EtIndonesia. Kemarin aku membaca sebuah kisah singkat yang cukup menarik. Ada dua orang yang sedang bertengkar hebat. Satu orang bersikeras bahwa 3×8 = 24, sementara yang satu lagi ngotot bahwa 3×8 = 21.
Mereka ribut setengah hari, tapi tetap tak menemukan titik temu. Akhirnya mereka pun pergi ke kantor pejabat daerah untuk meminta keadilan.
Pejabat itu mendengar cerita keduanya. Setelah memahami situasi, dia langsung memerintahkan bawahannya untuk menarik keluar dan menghukum orang yang bilang 3×8 = 24 dengan dua puluh kali cambuk. Orang itu tentu saja tak terima.
Setelah hukuman selesai, ia bertanya dengan marah: “Jelas-jelas dia yang salah dan dia yang bodoh, kenapa justru saya yang dipukul?”
Pejabat itu menjawab tenang: “Kamu bisa bertengkar setengah hari dengan orang yang bilang 3×8 = 21… kalau aku tidak menghukummu, mau menghukum siapa?”
Kisah ini sederhana, tapi kita semua, pada banyak momen dalam hidup, tanpa sadar sering memainkan peran sebagai orang pertama yang dipukul.
Kita terlalu sering menghabiskan waktu dan emosi untuk orang yang tidak layak, dan terjebak dalam hal-hal yang hanya merusak hidup.
Apa Itu Kedewasaan?
Kita sering mengatakan bahwa seseorang harus menjadi matang dan dewasa. Tapi apa sebenarnya arti “dewasa”?
Menurutku, dewasa berarti: berjumpa dengan orang buruk tapi tetap tidak terprovokasi; berhadapan dengan perkara buruk tapi tidak tenggelam di dalamnya.
Kedengarannya sederhana, tapi kenyataannya sangat sedikit orang yang benar-benar bisa melakukannya.
Harga Mahal dari Sikap Tidak Dewasa
Terakhir kali aku pergi ke rumah sakit adalah dua bulan lalu, menjenguk seorang teman, sebut saja Lao Chen.
Dia dan beberapa teman sedang makan di restoran. Di meja sebelah duduk beberapa orang mabuk—berisik, bernyanyi, menari, dan beberapa kali tanpa sengaja menyiramkan minuman ke baju Lao Chen.
Lao Chen menegur dengan sopan, mengingatkan mereka bahwa ini tempat umum.
Tapi yang terjadi justru debat sengit. Dan karena mereka sedang tinggi alkohol, pertengkaran mulut berubah menjadi perkelahian. Lao Chen terkena botol kaca di lehernya.
Untungnya arteri tidak robek dan nyawanya selamat, tapi dia tetap babak belur dan wajahnya bengkak seperti “kepala babi”.
Aku hanya bisa berkata: “Kamu pantas, untuk apa berdebat dengan segerombolan orang rusak seperti itu?”
Lao Chen mengakui bahwa dia menyesal. Dia tahu orang-orang itu tidak mungkin mendengar tegurannya.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Dia harus dirawat lebih dari dua minggu, kehilangan bonus bulanan, kehilangan dua klien, bahkan pernikahannya pun ikut tertunda.
Itulah harga dari sikap tidak dewasa: kerugian besar karena memilih berhadapan dengan orang yang tidak selevel.
Dengan Orang Rusak, Kamu Tidak Akan Pernah Menang
Di dunia ini, orang baik dan orang yang paham aturan tentu ada. Tapi orang yang rusak pun tidak sedikit.
Masalahnya, kamu tidak mungkin bisa mengajak mereka bicara logika. Karena bagi mereka, tidak ada batas, tidak ada aturan, tidak ada akal sehat.
Bukan berarti kamu harus “mengalah pada orang buruk”, bukan. Yang penting adalah mengendalikan emosimu, memilih respons yang rasional, dan tidak memperbesar kerugianmu sendiri.
Orang dewasa melihat konsekuensi, bukan hanya ledakan emosi sesaat.
Di Tempat Kerja, Orang Buruk Selalu Ada
Seorang pembaca pernah bercerita. Ia punya rekan kerja yang sangat licik. Ketika melihat ia disukai atasan, rekan itu terus menjebaknya dan menghambat pekerjaannya.
Aku bilang padanya: Di dunia profesional, orang seperti itu banyak. Justru karena kamu lebih baik, ia merasa terancam.
Yang harus kamu lakukan adalah: tetap memperkuat diri waspada terhadap serangan diam-dia, tapi jangan habiskan waktumu untuk meladeni dia, sebab jika kamu beradu dengan orang buruk, hasilnya hanya dua:
Kamu menang, tapi menghabiskan waktu, energi, reputasi, emosi—dan tetap rugi.
Kamu kalah, dan malah mendapat masalah tambahan.
Dua-duanya rugi. Pada akhirnya, kamu tetap bukan pemenang.
Efek Domino dari Masalah Kecil
Ada sebuah kisah yang terkenal. Seorang pria sedang mencuci muka. Dia meletakkan jam tangan mahalnya di tepi wastafel. Istrinya khawatir jam itu kena air, maka dia pindahkan jam itu ke meja makan.
Anak mereka bangun pagi, mengambil roti di meja makan, tanpa sengaja merusakkan jam tersebut.
Pria itu marah, memukul anaknya. Lalu dia juga memarahi istrinya. Pertengkaran membesar dan dia pergi ke kantor dalam keadaan emosi.
Karena tergesa-gesa, dia baru sadar sesampainya di kantor bahwa dia melupakan tas kerjanya. Dia pulang lagi. Tapi istrinya tak ada dan dia tak membawa kunci.
Dia menelepon istrinya. Istrinya terburu-buru pulang, tapi di jalan menabrak lapak buah, sehingga harus mengganti rugi.
Akhirnya pria itu tiba di kantor terlambat 15 menit, dimarahi atasan, dan karena moodnya sudah kacau, dia bertengkar lagi dengan rekan kerja.
Anaknya hari itu mengikuti lomba baseball. Karena kejadian pagi hari, dia tidak fokus dan akhirnya tersingkir.
Inilah yang disebut “Hukum Festinger.”
Banyak hal buruk sebenarnya bisa dihindari, tetapi karena kita menggandakan masalah kecil, hidup menjadi jauh lebih buruk.
Kalau saja pria itu tidak terpaku pada jam tangan yang rusak, seluruh rangkaian masalah tidak akan terjadi.
Itulah alasan mengapa kita tidak boleh tenggelam dalam hal-hal sepele yang merusak. Orang dewasa selalu melihat akhir, bukan awal masalahnya.
Berhenti Tepat Waktu adalah Sebuah Kecerdasan
Prof. Yi Zhongtian pernah berkata: “Jika hidupmu melaju ke arah yang salah, berhenti saja. Itu sudah merupakan sebuah kemajuan.”
Itulah yang disebut menghentikan kerugian tepat waktu. Dan berhenti mengutak-atik masalah yang sudah buruk, juga merupakan bentuk berhenti rugi.
Jika masalah sudah terjadi, fokuslah pada solusi, bukan pada emosi. Membiarkan diri terseret oleh perasaan negatif bukanlah ciri orang yang matang.
Dalam hidup, keberhasilan dan kegagalan, kebahagiaan dan kesedihan, semuanya sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara kita menghadapi orang dan peristiwa.
Hal yang sama, ketika ditangani dengan sikap yang berbeda, bisa menghasilkan hasil yang jauh bertolak belakang.
Kamu Mau Berdebat atau Mau Maju?
Kamu bisa memilih: terus berdebat dengan orang yang ngotot bahwa 3×8 = 21, atau memilih tersenyum, melangkah pergi, dan melakukan hal yang lebih penting.
Pilihan itu sepenuhnya ada di tanganmu.
Jadilah orang yang matang. Karena itu menentukan apakah hidupmu akan berkualitas atau tidak.
Hidup ini singkat. Belajarlah hidup dengan prinsip:“Bersainglah dengan orang baik untuk jadi lebih baik, tapi jangan biarkan orang bodoh menarikmu ke bawah.”
Kamu tidak bisa mengubah sifat orang buruk,tidak bisa memperbaiki akhir dari hal buruk, tapi kamu bisa mengubah sikapmu sendiri.
Dan di paruh kedua hidup ini— tidak terpancing, tidak terjebak, tidak mengulur masalah—itulah cara hidup yang paling elegan dan paling tinggi nilainya. (jhn/yn)


