EtIndonesia. Asosiasi Kristen Nigeria (CAN) pada Sabtu (22 November) mengungkapkan bahwa jumlah guru dan siswa yang diculik oleh kelompok bersenjata dari sebuah sekolah di Nigeria bagian utara mencapai 315 orang. Warga menyuarakan kekhawatiran mendalam dan menilai pemerintah gagal memberikan perlindungan dasar bagi rakyatnya.
Insiden penculikan terjadi pada Jumat pagi (21 November). Selain 215 siswa yang sebelumnya telah dikonfirmasi, kelompok bersenjata juga menculik 12 guru. Selain itu, 88 siswa lainnya turut diseret pergi ketika mereka berusaha melarikan diri.
Seorang teknisi, Gabriel Moses, mengatakan: “Negara kita sudah lama menghadapi masalah keamanan. Ada yang mengatakan ini makin parah karena komentar Trump, tapi bukan begitu. Sebelum ini pun situasinya bahkan lebih buruk. Satu-satunya tugas pemerintah adalah melindungi nyawa kami. Sekarang hal seperti ini jadi bahan pembicaraan setiap hari—hari ini dibahas, besok dibahas, lusa dibahas lagi. Tolong, mereka harus melakukan sesuatu untuk kami.”
Penculikan di sekolah telah menjadi salah satu ciri utama ketidakstabilan di Nigeria. Kelompok teroris menjadikan sekolah sebagai target strategis untuk menarik perhatian publik internasional.
Seorang pengemudi transportasi, Joseph Eze, menambahkan: “Pemerintah tahu apa yang terjadi. Saya tidak mengerti—militer punya jet tempur, seharusnya mereka bisa memberi tahu kita di mana anak-anak itu. Tapi mereka tidak bisa melakukan apa pun, karena sebagian besar anak pejabat itu tidak sekolah di Nigeria, melainkan di luar negeri.”
Hingga kini, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas penculikan tersebut.
Sebagai respons darurat, pemerintah Nigeria menutup seluruh sekolah di negara itu pada Sabtu, sebagai langkah menghadapi krisis keamanan yang terus memburuk. (jhon)


