EtIndonesia. Sidang kasus mantan wakil kepala staf Gubernur New York Kathy Hochul, Linda Sun atau Sun Wen, yang dituduh bertindak sebagai agen asing, menerima suap, dan melakukan pencucian uang, memasuki hari ketujuh pada Senin (24 November). Persidangan berfokus pada tindakan Sun Wen membantu pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) menghalangi interaksi antara Taiwan dan pemerintah negara bagian New York, serta bagaimana pasangan tersebut memperoleh keuntungan besar dari pengadaan barang medis selama pandemi melalui perusahaan yang terhubung dengan kerabat mereka.
Dokumen pengadilan menunjukkan bahwa meskipun Amerika Serikat tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Republik Tiongkok (Taiwan), pemerintah federal dan negara bagian tetap menjalin hubungan non-resmi yang kuat dan terbuka. Pemerintah negara bagian New York tidak pernah membatasi pejabat tinggi untuk berinteraksi dengan perwakilan Taiwan.
Namun sejak 2016, Sun Wen bekerja sama dengan permintaan Konsulat PKT, secara bertahap mengurangi interaksi pejabat Taiwan dengan pemerintah negara bagian New York, termasuk: memberikan instruksi agar pertemuan dengan perwakilan Taiwan tidak dijadwalkan; serta menentang penetapan “Pekan Tradisi Warga Amerika Keturunan Taiwan”.
Pengadilan membeberkan banyak email dan pesan teks yang menunjukkan bahwa Sun Wen selama bertahun-tahun memberi informasi kepada Konsulat PKT, menghalangi kontak antara pejabat Taiwan dan pemerintah negara bagian, serta kemudian meminta pengakuan dan imbalan dari Konsulat.
Dalam satu pesan kepada Huang Ping, Konsul Jenderal PKT di New York saat itu, Sun Wen menulis:
“Saya telah berhasil memblokir semua pertemuan resmi dan informal antara gubernur, wakil gubernur, dan kantor perwakilan Taiwan. Kontak saya dengan mereka juga saya jaga pada tingkat minimum.”
Sun Wen bahkan meminta arahan dari Huang Ping mengenai apakah ia harus terus menghindari segala interaksi yang dapat dianggap sebagai “pengakuan” terhadap Taiwan. Ia juga berdiskusi dengan Huang tentang partisipasi Konsulat PKT dalam Pekan Raya Negara Bagian New York, serta secara proaktif memberikan saran dan membantu mengatur booth serta kegiatan mereka.
Hubungan pribadi keduanya juga sangat dekat. Sun Wen beberapa kali meminta makanan “Bebek Asin Nanjing” buatan koki pribadi Huang, dan berkata terus terang:
“Duta Besar Huang, saya ingin makan bebek asin.”
Huang membalas bahwa ia akan berusaha memenuhinya.
Sun Wen juga cepat menanggapi berbagai permintaan dari Konsulat. Pada Juli 2021, Huang Ping meminta bantuan untuk mengurus izin akses bandara bagi duta besar PKT yang baru agar bisa menyambut kedatangannya di Bandara Internasional JFK.
Sun Wen langsung merespons bahwa ia dapat langsung menghubungi pihak bandara untuk mempercepat proses, bahkan bersedia datang sendiri untuk membantu mengkoordinasi.
Bukti lain menunjukkan bahwa Sun Wen secara rutin berhubungan dengan beberapa pejabat tinggi Konsulat Tiongkok selain Huang Ping, termasuk Konsul Zhang Lin dan Wakil Konsul Li Lihua.
Pada 2019, saat Presiden Taiwan saat itu, Tsai Ing-wen, mengunjungi New York, Sun Wen terlihat hadir dalam aksi protes yang digelar tokoh pro-Beijing, Liang Guanjun — sebuah tindakan yang sempat memicu kehebohan di kalangan diaspora Taiwan.
Bukti juga menunjukkan bahwa pada awal pandemi COVID-19 pada 2020, Sun Wen sering berkomunikasi dengan empat pejabat Konsulat PKT. Ketika membantu mengkoordinasikan pengiriman barang medis, ia juga meminta Konsulat “mempromosikan” perusahaan cargo Air-City, yang terkait dengan suaminya, Hu Xiao.
Air-City dikelola oleh sahabat dekat Hu Xiao, tetapi Sun Wen memberi tahu Konsulat bahwa Air-City adalah “perusahaan logistik milik Hu”. Pada tahun yang sama, Air-City yang disarankan oleh Sun, menagih lebih dari US$700.000 biaya logistik kepada negara bagian New York.
Selain itu, bukti keuangan yang diajukan jaksa menunjukkan bahwa berkat dorongan Sun Wen, Departemen Kesehatan Negara Bagian New York membeli masker dan sarung tangan dari dua perusahaan yang terhubung dengan kerabatnya, yakni High Hope dan JCD, dengan nilai total lebih dari US$20 juta. Hu Xiao memperoleh keuntungan lebih dari US$8 juta dari transaksi tersebut.
Jaksa mengungkapkan bahwa Hu Xiao menginstruksikan perusahaan kerabatnya untuk mengirim tiga pembayaran — masing-masing US$500.000 — total US$1,5 juta ke rekening atas nama kerabatnya tetapi dikendalikan olehnya. Pembayaran dilakukan tepat dua hari sebelum Departemen Kesehatan membayar cicilan terakhir senilai US$6 juta kepada perusahaan tersebut. Uang US$1,5 juta itu kemudian dipindahkan ke rekening lain yang dikendalikan Hu.
Sun Wen juga mengatur agar sebuah perusahaan bernama “United Company” menjadi pemasok alat pelindung diri pemerintah negara bagian. Pada Maret 2020, ia merekomendasikan perusahaan itu sebagai “penyedia masker” dan memantau proses kontraknya.
Dokumen internal pemerintah yang ditemukan di komputer terdakwa menyebut bahwa perusahaan itu “direkomendasikan oleh Kamar Dagang PKT”, namun bukti menunjukkan rekomendasi itu tidak pernah ada. (Hui)
Laporan oleh Zhao Fenghua, New Tang Dynasty Television.


