Masa Kecil Tanpa Tempaan, Orangtua Pasti Menanggung Bebannya di Masa Tua

EtIndonesia. Ada pepatah mengatakan: “Sekaya apa pun, pendidikan anak tidak boleh dikorbankan. Sesayang apa pun, anak tidak boleh dimanjakan.”

Di sekitar kita, banyak orangtua yang hidup hemat dan serba kekurangan, tetapi ketika anak meminta barang bermerek mahal, mereka langsung membeli tanpa ragu. Ada pula orangtua yang membiarkan anak hidup tanpa perlu mengangkat satu jari pun—makan tinggal disajikan, pakaian tinggal dipakai, satu tugas rumah pun tidak diberi.

Orangtua sendiri jarang berlibur, tetapi ketika anak ingin mengikuti tur ke luar negeri, mereka rela berutang demi memenuhi keinginannya.

Lalu, bagaimana nasib anak-anak seperti ini setelah dewasa?

1. Ketika Anak Tidak Pernah Merasakan Getirnya Hidup, Dia Tidak Punya Kekuatan Menghadapi Hidup

Pernah ada sebuah berita yang membuat banyak orang terkejut.

Seorang pria bernama Yang, 32 tahun, lulusan Universitas Normal Weinan. Dia adalah anak tunggal, sejak kecil diperlakukan sebagai permata keluarga. Orangtuanya bekerja keras, hidup hemat demi menyekolahkannya hingga perguruan tinggi.

Tetapi karena sejak kecil tidak pernah mengalami penderitaan, begitu memasuki dunia kerja, dia pertama kali merasakan kerasnya kehidupan. Pengabaian, hinaan, rasa tidak dianggap—semua itu membuat mentalnya menyimpang.

Dia mulai memikirkan cara “cepat kaya”. Sampai suatu hari, dia mengetahui bahwa asuransi jiwa memberikan kompensasi besar jika terjadi kecelakaan. Dia pun menyusun rencana yang mengerikan: mendaftarkan banyak polis untuk kedua orangtuanya, termasuk asuransi kecelakaan dan cacat total.

Kemudian, dia memasukkan nitrit ke dalam makanan yang dia masak sendiri untuk orangtuanya. Saat makan, dia bahkan sengaja menyendokkan daging beracun itu ke mangkuk mereka.

Namun orangtua yang sangat menyayanginya justru tidak mau memakannya, karena ingin menyisakan yang terbaik untuk anaknya.

Yang tidak menyerah. Dia mencampur nitrit ke dalam air minum, mengaduknya, lalu menyajikannya kepada mereka.

Dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri saat orangtuanya tersiksa sebelum meninggal. Setelah itu, dia membuka tabung gas untuk membuat skenario “keracunan gas”.

Tragedi ini memang berasal dari kejahatan si anak, tetapi akarnya lebih dalam: orangtua yang terlalu memanjakan, mengatur segala hal, dan tidak membiarkan anak menghadapi sedikit pun kesulitan.

Anak seperti ini, begitu kehilangan perlindungan orangtua dan harus menghadapi dunia yang keras, mental dan daya tahannya runtuh seketika.

Rousseau pernah berkata: “Tahukah kamu bagaimana membuat seorang anak menjadi manusia paling sengsara?  Caranya: penuhi semua keinginannya.”

Kasih yang berlebihan bukan hanya menghancurkan masa depan anak, tapi juga mungkin menghancurkan hidup orangtua itu sendiri.

2. Tidak Ada Anak yang Sulit Dididik — yang ada hanyalah orangtua yang salah mendidik

Anak yang berhasil adalah hasil dari keluarga yang “bermartabat”—bukan dalam arti kekayaan, tetapi dalam: keluasan hati orangtua besarnya visi dan pola pikir prinsip pendidikan yang benar serta teladan nyata dalam hidup.

Contohnya Fan Zhongyan, tokoh besar pada masa Dinasti Song.

Semua orang mengenal ucapannya yang terkenal:  “Mengutamakan kesedihan dunia sebelum sedih, dan baru menikmati kebahagiaan setelah dunia bahagia.”

Namun tak banyak yang tahu bahwa keturunannya berjaya selama delapan ratus tahun, menghasilkan banyak pejabat dan sarjana ternama.

Dalam catatan sejarah, Fan Zhongyan selalu mendidik anak-anaknya dengan ketat:  “Jangan meremehkan uang, karena dia datang dari kerja keras. Jangan belajar hidup mewah, karena itu jalan menuju kemiskinan.”

Ketika anaknya, Fan Chunren, ingin mendekorasi kamar pengantin dengan kain sutra mewah, Fan Zhongyan marah dan berkata: “Keluarga kita selalu hidup sederhana. Jika kamu berani membawa tirai sutra itu masuk, aku akan membakarnya di depan semua orang!”

Bandingkan dengan kondisi sekarang: banyak keluarga miskin mati-matian menjadikan anaknya hidup seperti anak orang kaya—tanpa kesulitan, tanpa tugas, tanpa tanggung jawab.

Sementara keluarga kaya justru berusaha membuat anak mereka merasakan kesulitan hidup agar tumbuh kuat.

Lihat saja Dong Mingzhu, pengusaha besar Tiongkok.

Sejak kecil, dia membiasakan anaknya untuk mandiri: tidak pernah dijemput dengan mobil, selalu naik bus sendiri pernah menunggu lama hanya demi naik bus yang ongkosnya lebih murah belajar melakukan segalanya sendiri, bahkan saat ujian besar seperti gaokao.

Saat dewasa, anaknya berkata:  “Kalau Mama bisa mulai dari nol, aku juga bisa.”

Meski ibunya kaya raya, dia memilih hidup mandiri: gaji hanya lima–enam ribu yuan per bulan, mengendarai mobil biasa, dan tinggal di rumah kontrakan.

Karena jalan menuju kedewasaan tidak pernah punya jalan pintas. Kesulitan yang tidak dialami saat kecil akan ditagih kembali di masa depan.

Maka, mencintai anak bukan berarti menempatkan mereka dalam manisan, melainkan membiarkan mereka merasakan getirnya usaha, memahami nilai perjuangan, dan belajar berdiri sendiri saat badai datang.

3. Yang Berharga Bukan “Penderitaan”—Tetapi Kemampuan Bangkit Menghadapinya

Sejujurnya, penderitaan itu sendiri tidak otomatis membuat seseorang kuat.

Yang membuat anak bertumbuh adalah: pemahaman setelah melewati kesulitan, refleksi setelah diuji,dan kualitas kepribadian yang ditempa melalui pengalaman pahit.

Jika “makan苦” adalah satu-satunya standar, maka para gelandangan yang hidup susah setiap hari seharusnya menjadi pemenang hidup.

Yang patut dihargai bukan penderitaannya, tetapi kemampuan mengalahkan penderitaan dan kebahagiaan yang diraih setelah itu.

Banyak orang hafal kalimat Mencius: “Langit akan menurunkan tanggung jawab besar kepada seseorang dahulu, maka dia harus dibuat menderita, lelah, lapar…”

Tetapi mereka lupa bagian paling penting: tujuannya adalah mempersiapkan seseorang untuk memikul tugas besar.

Demikian pula saat mendidik anak. Membiarkan anak merasakan kesulitan tidak berarti membuatnya tersiksa, tetapi membuatnya belajar mengalahkan kesulitannya sendiri, mendapatkan apa yang ia inginkan dengan jerih payahnya, dan tumbuh menjadi pribadi yang benar-benar kuat.

Tahun lalu, Ketua Mahkamah Agung AS John Roberts, dalam pidato kelulusan putranya, berkata hal yang sangat menggugah:

 “Di acara kelulusan, pembicara biasanya mendoakan kalian beruntung. Tetapi aku tidak.

Aku berharap kalian sesekali diperlakukan tidak adil, agar kalian memahami pentingnya keadilan.

Semoga kalian dikhianati, agar kalian memahami nilai sebuah kesetiaan.

Semoga kalian kadang tidak beruntung, agar kalian menyadari bahwa kesempatan itu berharga.

Bila kalian gagal, semoga lawan kalian mencemooh kalian, agar kalian belajar arti kompetisi.

Semoga kalian pernah diabaikan, agar kalian belajar mendengarkan.

Semoga kalian merasakan sedikit rasa sakit, agar kalian punya empati.

Kesulitan-kesulitan ini pasti datang, tidak peduli kalian siap atau tidak.

Yang menentukan adalah apakah kalian bisa memahami pesan yang dibawanya.”

Inilah inti dari semua ini: Anak harus belajar menghadapi kesulitan — bukan agar menderita,
tetapi agar memahami arti kekuatan dan kebijaksanaan.

Jika sejak kecil anak belajar menghadapi tantangan, belajar bangkit setelah jatuh, belajar menyelesaikan masalah dengan kepalanya sendiri— maka kelak ia bisa memikul hidupnya sendiri.

Dan ketika anak mampu berdiri dengan kakinya sendiri, barulah orang tua dapat menikmati masa tua tanpa beban. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Ketahui Jalan Kehidupan yang Dapat Menyelamatkan Anda dari Kesalahan yang Memakan Waktu Puluhan Tahun

Sebagian besar jalan memutar dalam hidup bukan disebabkan oleh kurangnya kemampuan, melainkan oleh kesalahan penilaian kecil yang dilakukan berulang kali.  Apa yang akan dibahas berikut...

Rahasia Membangun Kekayaan: Pelajaran dari Tiga Tokoh Besar dalam Sejarah Tiongkok

Kerja keras dapat menopang kehidupan. Namun, kerja keras jarang menghasilkan kekayaan atau harta besar dengan sendirinya. Perbedaan antara sekadar mencari nafkah dan membangun kekayaan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine