EtIndonesia. Beberapa hari lalu, saat ada kegiatan orang tua–anak di TK putri saya, seorang anak laki-laki menarik perhatian saya. Semua anak berkumpul mengelilingi guru bermain permainan, tapi hanya anak laki-laki ini yang berdiri menyendiri di pojok ruangan. Dia memegang erat sebuah handuk mandi tua, menunduk diam tanpa suara — begitu patuh sampai membuat hati saya tersentuh.
Belakangan, saya sempat berbicara singkat dengan ibunya. Dia bercerita bahwa suatu hari ketika sedang memandikan anaknya, dia dan suaminya bertengkar hebat. Anak itu menangis sambil memeluk handuk mandi tersebut. Sejak kejadian itu, handuk tersebut menjadi satu-satunya “pegangan” yang membuatnya merasa aman — dia tak bisa berpisah darinya.
Pertengkaran orang dewasa, tetapi yang menjadi korban justru anak yang tidak bersalah.
Dalam sebuah survei terhadap 3.000 anak usia sekolah, ketika ditanya: “Apa hal yang paling kamu takuti?”
Jawaban terbanyak adalah: “Aku takut Ayah dan Ibu bertengkar. Mereka terlihat sangat menakutkan saat bertengkar.”
Di Zhihu ada satu pertanyaan populer: “Apa yang anak rasakan saat orangtua bertengkar?”
Satu jawaban dengan suara terbanyak menulis: “Setiap menit rasanya seperti siksaan. Aku ingin lari. Ayah dan Ibu sering bertengkar sampai wajah memerah, bahkan pernah saling pukul di depan aku. Sampai sekarang, aku masih sering terbangun karena mimpi buruk tentang pertengkaran itu.”
Tidak peduli siapa yang menang atau kalah, dalam pertengkaran orangtua, pihak yang paling rugi selalu anak.
Setelah punya anak, pertengkaran suami–istri bukan lagi sekadar konflik dua orang dewasa. Di mata anak, itu adalah momen paling menakutkan dalam hidupnya.
Dampak dari pertengkaran orangtua bisa mengikuti anak seumur hidup.
Teman saya, Xiao Min, tumbuh dalam keluarga yang penuh pertengkaran.
Dia masih ingat dengan jelas salah satu kejadian: orangtuanya bertengkar hebat, memecahkan piring dan gelas di dapur. Di tengah tanah yang penuh pecahan, kedua orangtuanya masing-masing menarik tangannya, bertanya:“Kamu mau ikut siapa?”
Kenangan masa kecil yang sangat tidak bahagia itu hingga dewasa terus menjadi bayangan gelap dalam hidupnya.
Yang paling diinginkan seorang anak sebenarnya hanya satu: rumah yang damai dan penuh kehangatan.
Jika rumah selalu penuh konflik, pertumbuhan mental dan emosional anak akan terganggu.
Mereka lebih mudah mengalami:
- gangguan kecemasan
- ketakutan berlebihan
- karakter yang defensif
- rendah diri
- trauma jangka panjang
Ketika orangtua saling “menyakiti” dalam suasana penuh asap konflik, yang paling terluka adalah anak yang harus bertahan hidup dalam kekacauan rumah tangga itu.
Jangan biarkan keretakan dalam pernikahan menghancurkan kebahagiaan generasi berikutnya.
Contoh terbaik yang bisa ditunjukkan orangtua pada anak adalah kedamaian dan saling menyayangi.
Karena anak sangat peka terhadap hubungan orang tuanya. Dari interaksi Ayah dan Ibu, mereka menilai apakah rumah adalah tempat yang aman atau tidak.
Kisah rumah tangga Qian Zhongshu dan Yang Jiang sering dianggap sebagai contoh indah pernikahan harmonis.
Qian Zhongshu pernah memberikan pujian paling tinggi untuk istrinya: “Istri yang paling bijaksana, perempuan yang paling berbakat.”
Di suatu pagi saat mereka tinggal di luar negeri,Yang Jiang bangun dan mendapati sebuah meja kecil diletakkan di tepi ranjang.
Qian Zhongshu sudah menyiapkan: telur rebus, susu hangat, roti panggang.
Dia berkata: “Ini sarapan paling enak yang pernah aku makan.”
Kehidupan yang penuh kehangatan seperti itu membuat anak mereka tumbuh dengan pemahaman alami tentang apa itu bahagia.
Namun, pasangan paling harmonis sekalipun pasti pernah berbeda pendapat. Pertengkaran kadang tidak bisa dihindari. Jika itu terjadi, bagaimana meminimalkan luka pada anak?
(1) Usahakan untuk tidak bertengkar di depan anak
Sulit membayangkan perasaan seorang anak kecil melihat Ayah dan Ibu berteriak, membentak, atau melempar barang.
Emosi negatif orangtua itu bagai badai besar bagi anak. Jika memungkinkan, hindari pertengkaran di hadapan mereka.
(2) Jika anak tidak sengaja melihat pertengkaran, jelaskan dengan tenang
Jangan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Anak sangat peka — mereka merasakan semuanya.
Jelaskan dengan sederhana dan jujur: “Ayah dan Ibu hanya punya pendapat berbeda. Suaranya sedikit keras, tapi tidak apa-apa.”
Dan tentunya, belajar berkomunikasi yang baik sebagai pasangan, karena banyak masalah sebenarnya bisa selesai tanpa perlu bertengkar.
(3) Yang terpenting: beri tahu anak bahwa itu bukan salah mereka
Dalam film Flipped (怦然心动), ada adegan ketika Julie sedih karena orangtuanya bertengkar.
Ayahnya menenangkannya: “Ini bukan salahmu.”
Ibunya juga berkata: “Masalah orang dewasa ada solusinya. Ayah dan Ibu saling mencintai, dan kami juga selalu mencintaimu.”
Julie pun pulih dari kesedihannya dan bahkan merasa lebih mencintai orangtuanya.
Kesimpulan
Rumah yang damai dan penuh kasih adalah hadiah terbesar yang bisa diberikan orangtua kepada anak.
Anak diciptakan untuk dicintai, bukan untuk dijadikan korban dari kemarahan dan konflik orang dewasa.
Semoga setiap anak bisa tumbuh dalam kehangatan, diperlakukan dengan kelembutan, dan terbebas dari luka yang seharusnya tidak mereka tanggung.(jhn/yn)


