Negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan  Terendam Longsor-Banjir, Ratusan Ribu Jiwa Mengungsi

EtIndonesia. Tanah yang tertutup lumpur tebal, deretan rumah yang roboh menjadi puing—sebuah badai tropis ganas membawa hujan deras dan banjir mematikan yang dalam satu minggu terakhir telah melanda berbagai negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Hingga Senin (1/12/2025), bencana banjir ini telah menyebabkan lebih dari 1.000 orang tewas, 800 lebih dinyatakan hilang, dan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal.

Lumpur yang menumpuk, rumah yang hancur, dan pemandangan setelah banjir surut tampak sangat memilukan.

Selama seminggu terakhir, badai tropis menyapu beberapa negara Asia Tenggara. Angin kencang dan hujan deras memicu banjir mematikan di banyak wilayah.

Banyak korban mengatakan bahwa bencana ini terjadi begitu tiba-tiba.

Warga Indonesia, Andri Walmi:  “Awalnya hanya hujan, lalu banjir datang menerjang seperti pesawat yang melintas.”

Saat cuaca mulai membaik, tim penyelamat Indonesia mulai mencari jasad para korban.

Hingga Rabu (3/12/2025), banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatera telah menewaskan 770  orang, 463 orang masih hilang, 2.600 orang terluka serta  746,200 orang mengungsi. Secara keseluruhan 3,2  juta jiwa yang terdampak. Bencana ini menimpa 50 kabupaten/kota di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. 

Warga Indonesia, Afrianti:  “Rumah dan usaha saya hilang, toko saya juga hilang, tidak ada yang tersisa. Saya hanya tinggal dekat satu-satunya dinding yang masih berdiri.”

Karena bencana merusak jalan dan memutus jaringan komunikasi, beberapa daerah di Indonesia sempat terisolasi. Tim penyelamat hanya bisa menjatuhkan bantuan dari udara menggunakan pesawat.

Sri Lanka juga mengalami dampak serupa. Hujan deras berhari-hari menyebabkan banyak tanah longsor. Sungai yang meluap menenggelamkan desa dan lahan pertanian. 

Hingga kini, jumlah korban tewas di negara tersebut telah meningkat menjadi 366 orang, sekitar 218.000 orang mengungsi ke tempat penampungan sementara, dan lebih dari 24.000 polisi dikerahkan untuk menyelamatkan warga yang terjebak.

Presiden Sri Lanka Anura Kumara Dissanayake berkata :  “Kita sedang menghadapi bencana alam terbesar dan paling menantang dalam sejarah kita. Kita juga sadar bahwa operasi penyelamatan yang sedang berlangsung ini adalah yang paling sulit yang pernah kami lakukan.”

Pemerintah Sri Lanka mengatakan 25 distrik di seluruh negeri terdampak. Listrik, air bersih, dan komunikasi diperkirakan akan dipulihkan secara bertahap dalam tiga hari mendatang.

Selain itu, Thailand dan Malaysia juga mengalami kerusakan parah, dengan ratusan korban jiwa.

Di Kota Hat Yai, Thailand, sebuah kuil yang dulunya megah kini tertutup lumpur dan puing. Para biksu sibuk membersihkan reruntuhan dan membangun kembali kuil tersebut.

Di pasar yang terendam banjir, banyak pedagang menjual barang-barang yang terendam air dengan harga sangat murah, berharap warga dapat saling membantu menghadapi masa sulit ini.

Pedagang Thailand, Phukit:  “Orang-orang tidak punya pakaian untuk dipakai, bukan? Jadi saya menjual dengan harga murah, berharap bisa membantu mereka.” (Hui)

Laporan gabungan oleh Yi Jing – NTDTV

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine