EtIdonesia. Pada 24 Desember 2025, dinamika diplomasi perang Rusia–Ukraina bergerak cepat dan dramatis. Rencana perdamaian 28 poin yang sebelumnya dibahas Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina secara resmi dinyatakan tidak berlaku lagi. Menurut laporan eksklusif Financial Times, hasil perundingan terbaru di Jenewa, Swiss pada 23 Desember 2025 memangkas paket perjanjian itu menjadi 19 poin, meski daftar poin mana yang dihapus belum diumumkan secara publik.
Perubahan drastis tersebut membuka babak negosiasi baru yang lebih sempit tetapi lebih sensitif—khususnya terkait isu wilayah, keamanan, dan masa depan Ukraina dalam arsitektur pertahanan Barat.
Kemajuan di Jenewa – Trump : “Ada Peluang Positif”
Delegasi AS dan Ukraina yang tiba di Jenewa menyatakan bahwa pembahasan intensif selama beberapa hari terakhir menghasilkan “kemajuan besar”. Presiden AS, Donald Trump, yang memimpin inisiatif perdamaian ini, menulis bahwa dia melihat “perkembangan positif” menuju penghentian perang.
Menlu AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa: “Pembahasan teknis akan dilanjutkan hari ini, dan kerangka penghentian perang dapat tercapai dalam waktu yang sangat masuk akal.”
Sementara itu, Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen mengonfirmasi bahwa pertemuan AS–Ukraina di Jenewa menghasilkan “fondasi yang solid” bagi dimulainya dialog damai yang lebih formal.
Revisi Besar pada Rencana 28 Poin
Penasihat utama Zelenskyy, Mykhailo Podolyak, menyampaikan bahwa:
- sebagian poin dihapus,
- sebagian lainnya dimodifikasi,
- dan seluruh masukan Ukraina telah dipertimbangkan.
Wakil Menlu Ukraina, Sergiy Kyslytsya, juga menegaskan bahwa revisi terbaru AS “sangat berbeda” dari versi awal, terutama mengenai:
“Penghapusan klausul pembatasan militer Ukraina”
Draf awal membatasi jumlah personel Ukraina pascaperang menjadi 600.000 personel—syarat yang menuai protes keras dari Kyiv dan publik Ukraina. Menurut Kyslytsya, pembatasan ini kini tampaknya dihapus sepenuhnya.
“Pengaturan wilayah sensitif, NATO, dan hubungan AS–Rusia”
Isu-isu paling kritis ini akan dibahas langsung oleh Presiden Trump dan Presiden Zelenskyy, bukan lewat delegasi teknis.
Versi Eropa Ditolak Mentah-mentah oleh Rusia
Eropa juga mengajukan revisi versi mereka kepada Washington dan Kyiv, tetapi Moskow menolaknya tanpa diskusi lebih lanjut.
Alasan penolakan:
- Eropa tidak memberikan wilayah kepada Rusia.
- Eropa menolak permintaan Rusia agar memiliki hak veto terhadap keputusan NATO.
Namun Kremlin mengakui bahwa versi AS yang baru “lebih menguntungkan Rusia” dibandingkan proposal Eropa.
Putin Megutarakan Sikap Resmi
Presiden Rusia, Vladimir Putin berbicara langsung dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan.
Dalam pernyataannya, Putin mengatakan bahwa revisi terbaru itu: “Selaras dengan kesimpulan pertemuan puncak AS–Rusia di Alaska pada Agustus 2025.”
Moskow menyebut proposal terbaru ini layak dijadikan dasar penyelesaian akhir.
Namun lembaga riset militer Institute for the Study of War (ISW) memberikan penilaian berlawanan: “Rusia hanya akan menerima rencana yang pada dasarnya setara dengan penyerahan total Ukraina.”
Zelenskyy di Tengah Krisis Terburuk – dan Tiba-tiba Bangkit
Pada saat negosiasi berlangsung, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy sedang menghadapi tekanan domestik terberat sejak invasi 2022.
1. Kekurangan prajurit di garis depan
Mobilisasi lambat dan tingkat korban meningkat.
2. Skandal korupsi lingkar dalam
Terungkap dugaan penyalahgunaan dana, termasuk di Kementerian Pertahanan.
3. Penurunan drastis dukungan publik
Survei pada November–Desember menunjukkan tren kepercayaan negatif.
Namun secara mengejutkan, Zelenskyy berhasil membalik situasi dengan tiga langkah strategis:
1. Mengubah fokus publik dari isu korupsi ke nasionalisme
Dia merilis video pidato emosional yang viral—memaknai perang sebagai pertarungan martabat.
2. Membingkai rencana 28 poin sebagai pilihan moral
Dia menggambarkan dilema antara “martabat nasional” vs “hubungan dengan AS”.
3. Bergerak ke Eropa untuk dukungan tambahan
Kyiv memperkuat koordinasi dengan Berlin, Paris, dan Brussel demi menyeimbangkan tekanan AS.
Dalam salah satu pernyataannya, Zelenskyy tetap menyampaikan terima kasih kepada Trump, G20, dan negara-negara Barat—meski beberapa poin rencana itu merugikan Ukraina.
Deadline 27 November Dinyatakan Fleksibel
Menlu AS, Marco Rubio mengklarifikasi bahwa tenggat 27 November untuk merespons rencana perdamaian kini dapat dinegosiasikan ulang. Ini memberi ruang bagi Trump dan Zelenskyy untuk membuka babak dialog langsung.
Kesimpulan:
Zelenskyy mengonfirmasi bahwa proposal perdamaian kini telah diringkas menjadi kerangka baru yang lebih ringkas dan dipandang lebih realistis oleh pihak Ukraina.
Namun isu-isu inti tetap menggantung dan harus diputuskan langsung kepala negara:
- status wilayah Donbas & Krimea,
- masa depan Ukraina di NATO,
- jaminan keamanan pascaperang,
- jadwal implementasi perjanjian,
- serta mekanisme hubungan AS–Rusia.
Dunia kini menunggu—apakah pertemuan langsung Trump–Zelenskyy akan melahirkan sejarah baru, atau babak baru konflik yang lebih berbahaya.


