musim panas lalu sejumlah kapal sipil Tiongkok digunakan dalam latihan pendaratan di pantai Jecheng, Guangdong—sebuah lokasi yang dinilai sangat mirip dengan pesisir Taiwan.

Para analis militer menyebut latihan tersebut sebagai:

  • simulasi serangan amfibi,
  • pengujian taktik pendaratan cepat,
  • bagian dari rencana invasi yang lebih konkret.

Tujuannya adalah mempercepat kemampuan pasukan dan perlengkapan Tiongkok untuk mendarat dalam jumlah besar dalam waktu singkat, sehingga bisa melumpuhkan pertahanan Taiwan sebelum pasukan cadangan bisa dikerahkan.

Laporan AS: Tiga Momen Potensial Invasi

Dalam laporan tahunannya yang dirilis Selasa, Kongres Amerika Serikat menyebut ada tiga tahun kunci yang mungkin menjadi titik ancaman invasi:

  • 2027, ulang tahun ke-100 Tentara Pembebasan Rakyat,
  • 2035, target modernisasi militer tahap kedua,
  • 2049, target besar “kebangkitan Tiongkok” di bawah Partai Komunis.

Laporan itu juga memperingatkan bahwa:

  • dalam satu tahun terakhir Tiongkok menambah sekitar 350 silo rudal nuklir,
  • persediaan hulu ledak nuklir meningkat 20%,
  • pembangunan militer mereka sudah mendekati postur “siaga perang”.

AS Setujui Dua Paket Penjualan Senjata dalam Satu Minggu

Pada Kamis pekan lalu, AS menyetujui penjualan:

  • suku cadang jet tempur dan pesawat senilai USD 330 juta,
    yang merupakan paket pertama sejak Donald Trump menjabat kembali sebagai presiden.

Lalu pada Rabu, 19 November, AS kembali memberi persetujuan untuk menjual:

  • sistem rudal canggih senilai USD 700 juta.

Dengan demikian, total nilai penjualan mencapai USD 1 miliar hanya dalam waktu seminggu. Pemerintah AS menegaskan bahwa dukungan terhadap Taiwan tetap tidak tergoyahkan. (jhon)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine