EtIndonesia. Di masyarakat yang serba beragam seperti sekarang, setiap orang punya tujuan hidup yang berbeda. Punya mimpi besar itu bukan sesuatu yang luar biasa, dan memilih menjadi orang biasa pun bukan sesuatu yang memalukan.
Tidak ada benar atau salah. Pilihan setiap orang berbeda, begitu pula cara mereka memandang dunia.
Tapi apa pun pilihan kita, bukankah pada akhirnya kita hanya ingin satu hal?
Ya—kita semua sedang mencari kebahagiaan.
Di zaman yang penuh informasi, serba cepat, dan penuh ambisi ini, bahkan orang yang sangat sederhana pun bisa kewalahan. Tekanan sosial dan godaan materi begitu kuat, sampai banyak orang percaya:
- kalau tidak punya karier besar,
- kalau cinta tidak sempurna,
- kalau saldo tabungan tidak menggunung,maka hidup dianggap gagal.
Pelan-pelan, alam bawah sadar kita dibentuk oleh standar yang bukan dari hati kita. Kita akhirnya tidak tahu lagi mana yang benar-benar kita inginkan.
Kita tidak bahagia. Karena apa pun yang kita lakukan, kita terlalu mudah dipengaruhi, terlalu mudah merasa kurang. Menjadi diri sendiri terasa semakin sulit.
Padahal, sebagian besar dari kita memang orang biasa. Tidak punya bakat luar biasa, tidak jadi sorotan, hidup dari pekerjaan yang teratur dan rutinitas yang itu-itu saja. Di keramaian, kita hanyalah satu titik kecil di antara lautan manusia.
Karena kita orang biasa, maka cari saja kebahagiaan dari hidup yang sederhana.
Bagaimana caranya?
1. Berhenti Berfantasi Berlebihan
Banyak masalah dalam hidup datang dari satu hal: Kita terlalu banyak berkhayal, tapi terlalu sedikit bertindak.
Gaji lima juta, tapi ingin hidup seperti orang bergaji lima puluh juta— siapa yang tidak capek?
Lihat istri tetangga cantik, lalu mengeluh pasangan sendiri tidak seperti itu. Lihat Jack Ma transaksi miliaran per menit, lalu stres karena teman belum mengembalikan pinjaman dua ratus ribu.
Kalau kita sadar diri bahwa kita orang biasa, maka berhentilah punya ekspektasi yang tidak masuk akal.
Hargai apa yang kita punya. Kerjakan hal-hal kecil dengan sungguh-sungguh. Lihat dunia dengan pikiran yang lebih ringan, lebih sederhana.
Tarik napas, mulai ulang, dan letakkan standar kebahagiaan pada satu titik saja: Bersyukur, dan menikmati yang ada.
2. Jalani Hidup Secara Nyata
Kerja dengan tenang, hidup dengan sungguh-sungguh. Kalau hari ini berhasil melakukan hal kecil sekalipun, beri pujian pada diri sendiri. Tidak perlu serba besar untuk merasa bangga.
Kalau ada tempat yang ingin sekali kamu kunjungi, atau makanan enak yang ingin kamu coba, buatkan diri sendiri waktu libur yang kecil—jalan, makan, foto secukupnya.Nikmati hidupmu.
Lama-lama, ketenangan itu akan memengaruhi cara kamu memandang dunia. Akan muncul aura sederhana yang menyenangkan: “Aku begini saja sudah cukup. Aku bahagia. Hal-hal yang ribut dan penuh drama tidak perlu menghampiriku.”
3. Buang Pikiran Tentang “Ketidakadilan”
Orang biasa itu wajar tidak punya banyak keistimewaan. Dan justru karena itu, kita tidak perlu memikirkan ketidakadilan terlalu dalam.
Para motivator sering berkata: “Dunia tidak adil, kamu harus berjuang agar mendapat keadilan.”
Tapi kalau kita memilih hidup sebagai orang biasa, lebih baik tenangkan hati. Lakukan apa yang bisa dilakukan, dan terima apa pun hasilnya.
Lupakan soal iri, soal kalah, soal merasa kurang dihargai. Hidup ringan itu penting.
Dan kalau suatu hari kamu merasa “dirugikan”, anggap saja itu bagian dari kebijaksanaan hidup: “Rugi sedikit itu berkah.” Itulah cara orang biasa menikmati hidupnya.
Kuncinya sederhana: lakukan yang harus dilakukan, dan temukan cara sendiri untuk bahagia.
Jika kamu karyawan—kerja dengan baik. Jika kamu dokter—sembuhkan orang dengan hati. Jika kamu ibu rumah tangga—urusi rumah dan anak dengan cinta.
Karena hidup bukan soal siapa paling sukses. namanya juga manusia, yang paling penting adalah bahagia. (jhn/yn)


