EtIndonesia. Waktu itu, akhir musim gugur. Usia masih seindah bunga, masa muda sedang berada di puncaknya. Semuanya begitu sederhana, ceria, dan indah— namun tak mampu menahan hantaman mendadak dari sebuah patah hati.
Dalam sekejap, dunia yang tadinya harum mekar seolah runtuh. Hati kehilangan keseimbangan. Dia merasa, tanpa cinta, seluruh dunia akan berubah warna, bahkan langit pun seperti tenggelam dalam kelabu.
Dia berjalan sendirian di jalanan. Daun-daun gugur berputar di sekitar kakinya.Pemandangan itu sebenarnya sangat indah, tetapi patah hati yang membesar sampai seribu kali lipat,bagai jarum perak yang menusuk ke dalam dada, membuatnya tak mampu melihat keindahan kota yang berdiri tenang dalam angin musim gugur.
Dia—orang itu—benar-benar tega. Padahal dia sudah begitu tulus mencintainya. Namun dia pergi tanpa menoleh, tanpa sedikit pun ragu dalam langkah, seakan setiap langkahnya memukul hati yang ditinggalkan.
Selama dua hari dia hampir menyiksa diri, mengosongkan perutnya seakan sedang memainkan “kota kosong” dalam dirinya sendiri. Baru sadar dia belum makan apa pun dua hari ini. Namun, tanpa cinta, apa pun yang dimakan terasa hambar.
Ada bait puisi yang berkata: “Bagaimana menghapus duka? Hanya dengan anggur yang memabukkan.”
Seperti mendapat ilham, dia langsung masuk ke sebuah restoran kecil di pinggir jalan, memilih tempat duduk di dekat jendela, lalu berkata tanpa menoleh: “Bos, dua botol bir!”
Saat itu yang dia inginkan hanya satu hal— mabuk dan lupa.
Namun lama tak ada jawaban. Dia mengangkat kepala dan baru menyadari, di restoran kecil itu hanya ada dirinya seorang. Meja-meja semuanya kosong.
Di sudut lain restoran, empat-lima orang tampak sedang berbisik, sesekali melirik ke arahnya.
Akhirnya salah satu dari mereka tak tahan dan berteriak:“Kami hari ini tidak buka. Silakan pulang!”
Kesedihan dalam dadanya langsung meledak.
Dia pun balas berteriak: “Tak tahu ya bahwa pelanggan itu raja? Kalau tidak buka, buat apa pintu dibuka? Saya harus minum bir hari ini! Kalau kamu usir saya, saya lapor ke dinas perdagangan!”
Entah karena perkataannya mengagetkan mereka, atau karena alasan lain, seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun berjalan mendekat dengan senyum manis.
Dia berkata lembut: “Gadis manis, minum bir apa? Hati lagi tidak enak ya? Kalau marah besar begitu nanti kamu jadi tidak cantik, lho.”
Dia tak bisa membalas. Tidak mungkin memarahi seseorang yang wajahnya penuh senyum seterang matahari.
Wanita itu melanjutkan: “Adik, di toko kami memang tidak ada bir. Bagaimana kalau aku suruh koki buatkan semangkuk mie untukmu?”
Tanpa menunggu jawabannya, wanita itu langsung memerintah sang koki:“Buatkan si adik ini semangkuk mie. Harus mie buatan tangan, poftongannya tipis-tipis, dan—tambahkan jahe banyak-banyak.”
Koki itu tampak ragu, tak bergerak.
Wanita itu menatapnya dengan sedikit kesal: “Saya masih bos kamu. Pergi dan buatkan.”
Koki gempal itu akhirnya masuk dapur dengan wajah tidak rela.
Wanita itu memegang tangan si gadis dan menepuk lembut: “Adik, tidak ada gunung berapi yang tidak bisa dilewati. Apa pun masalahmu, makan dulu semangkuk mie ini— hati kamu pasti lebih enak.”
Lalu dia berlalu pergi.
Gadis itu memandangi punggung wanita itu— anggun, cantik, memesona. Dia berpikir, wanita seperti itu pasti tidak pernah patah hati. Tidak seperti dirinya, yang cinta bertahun-tahun dihancurkan hanya dengan satu kepergian dingin.
Saat dia sedang tenggelam dalam kesedihan, koki gempal itu datang membawa semangkuk mie.
Mangkok porselen putih bersih, berisi mie panas yang tipis seperti helai rambut. Saat terkena sinar matahari, setiap helai mie tampak jernih berkilau, disertai jahe kuning dan irisan daun bawang hijau— indah sampai rasanya sayang untuk disuap.
Dia terpaku.
Koki itu berkata: “Cepat makan. Kamu pelanggan terakhir kami. Besok-besok tidak bisa makan di sini lagi.”
Dia kaget : “Mengapa?”
Koki itu menjawab: “Karena toko ini bangkrut. Bos sudah menjualnya. Kami sebenarnya sudah berhenti beroperasi sejak beberapa hari yang lalu.”
Dia menatap wanita tadi. Wanita yang begitu elegan, hangat, dan penuh pesona. Perlahan, kehangatan itu meresap masuk ke dadanya.
Dia menyuap mie itu perlahan— dan anehnya, mie itu sangat lezat. Mungkin mie terbaik yang pernah dia makan. Dan entah mengapa, luka patah hatinya terasa tidak lagi sepedih tadi.
Saat pergi, dia menyelipkan uang di bawah mangkok, lalu mengangguk pelan dari jauh kepada wanita itu.
Belum sempat dia melangkah jauh, koki itu mengejarnya sambil membawa uang tersebut: “Bos bilang tidak boleh menerima uangmu. Mie ini hadiah darinya. Dia berharap kamu bisa bahagia lagi.”
Gadis itu adalah aku. Dan itu adalah semangkuk mie perak terbaik yang pernah kumakan dalam hidupku.
Bertahun-tahun kemudian aku mengerti— patah hati hanyalah satu rasa dalam hidup. Itu bukan runtuhnya dunia. Dalam hidup, masih ada banyak rasa lain yang harus dicicipi— seperti kehilangan pekerjaan, kehilangan seseorang, kehilangan harapan.
Setiap kehilangan membuat kita tumbuh sedikit demi sedikit— hingga suatu hari kita menyadari, bahwa kita sudah tidak punya apa pun yang bisa hilang lagi.
Seperti makanan: kita tidak selalu makan roti, tidak selalu minum bir, dan tidak selalu menikmati pesta mewah.
Kadang— semangkuk mi hangat juga bisa menjadi penyelamat.
Ada beberapa kehangatan dalam hidup yang tak akan pernah terlupa. Ada beberapa kebaikan yang akan selamanya menggantung di hati. (jhn/yn)


