EtIndonesia. Seiring gencarnya pada warganet daratan Tiongkok yang menuntut keadilan dalam kasus hilangnya anak muda serta isu terkait perdagangan organ dan “anti-penuaan”, sebuah video travel blogger asal Tiongkok menjadi viral setelah dibagikan di platform X. Dalam beberapa video, blogger tersebut menceritakan pengalaman menyeramkan ketika ia diracun saat bepergian. Ia memperingatkan para travel blogger lain agar tidak tertipu.
Pemilik kanal “Perjalanan Wang Ankang” adalah seorang YouTuber yang mengendarai motor tiga roda yang dimodifikasi menjadi rumah kecil. Sejak tahun lalu, ia telah mengunjungi lebih dari 10 provinsi dan mendokumentasikan perjalanan hematnya. Namun ketika ia sedang fokus membangun kanal tersebut, seseorang mulai mengincarnya. Di sebuah kota kecil terpencil di Kota Nanping, Provinsi Fujian, ia mengalami kejadian diracun dan berhasil lolos dari maut.
Menurut ceritanya, kejadian itu terjadi pada suatu pagi di Januari 2025. Ia tiba di sebuah kota kecil di Fujian dan setelah tidur siang, ia bermain game di ponselnya. Tiba-tiba, seorang pria dengan motor listrik mendekatinya. Awalnya ia tidak ingin menanggapi, tetapi pria tersebut menarik minatnya dengan membahas perjalanan, video, dan hal-hal lain. Setelah berkali-kali diajak, akhirnya ia mengikuti pria itu ke sebuah “penginapan”.
Pria tersebut menyebut dirinya “San Ge” (Kakak San). Ia meminta Wang memarkir motor rumahnya di hutan kecil belakang penginapan, lalu mengajaknya naik ke lantai atas melalui pintu belakang untuk minum teh. Mereka minum teh sepanjang sore, kemudian diajak menginap beberapa hari. Malamnya, pria itu memasak sepiring paru babi dan membuka sebotol minuman keras. Mereka minum hingga pukul 10 malam.
Wang mengatakan ia hanya minum sedikit, tetapi langsung merasakan detak jantungnya meningkat dan kepalanya mulai pusing. Ia kembali ke motor rumahnya untuk tidur, tetapi sekitar tengah malam, pria itu mengirim pesan mengatakan ada hal penting yang ingin dibicarakan. Ia kembali diajak masuk untuk minum. Namun kali ini Wang menolak minum karena merasa ada yang aneh.
Dalam periode itu, pria tersebut melakukan dua panggilan video—satu dengan pria botak, satu lagi dengan seorang pemuda. Karena mereka berbicara dengan bahasa Hakka, Wang tidak mengerti. Yang membuatnya curiga, setiap panggilan video itu diarahkan ke dirinya dan ia diminta menyapa.
Pria itu kemudian mendorong Wang untuk mandi di kamar tertentu dan memberinya kartu kamar, mengatakan bahwa kamar itu lebih tenang dan ia bisa tidur di sana. Namun Wang merasa tidak enak dan menolak, lalu kembali ke motor rumahnya. Ia berkata, “Kalau malam itu aku tidur di kamar itu, akibatnya mungkin sangat buruk.”
Malam itu ia melakukan Livestreaming selama beberapa menit, tetapi tubuhnya mulai terasa tidak beres, seakan-akan akan pingsan. Dalam kondisi masih sadar, ia memutuskan berkendara pergi menembus kabut tebal pada tengah malam, meninggalkan penginapan “Longmen Inn” tersebut.
Setelah keluar, ia memanggil ambulans, tetapi membatalkannya karena takut tidak mampu membayar biaya. Ia kemudian mencari rumah sakit kecil di kota tersebut dan juga melapor ke polisi. Namun dokter hanya mengukur tekanan darah dan denyut nadi—tidak melakukan tes darah atau urine. Polisi juga tidak membuka penyelidikan dan tidak mencari pria tersebut. “Orang-orang di tempat itu terasa aneh,” kata Wang. Ia akhirnya pergi meninggalkan kota itu.
Keesokan harinya, ia bertanya langsung kepada “San Ge” tentang obat apa yang telah diberikan. Pria itu hanya menjawab: “Paru babi yang kemarin makin enak rasanya.” Wang kemudian beristirahat di sebuah desa kecil lebih dari 20 hari sebelum kesehatannya pulih.
Ia mengatakan bahwa meskipun berada di ambang kematian, ia tetap berusaha merekam video. “Saya bahkan tidak tahu pada siapa saya harus meninggalkan pesan terakhir. Rasanya benar-benar seperti saya akan mati.”
Setelah pulih, ia melanjutkan perjalanan hematnya. Namun di Guangxi ia kembali hampir terjebak dalam skenario yang sama: seseorang menawarinya barbeque, tetapi dua pria lain muncul dan ketika ia ingin pergi, ia ditahan. Ia berhasil lolos berkat golok yang ia bawa dan postur tubuhnya yang besar. Ia khawatir jika tidak, ia mungkin telah dibawa ke kawasan penipuan siber di Kamboja.
Ia mengatakan dirinya yang bertubuh besar saja sudah dua kali mengalami kejadian seperti itu. Ia khawatir bahwa dengan memburuknya ekonomi Tiongkok, semakin banyak orang yang nekat karena menganggur dan putus asa. “Mereka bermain dengan cara licik—entah meracunimu atau menipumu lalu membawamu pergi.”
Dalam perjalanannya, ia menyadari bahwa ada jaringan perdagangan manusia yang bekerja dengan cara menipu orang dan membawa mereka ke pusat penipuan di Myanmar atau Kamboja.
Dalam sebuah video YouTube yang diunggah pada Juli, ia mengatakan, “Sekarang, pusat kegiatan dari Myanmar sudah berpindah ke Kamboja. Jalur yang digunakan adalah dari Guangxi, lewat jalur air di Fangchenggang.”
Pengalaman Wang bukanlah kasus tunggal. Bertahun-tahun lalu, “Raja Petualangan Tibet” Wang Xiangjun pernah memperingatkan para pejalan kaki dan wisatawan yang bepergian sendirian ke Tibet. Ia menemukan banyak KTP milik gadis muda yang hangus terbakar separuh. Ia juga memperingatkan agar tidak sembarangan pergi ke Motuo (di Prefektur Linzhi, Tibet), karena banyak penginapan gelap yang meracuni pengunjung—banyak di antaranya “pergi dan tidak pernah kembali”.
Wang Xiangjun telah merekam banyak video tentang gletser. Ia meninggal secara misterius pada 2020 dan penyebab kematiannya penuh tanda tanya.
Sumber : NTDTV.com
Laporan oleh Jin Hong / Lin Qing


