EtIndonesia.Di musim dingin yang begitu menusuk ini, banyak teman sedang menghadapi tekanan dan ujian dari berbagai sisi. Aku sering kali bingung bagaimana cara terbaik untuk menguatkan mereka. Sampai tiba-tiba aku teringat sebuah tulisan yang pernah kubaca di blog seorang teman.
Tulisan itu sangat menginspirasi, maka hari ini ingin kubagikan kembali — untuk semua orang yang sedang membutuhkan kekuatan (termasuk diriku sendiri, sebagai pengingat agar tetap tegar).
Setiap orang memikul sebuah salib yang berat, melangkah perlahan dan penuh perjuangan menuju tujuan hidupnya.
Di tengah perjalanan, seorang pria tiba-tiba berhenti.
Dia mengeluh dalam hati: “Salib ini terlalu berat… aku harus memikulnya sampai kapan?”
Akhirnya, dia membuat keputusan besar: dia mengambil sebilah pisau dan memotong sebagian dari salib itu.
Dia benar-benar melakukannya — mulai menggergaji dan memotong. Setelah dipangkas, bebannya terasa jauh lebih ringan, langkahnya pun otomatis semakin cepat.
Dia berjalan… dan terus berjalan… lama sekali… sampai akhirnya dia kembali merasa bahwa salib itu masih terlalu berat.
Demi bisa melangkah lebih cepat dan lebih mudah, dia pun memutuskan memotong lagi bagian yang besar. Ia kembali mengayunkan pisaunya…
Begitu salibnya lebih pendek, dia merasa sangat ringan. Dia bahkan bisa berjalan paling depan,
bersenandung santai sementara yang lain masih tertatih memikul beban penuh.
Namun siapa sangka — di depan tiba-tiba muncul sebuah jurang yang sangat dalam dan sangat lebar.
Tidak ada jembatan, tidak ada jalan memutar, dan tentu saja tidak ada Spider-Man atau Superman untuk menyelamatkannya. Apa yang harus dia lakukan?
Teman-temannya yang berada di belakang perlahan menyusul. Mereka meletakkan salib yang masih utuh memanjang ke seberang jurang, membuat jembatan, dan menyeberang dengan tenang.
Dia pun ingin melakukan hal yang sama. Sayang sekali… salibnya sudah dipotong begitu pendek, hingga tidak mungkin dijadikan jembatan.
Saat semua orang melangkah maju menuju tujuan yang sama, dia hanya bisa berhenti, tertunduk lesu, penuh penyesalan.
Sebenarnya, setiap hari kita semua memikul “salib” kita masing-masing. Beban itu bisa berupa pelajaran, pekerjaan, hubungan, atau tanggung jawab dan kewajiban yang tak bisa kita hindari.
Namun justru karena semua itu, keberadaan kita memiliki makna dan nilai dalam dunia ini.
Karena itu, janganlah mengeluh pada kerasnya belajar, beratnya bekerja, atau besar tanggung jawab yang harus ditanggung.
Kebahagiaan sejati selalu datang setelah kita berjuang. Tanpa rasa sakit yang dalam, kita takkan pernah merasakan nikmatnya kemenangan.
Ada kegelapan yang hanya bisa kamu lewati sendiri. Ada rasa sakit yang hanya bisa kamu rasakan sendiri. Ada kesepian yang hanya bisa kamu terima sendiri.
Namun setelah melewati kegelapan, kamu akan merasakan hangatnya sinar matahari. Setelah keluar dari rasa sakit, kamu akan berdiri pada level pertumbuhan yang lebih tinggi. Setelah berdamai dengan kesepian, jiwamu akan menjadi jauh lebih dalam.
Paksa dirimu untuk percaya:
Ini mungkin.
Ini bisa dilakukan.
Dan kamu pasti sanggup. (jhn/yn)


