38 Surat Rockefeller untuk Putranya — Surat ke-11: Serakah Itu Sangat Diperlukan

    

EtIndonesia. Anakku, John yang terkasih: Jangan hiraukan orang-orang yang mengatakan bahwa aku serakah.

Bertahun-tahun lamanya, aku sudah terbiasa “dipuji” dengan sebutan yang bagi banyak orang terdengar tidak menyenangkan — serakah.

Pujian yang aneh itu pertama kali muncul ketika bisnis yang kudirikan sedang mencapai puncak kejayaan.

Saat itu, nama Rockefeller bukan lagi sekadar nama seseorang, melainkan simbol kekayaan, simbol dari sebuah kerajaan bisnis raksasa.

Aku ingat dengan jelas, banyak orang dan surat kabar ikut bergabung dalam “paduan suara” penghinaan itu. Namun semua itu tidak membuat detak jantungku berubah. Aku tahu, tujuan mereka hanyalah menyerang, menempelkan bau busuk uang pada kerajaan bisnis yang telah kubangun.

Tetapi, anakku, aku lebih tahu satu hal: Dalam diri manusia, sejak awal tersembunyi sebuah kekuatan — kekuatan yang tumbuh subur di tempat di mana kemampuan dan tekad tidak ada — yaitu iri hati.

Saat kamu melampaui mereka, mereka akan iri. Mereka akan menggunakan kata-kata merendahkan, bahkan menciptakan fitnah untuk menjatuhkanmu. Namun di hadapanmu, mereka justru berpura-pura tinggi hati. Padahal, menurutku itu bukanlah sikap mulia — itu adalah tanda kelemahan.

Ironisnya, saat kamu hidup miskin dan tidak berdaya, orang-orang yang sama akan menertawakanmu, menganggapmu bodoh, bahkan merendahkanmu hingga tidak memiliki harga diri sedikit pun.

Anakku, inilah sifat manusia.

Tuhan tidak memberiku misi untuk mengubah sifat manusia. Dan aku tidak punya waktu untuk menahan orang-orang yang ingin “memuji” keserakahanku. Yang bisa kulakukan hanyalah membiarkan mereka terus iri.

Aku tahu, kalau pun aku memberikan seluruh kekayaan yang kubangun kepada mereka, kecemburuan itu akan hilang — tapi kekayaan itu juga akan hilang. Dan tentu saja, aku tidak bisa — dan tidak akan — melakukan itu.

Seorang gentleman tidak akan berdebat dengan orang bodoh. Aku tentu tidak akan berargumen dengan mereka yang “memuji” keserakahanku.  Namun aku tidak bisa menahan perasaan jijik terhadap kebodohan mereka.

Jika kita menelusuri jejak sejarah, kita dapat melihat sebuah fakta: Tidak ada satu peradaban pun yang berdiri tanpa dorongan rasa serakah.

Mereka yang mengutukku seolah penjaga moral suci — siapa di antara mereka yang tidak ingin memiliki lebih banyak?  Siapa yang tidak ingin menguasai hal-hal terbaik?  Siapa yang tidak ingin memegang kendali atas segala yang diinginkan orang lain?

Kemunafikan adalah sifat umum manusia.

Tidak ada seorang pun yang tidak memiliki rasa serakah. Kalau kamu memiliki sebutir zaitun, kamu pasti ingin memiliki seluruh pohonnya. Selama hampir delapan puluh tahun aku hidup, aku pernah bertemu orang yang tidak makan steak — tetapi belum pernah sekalipun aku bertemu orang yang benar-benar tidak serakah, apalagi dalam dunia bisnis.

Di balik keuntungan dan uang, hanya ada satu kata: serakah.  Dan aku yakin, di masa depan, orang yang tidak serakah akan menjadi makhluk paling langka di bumi. Tidak ada yang mau berhenti mengejar hal-hal yang indah dan menguasai hal-hal yang baik.

Mr. Archibald pernah menggambarkanku sebagai kuda pacu yang bisa mencium aroma garis finish dari kejauhan — dan begitu mencium aroma itu, aku langsung berlari kencang. Mungkin itu bentuk sanjungan, tapi aku akui, aku memang memberi tempat khusus bagi rasa serakah dalam hidupku.

Ketika aku masih belajar di sekolah bisnis, seorang guru pernah mengatakan sesuatu yang tidak pernah kulupakan seumur hidup: “Tidak ada yang salah dengan serakah. Aku malah menganggap serakah itu baik.  Dari rasa serakahlah, harapan mulai tumbuh.”

Saat itu, seluruh kelas terkejut mendengar kata-kata itu. Karena jika kita memikirkan maknanya, kita tahu bahwa kata “serakah” bertentangan dengan nilai moral yang diajarkan sejak kecil — nilai moral yang diterapkan dalam agama, masyarakat, etika, politik, bahkan hukum. Tidak heran, kata itu dicap kotor.

Namun ketika aku benar-benar masuk ke dunia nyata dan mulai membangun kekayaan, aku menyadari betapa berharganya pelajaran itu. Guru itu benar-benar memiliki pandangan yang tajam.

Seperti yang dikatakan para ahli evolusi: alam bukan tempat yang penuh belas kasih — dia adalah panggung di mana yang kuat bertahan, yang lemah tersingkir. Masyarakat yang tampak beradab ini pun sama saja.

Jika kamu tidak serakah, orang lain akan “menelanmu”.  Karena bagian paling lezat dari kue dunia ini tidak banyak.

Anakku, jika kamu ingin menciptakan prestasi besar, membangun kekayaan, dan menjalani hidup yang luar biasa, maka bagiku, tidak cukup mengatakan “serakah itu hal yang baik”.

Lebih dari itu — Makna tersembunyi di balik serakah adalah: Aku ingin. Aku ingin lebih

Lebih baik kalau dapat semuanya. Siapa yang tidak pernah berseru seperti itu di dalam hatinya?

Politikus berkata: “Aku ingin berkuasa. Dari gubernur aku ingin menjadi presiden.”

Pebisnis berkata:  “Aku ingin untung. Aku ingin lebih banyak uang.”

Orangtua berkata: “Aku ingin anakku berhasil dan hidup berkecukupan.”

Dan masih banyak lagi. Hanya karena moral, harga diri, dan penampilan sosial, orang menutupi rasa serakah rapat-rapat—  hingga membuatnya terdengar seperti dosa besar.

Padahal, selama dunia yang mengejar reputasi dan keuntungan belum hancur, selama kebahagiaan belum semudah udara untuk diperoleh, manusia tidak akan berhenti serakah, sehari pun tidak.

Orang-orang yang suka mengumbar keburukan orang lain selalu menganggap serakah itu iblis. Tapi menurutku, membuka kunci rasa serakah tidak sama dengan membuka kotak Pandora. Membiarkannya berdetak dalam diri justru berarti melepaskan potensi hidup kita.

Dari seorang juru buku yang hanya menerima gaji lima dolar per minggu menjadi orang terkaya di Amerika— itu adalah keajaiban yang tercipta dari rasa serakah. Serakah adalah tenaga pendorong yang membantuku membangun kekayaan, seperti halnya ia menjadi kekuatan besar yang mendorong perkembangan masyarakat.

Saat aku menggunakan kata serakah, mungkin kau berharap aku menggantinya dengan kata ambisi. Tidak, anakku. Kita hidup di dunia yang dipenuhi serakah, dan menurutku menyebutnya “serakah” jauh lebih jujur daripada “ambisi”.

Kejujuran semacam itu adalah kesederhanaan jiwa, lebih murni daripada sekadar ketulusan.

Ketika aku baru mendirikan perusahaan minyak bersama Sam Andrews, rasa serakahku mulai mengembang.

Setiap malam sebelum tidur, aku berkata pada diriku sendiri: “Aku harus menjadi pemilik kilang terbesar di Cleveland.  Aku harus mengubah aliran minyak menjadi tumpukan uang. Setiap pikiran harus tunduk pada satu tujuan: keuntungan. Aku harus menjadi Raja Minyak.”

Pada masa awal itu, aku bekerja tanpa henti, mengurus kilang, mengatur transportasi kereta,
merancang cara menekan biaya, memikirkan bagaimana memperluas pasar produk sampingan minyak.

Aku tidak akan pernah lupa hari-hari ketika aku lapar, berlarian ke sana kemari siang dan malam, bertahan hanya dengan tekad. 

Anakku,  nasib harus kamu ciptakan sendiri. Apa pun yang benar-benar kamu inginkan, kamu harus mencari cara untuk meraihnya. Perbedaan antara sukses dan gagal tidak sejauh yang dibayangkan orang— hanya setipis satu tekad: siapa yang lebih serakah untuk menang.

Siapa yang punya kekuatan itu, siapa yang sanggup mengerahkan seluruh kemampuan, dialah yang melampaui dirinya sendiri.

Setiap langkahku menuju depan mengajarkanku satu hal: rasa serakah memberi tenaga yang luar biasa. Dia membuat seseorang mencapai batas tertingginya, memaksanya mengorbankan segalanya, menyingkirkan segala penghalang, dan berlari sekuat tenaga.

Banyak orang pernah bertanya: “Mr. Rockefeller, apa yang membuat Anda bisa mencapai puncak kekayaan?”

Aku tidak pernah menjawab jujur, karena serakah adalah kata yang tidak ingin orang dengar. Namun sebenarnya,  tiang yang menopang kesuksesanku adalah: aku membangkitkan rasa serakahku — dan mengembangkannya.

Setiap orang menyimpan benih rasa serakah yang hidup, peka, dan kuat. Tetapi kamu harus menyayanginya.

 Kamu harus berkata dalam hati: “Aku ingin. Aku ingin lebih.”

 Maka rasa serakah itu akan keluar dan bekerja untukmu— mengiringimu pada keberhasilan.

Tidak ada kekuatan yang dapat menghentikanku melepaskan rasa serakah, karena aku mengejar kesuksesan.  Kesuksesan yang lahir dari rasa serakah bukanlah dosa.

Kesuksesan adalah tujuan mulia. Dan jika kesuksesan itu diraih dengan cara yang benar dan bermoral, manfaat yang kita berikan pada manusia akan jauh lebih besar daripada saat kita hidup miskin.

Dan itu telah kubuktikan. Lihatlah apa yang kita lakukan sekarang: membiayai pendidikan, dunia medis, gereja, dan mereka yang miskin.  Itu bukan sedekah sesaat—  itu adalah gerakan amal besar yang membuat dunia lebih baik.

Tampaknya serakah tidaklah buruk, bahkan sama sekali bukan dosa.

Jika mereka yang menyebutku serakah tidak bermaksud menghina, aku akan menerima penilaian itu dengan senang hati.

John, aku adalah pusat hidupku. Aku yang menentukan apa yang terbaik bagiku. Karena itu, aku tidak peduli apa kata orang. Hatiku tetap tenang.

Bagi sebagian orang, aku selamanya adalah pebisnis bermotif kotor. Bahkan ketika aku memberikan sumbangan besar untuk kesejahteraan masyarakat, mereka tetap menganggapnya sebagai trik atau upaya menutupi kejahatan— bahkan mengatakan aku melakukan amal besar
untuk menebus dosa. Itu sungguh lucu.

Aku ingin berkata dengan sangat jujur: Aku tidak pernah membuatmu malu. Setiap sen yang ada di sakuku adalah uang bersih. Aku menjadi kaya sebagai balasan dari kecerdasanku dan cintaku pada dunia usaha.

Aku percaya Tuhan itu adil. Uangku adalah karunia Tuhan. Dan selama uang mengalir kepadaku, aku percaya itu karena Tuhan tahu aku akan mengembalikannya kepada masyarakat untuk kebaikan sesama.

Sekarang sudah waktuku membaca Alkitab. Malam ini sangat indah.

Bintang-bintang di langit seakan berkata: “Kerja bagus, John.”

Dengan kasih sayang,
Ayahmu
6 Mei 1918

Kutipan Rockefeller:

  1. Biarkan setiap pikiran tunduk pada tujuan keuntungan.
  2. Aku adalah pusat hidupku; aku menentukan apa yang tepat untukku.
  3. Nasib harus diciptakan sendiri; apa yang benar-benar kau inginkan, harus kau raih dengan segala cara. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine