Orang Dalam Beberkan Eksodus Manufaktur dari Tiongkok Kian Cepat di Tengah Merosotnya  Ekonomi

Seiring tuntutan diversifikasi dari pembeli global, perusahaan-perusahaan Tiongkok memindahkan produksi ke Vietnam, Indonesia, dan Asia Tengah

EtIndonesia. Ketika ekonomi Tiongkok terus merosot dan ketegangan dagang AS–Tiongkok semakin dalam, para produsen mempercepat langkah keluar dari Tiongkok menuju Asia Tenggara dan Asia Tengah, mengubah rantai pasokan yang selama ini menjadi pusat produksi global, menurut sejumlah orang dalam industri.

Rantai produksi yang padat karya dan berteknologi menengah hingga rendah dipindahkan ke Asia Tenggara, sementara beberapa industri berenergi tinggi bergeser ke Asia Tengah. Sejumlah pemilik bisnis Tiongkok bahkan telah memperoleh paspor asing dan kini mengelola pabrik-pabrik mereka di Tiongkok dari luar negeri.

Para sumber meminta identitas mereka dirahasiakan demi alasan keamanan.

Tuan Wang, anggota Kamar Dagang Provinsi Zhejiang, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa Zhejiang mengalami percepatan tajam dalam relokasi pabrik dalam lima tahun terakhir.

“Saya tahu bahwa dalam sepuluh bulan pertama tahun ini saja, setidaknya lebih dari 60 perusahaan di provinsi ini memindahkan operasinya ke Vietnam atau Malaysia karena mereka tidak mendapat pesanan,” ujarnya.

 “Dan ada kelompok lain yang diam-diam membangun pabrik di Vietnam namun tidak tercatat oleh kamar dagang, jadi jumlah sebenarnya mungkin lebih dari 100 atau bahkan lebih tinggi.”

Ia menambahkan bahwa sebagian pemilik pabrik di Zhejiang kini tinggal dalam jangka panjang di Eropa atau Asia Tenggara, mengelola perusahaan mereka dari jauh sambil memperoleh izin tinggal atau kewarganegaraan di negara-negara tersebut.

Data resmi mendukung tren ini. Pada paruh pertama 2025, Tiongkok mencatat 30.014 perusahaan baru dengan investasi asing, naik 11,7 persen secara tahunan. Namun, realisasi investasi asing yang benar-benar digunakan justru turun 15,2 persen pada periode yang sama. Artinya, nilai investasi yang masuk dari investor asing menurun meski jumlah perusahaan baru bertambah.

Bagi sebagian eksportir, relokasi bukan hal baru—hanya semakin cepat.

“Beberapa perusahaan di industri kami sudah mulai membangun unit produksi di Hanoi dan Haiphong di Vietnam sejak 2018 untuk menangani pesanan dari Eropa dan Amerika Serikat,” kata Tuan Zhao, produsen suku cadang mesin dari Zhejiang, kepada The Epoch Times.

Setelah pandemi COVID-19, klien asing menuntut diversifikasi geografis, menurut Zhao. Ia mengatakan perusahaannya sendiri menegosiasikan operasi perakitan di luar negeri pada 2023, dan fasilitas baru itu kini sudah beroperasi.

Ketegangan Dagang, Pesanan Menyusut

Tren relokasi tidak hanya terjadi di Zhejiang. Jiangsu dan Guangdong, dua pusat ekspor utama Tiongkok, menghadapi tekanan serupa seiring menyusutnya pesanan dari luar negeri.

Tuan Fang, yang berasal dari keluarga bisnis berpengaruh Rong Yiren, mengatakan kepada The Epoch Times, “Perusahaan Zhejiang pindah ke luar negeri terutama karena klien mereka menuntut lokasi produksi di berbagai negara, [dan] dibandingkan dengan Tiongkok, biaya lahan dan tenaga kerja di tempat-tempat itu cenderung lebih terkendali.”

Para pembeli asing di berbagai sektor mengurangi pembelian dari Tiongkok. “Putaran perang dagang kali ini memengaruhi seluruh rantai pasokan,” ujarnya. “Di beberapa sektor, penarikan perusahaan asing sangat jelas terlihat, dan banyak perusahaan hulu maupun hilir bangkrut, memutus rantai pasokan.”

Sejumlah perusahaan Jepang dan Korea di sekitar Ningbo telah memangkas pengadaan dari Tiongkok dan kini mewajibkan pemasok untuk membuka fasilitas di Vietnam atau Thailand, menurut Fang.

Di Suzhou dan Kunshan—dua pusat manufaktur besar di Delta Sungai Yangtze—investor asing sedang mengevaluasi lini produksi mana yang harus dipindahkan ke luar negeri.

Tuan Gu, yang mengoperasikan pabrik OEM elektromechanical di Kunshan, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa pesanan Eropa menurun sejak 2022. Pelanggan menuntut redundansi di beberapa negara, sehingga perusahaannya membangun cabang di Thailand. “Peralatan dan desain tetap disediakan kantor pusat [di Tiongkok], sementara pabrik di Thailand menangani langkah produksi menengah,” ujarnya.

Gu menjelaskan bahwa banyak pembeli asing jangka panjang yang dulu bergantung pada Tiongkok kini beralih ke Vietnam, Malaysia, dan India. Hal itu membuat produsen Tiongkok pindah ke negara-negara tersebut demi mempertahankan pesanan.

Vietnam Jadi Pemenang Terbesar

Vietnam kini muncul sebagai tujuan utama relokasi pabrik asal Tiongkok—mulai dari tekstil, perakitan elektronik, produk rumah tangga, hingga industri alas kaki. Sebagian besar fasilitas baru terkonsentrasi di kawasan industri wilayah utara negara itu.

Tuan Huang, seorang pengusaha Taiwan yang beroperasi di Vietnam, mengatakan kepada The Epoch Times, “Begitu produksi mulai berjalan di sini, perekrutan pekerja perakitan berlangsung cepat. Namun, penyetelan dan kalibrasi peralatan kunci masih dikerjakan teknisi dari Tiongkok. Pabrik-pabrik Tiongkok memilih Vietnam untuk memangkas waktu pengiriman ke pasar Eropa dan Amerika, sekaligus menyebar risiko di tengah situasi yang tidak pasti.”

Data Kantor Ekonomi dan Kebudayaan Taipei di Vietnam menunjukkan bahwa dalam tujuh bulan pertama 2025, Vietnam mengimpor barang senilai 101,4 miliar dolar AS dari Tiongkok—lebih dari 40 persen dari total impornya. Tiongkok pun kokoh menjadi pemasok terbesar bagi Vietnam.

Setelah Vietnam, Kamboja muncul sebagai pusat baru bagi produsen pakaian asal Tiongkok. Mantan jurnalis bisnis di Tiongkok, Tuan Chen, mengatakan kepada The Epoch Times, “Investasi Tiongkok di sektor ini umumnya berbentuk usaha patungan. Investor Tiongkok memegang saham, sedangkan bahan bakunya berasal dari Zhejiang dan Guangdong.”

Ia menambahkan bahwa Indonesia kini menjadi magnet bagi industri berbasis sumber daya dan energi, seperti peleburan nikel. Alasannya, produk yang dibuat di Indonesia lebih mudah diekspor ke Eropa dan Amerika Serikat.

Laporan organisasi nirlaba berbasis Washington, C4ADS, menyebutkan bahwa perusahaan Tiongkok menguasai sekitar 75 persen kapasitas smelter nikel Indonesia, dan sebagian di antaranya mendapat dukungan negara.


Peran Asia Tengah dalam Energi dan Material

Sementara sektor manufaktur ringan mengalir ke Vietnam dan Kamboja, industri berat justru bergerak ke Asia Tengah, terutama ke Kazakhstan dan Uzbekistan.

“Kazakhstan dan Uzbekistan menarik perusahaan kimia, bahan bangunan, serta pengolahan logam,” kata Chen. “Perusahaan Tiongkok memproduksi material dasar di sana, lalu mengirimkannya lewat jalur kereta api ke wilayah barat Tiongkok.”

Kazakhstan kini menjadi tujuan investasi terbesar Tiongkok di Asia Tengah, menerima sekitar 23 miliar dolar AS pada paruh pertama 2025, menurut data yang dikutip media pro-pemerintah Tiongkok.


Perubahan Arah Industri Manufaktur Tiongkok

Seorang akademisi Tiongkok, Tuan Su, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa ia belakangan menyadari banyak barang yang dijual di Tiongkok tidak lagi diproduksi di dalam negeri.

“Produk dengan merek yang sama sekarang bisa berasal dari Vietnam, Indonesia, atau bahkan Meksiko,” ujarnya.

Menurut Su, perubahan ini mencerminkan perombakan rantai pasokan global yang lebih dalam. Perusahaan-perusahaan kini menyesuaikan diri dengan ketersediaan tenaga kerja, bahan baku, biaya energi, dan akses pasar.

“Saya tidak melihat ekonomi Tiongkok akan kembali seperti dulu,” katanya. “Setidaknya dalam 20 tahun ke depan, jika ingin menyalahkan sesuatu, salahkan para pembuat kebijakannya.”

Ia menegaskan bahwa perubahan terbesar bukan hanya soal lokasi produksi, melainkan bagaimana posisi Tiongkok dalam rantai pasokan global tengah dibentuk ulang. Ia memperkirakan tata letak produksi lintas negara akan mendefinisikan ulang struktur pabrik, pola tenaga kerja, dan dinamika pasar dalam dua dekade ke depan. (***)

Xin Ling turut berkontribusi dalam laporan ini.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine