EtIndonesia. Kreiss adalah seorang penggemar bersepeda. Baik pergi bekerja maupun berwisata, dia selalu memilih naik sepeda. Kebiasaannya yang bertahun-tahun ini membuat kondisi fisiknya sangat baik. Namun teman-temannya kerap menyarankan agar dia mengganti pola latihannya sesekali, karena bersepeda hanya melatih otot tubuh bagian bawah, sementara tubuh bagian atas hampir tidak mendapat latihan.
Untuk melatih kekuatan lengan, Kreiss pun harus latihan angkat beban sebagai latihan tambahan. Namun baginya, angkat beban sangat membosankan dibanding bersepeda yang penuh kebebasan dan kesenangan. Dia sulit mempertahankannya.
Suatu akhir pekan, dia dan beberapa teman pergi berwisata bersepeda. Perjalanan jauh, rute sulit, dan tanjakan datang satu demi satu. Setelah beberapa jam, semua orang kelelahan. Mereka berhenti untuk beristirahat. Kaki mereka terasa lemas dan gemetar, namun tangan masih bertenaga.
Dalam hati Kreiss bergumam: “Andai saja tangan juga bisa dipakai untuk mengayuh sepeda. Saat kaki lelah, tangan bisa menggantikan. Dengan begitu kaki bisa istirahat, dan tubuh bagian atas juga ikut terlatih.”
Sepanjang perjalanan pulang, dia terus memikirkan ide itu.
Begitu sampai di rumah, dia langsung mengelilingi sepedanya—mengamati dari berbagai sisi, menggambar sketsa, dan mencari cara untuk mewujudkannya. Dia menyadari bahwa struktur sepeda sebenarnya tidak rumit: selama pedal diputar, roda akan bergerak. Lalu, jika ada sepasang pedal tambahan yang dapat digerakkan dengan tangan, bukankah roda juga akan berputar?
Kreiss mulai bereksperimen. Pada bagian setang, dia memasang dua buah pulley (katrol kecil) yang dihubungkan dengan roda. Saat pulley diputar dengan tangan, roda pun ikut bergerak.
Setelah melalui berkali-kali modifikasi, sepeda tangan-kaki pertama akhirnya lahir. Kreiss dengan penuh kegembiraan mencobanya di jalan. Dia mengayuh dengan kaki, lalu berganti menggunakan tangan, kemudian berganti lagi—berulang-ulang. Kakinya tidak lagi terlalu lelah, sementara lengan mendapatkan latihan yang sangat efektif.
Sepeda unik ini benar-benar mencuri perhatian. Di jalan, dia selalu mendapat sorotan mata orang-orang dan banyak sekali “head turner”. Teman-temannya bertanya di mana dia membeli sepeda tersebut, bahkan orang asing pun mengejar hanya untuk bertanya bagaimana cara mendapatkannya.
Melihat minat yang begitu besar, Kreiss berpikir: “Kalau begitu banyak orang menyukainya, mengapa tidak diproduksi massal saja?”
Dia pun mengurus paten dan bekerja sama dengan pabrik sepeda. Tidak lama kemudian, batch pertama sepeda tangan-kaki itu resmi masuk ke berbagai pusat perbelanjaan.
Kecuali tambahan dua roda tangan, bentuknya hampir sama dengan sepeda biasa, sehingga mudah diterima oleh masyarakat. Fungsinya yang memungkinkan kayuhan tangan membuat sepeda ini lebih hemat tenaga, dapat melatih seluruh tubuh, dan mengisi kekurangan sepeda tradisional. Tak heran, penjualannya langsung meledak.
Berani bermimpi, berani mencoba—itulah yang membawa Kreiss pada kesuksesan. Meskipun sepeda tangan-kaki membuat kekayaannya melonjak, ia tetap setia mengendarai sepeda hasil rancangannya sendiri. Baginya, sebesar apa pun kekayaan, kesehatan tubuh tetap tidak ternilai. (jhn/yn)


