Kesepakatan yang Tidak Masuk Akal: Mengapa AS Menuntut Ukraina Melepas Donbas?

EtIndonesia. Pemerintahan Amerika Serikat mengumumkan rancangan Perjanjian Damai 28 Poin untuk mengakhiri perang Rusia–Ukraina. Draf tersebut segera memicu polemik internasional karena dianggap sangat menguntungkan Rusia dan berpotensi menekan Ukraina menyerah.

Beberapa ketentuan utama yang menjadi sorotan:

  • Ukraina diwajibkan menyerahkan seluruh wilayah Donbas, termasuk Sloviansk, yang bahkan belum berhasil direbut Rusia hingga November 2025.
  • Garis kontak di Zaporizhzhia dan Kherson dipertahankan apa adanya, tanpa perubahan teritorial.
  • Kekuatan militer Ukraina pascaperang dibatasi maksimal 600.000 personel.
  • Sebagai kompensasi, lebih dari 100 miliar dolar aset Rusia yang dibekukan di Eropa akan dialihkan ke Dana Rekonstruksi Ukraina.

Pada 17–23 November 2025, muncul laporan bahwa Donald Trump memberikan ultimatum tujuh hari kepada Ukraina untuk menanggapi proposal tersebut—hingga sebelum Hari Thanksgiving (27 November 2025).

Namun pada 24 November 2025, saat diwawancarai media, Trump menegaskan bahwa rancangan tersebut bukan tawaran final, seraya berkata: “Kami hanya ingin menghentikan perang secepat mungkin. Jika saya menjadi presiden sejak awal, perang ini tidak akan terjadi.”

Laporan khusus ini menjelaskan logika negosiasi pemerintahan Trump, reaksi berbagai pihak, serta dampaknya terhadap Ukraina, Eropa, dan kawasan Indo-Pasifik.

Dua Pandangan Ekstrem tentang Kebijakan Trump di Ukraina

Sejak 2022 hingga 2025, wacana publik di internet terpecah menjadi dua ekstrem:

1) “Trump adalah antek Putin”

Pendapat ini menganggap Trump selaras dengan kepentingan Kremlin.
→ Penilaian ini tidak sepenuhnya tepat.

2) “Putin adalah pahlawan konservatif AS”

Sebagian kelompok konservatif memandang Putin sebagai simbol anti-liberal.
→ Penilaian ini pun tidak akurat.

Akibatnya, para analis yang mengambil posisi tengah sering tidak disukai kedua kubu.

Bagaimana Trump Sebenarnya Melihat Perang Ukraina?

Trump bukan boneka Putin

Beberapa tokoh konservatif AS simpati terhadap Putin karena:

  • Putin dianggap konservatif dalam isu LGBT dan nilai keluarga.
  • Zelenskyy memiliki latar belakang dunia hiburan yang tak disukai kelompok kanan.
  • Skandal Hunter Biden–Ukraina menjadikan Ukraina sorotan negatif bagi pendukung Trump.

Tokoh paling berpengaruh adalah:

Tucker Carlson

  • Mantan pembawa acara Fox News
  • Pada Februari 2024, dia terbang ke Moskow untuk mewawancarai Putin
  • dia percaya bahwa:
    • Kremlin bukan ancaman langsung bagi AS
    • AS tidak boleh ikut perang luar negeri
    • Bantuan ke Ukraina harus dihentikan

Ini adalah bentuk isolasionisme modern, mirip kebijakan AS pada 1920–1930-an.

Namun simpati konservatif terhadap Rusia tidak berarti Trump dibayar atau dikendalikan Putin.

Trump sebagai “Pendamai” yang Tidak Melihat Siapa Benar-Salah

Bagi Trump:

  • Siapa yang memulai perang tidak penting
  • Siapa benar atau salah tidak penting
  • Yang penting perang berhenti di bawah pemerintahannya

Saat Ukraina berkata: “Rusia menyerang kami, bantu kami!”

Trump merespons: “Saya tidak peduli siapa menyakiti siapa. Berhenti bertarung.”

Karena itu, Zelenskyy saat bertemu Trump dan JD Vance di Washington pada Pertengahan November 2025 berkali-kali menekankan tindakan agresi Putin—karena dia tahu Trump tidak fokus pada moralitas, melainkan pada penyelesaian praktis yang cepat.

Mengapa Trump Mendesak Ukraina untuk Mengalah?

Logika pemerintahan Trump sederhana: “Jika pada akhirnya Rusia tetap menguasai Donbas, lebih baik menyerahkan sekarang daripada perang berkepanjangan.”

Pandangan ini diperkuat oleh situasi lapangan:

Kondisi Ukraina (Oktober–November 2025)

  • Ukraina kehilangan wilayah Kursk setelah dukungan intelijen AS diputus.
  • Posisi Ukraina di Donbas terus mundur.
  • Bakhmut jatuh pada Mei 2023.
  • Avdiivka jatuh pada Februari 2024.
  • Ukraina tidak mampu melancarkan serangan balasan besar.
  • Rusia pun tidak mampu menyelesaikan perang cepat tanpa korban besar.

Putin memperingatkan pada 20 November 2025: “Jika Ukraina menolak perjanjian ini, apa yang terjadi di Kupiansk akan terjadi di tempat lain.”

Bagi Trump, solusi paling “rasional” adalah trade land for peace: menukar wilayah dengan perdamaian.

Dia bahkan mengutip contoh:

Perang Soviet–Finlandia (1939–1940)

Finlandia menyerahkan ±10% wilayahnya demi menghentikan perang.

Masalah Terbesar Logika Trump: Moralitas

Argumen moral yang menentang pendekatan Trump:

  • Rusia adalah pihak agresor.
  • Ukraina tidak boleh dihukum atas perang yang tidak mereka mulai.
  • Mengapa wilayah seperti Sloviansk—yang belum direbut Rusia—harus diserahkan?

Hal ini memicu kecemasan di Taiwan dan Asia Pasifik:

Apakah suatu hari AS bisa “menukar Taiwan” demi kepentingannya sendiri?

Namun secara strategis:

  • Pejabat Indo-Pasifik AS seperti Kurt Campbell dan Ely Ratner berulang kali menegaskan:
    • Tiongkok adalah ancaman utama AS
    • Kepentingan inti AS berada di Indo-Pasifik
    • Ukraina bukan pusat strategi AS
    • Taiwan adalah kepentingan vital

Meski demikian, Beijing pasti memanfaatkan situasi ini sebagai propaganda: “Ukraina saja ditinggalkan, Taiwan apalagi.”

Masalah Tambahan: Lemahnya Eropa

Jika Eropa kuat, Ukraina tidak perlu terlalu bergantung pada AS.

Realitasnya:

Negara yang memberikan dukungan terbaik:

  • Inggris
  • Norwegia
  • Swedia
  • Belanda

Negara yang banyak bicara tetapi minim aksi:

  • Prancis
  • Spanyol
  • Italia
  • Austria
  • Negara-negara Eropa Selatan

Negara yang justru menghalangi:

  • Hongaria
  • Slovakia

Fakta paling ironis:

Selama tiga tahun perang (2022–2025), Eropa mengimpor > 200 dolar miliar energi Rusia, namun bantuan militernya ke Ukraina < 200 miliar dolar.

Dengan kata lain:

Eropa mendanai Rusia sambil meminta AS menyelamatkan Ukraina.

Masa Depan Ukraina: Apa yang Bisa Terjadi?

Dengan kondisi militer Ukraina pada akhir November 2025:

  • Kemungkinan menang secara militer sangat kecil
  • Negosiasi diplomatik semakin tak terhindarkan
  • Tapi Ukraina harus memiliki martabat dan ruang negosiasi yang layak
  • Eropa dan AS harus memastikan Ukraina:
    • Tidak dipaksa menyerah
    • Tidak kehilangan legitimasi
    • Tidak menjadi preseden buruk bagi Taiwan atau negara lain

Perdamaian yang bertahan lama hanya bisa tercapai jika Ukraina diikutsertakan sebagai subjek utama, bukan objek tekanan geopolitik.

Kesimpulan Utama

  1. Perjanjian 28 Poin memicu kekhawatiran besar karena terlihat seperti penyerahan teritorial.
  2. Trump melihat dirinya sebagai pendamai, bukan sebagai pembela kebenaran moral.
  3. Logikanya praktis namun mengabaikan dimensi moral dan jati diri Ukraina.
  4. Eropa terlalu lemah untuk menopang Ukraina tanpa AS.
  5. Taiwan dan Asia Pasifik ikut memantau, karena pendekatan AS terhadap Ukraina bisa mempengaruhi persepsi dukungan AS bagi wilayah lain.
  6. Ukraina sangat mungkin memasuki fase negosiasi damai dalam beberapa bulan ke depan—meski publik Ukraina masih menolak gagasan tersebut.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine