Kebanyakan Orang Hidup dengan Cara Seperti Ini

EtIndonesia. Sebagian besar dari kita lahir di keluarga pekerja biasa—hidup yang kita jalani sering kali jauh lebih berat daripada yang disadari banyak orang. Kita punya pekerjaan, tapi tidak selalu punya jaminan pekerjaan. Kita tinggal di rumah kontrakan dan pusing tiap bulan memikirkan uang sewa, listrik, dan air. Kalau pun punya rumah sendiri, pikiran masih terus dikejar cicilan yang seolah tak ada habisnya.

Sebenarnya kita saling tahu: kamu bekerja siang malam, aku tahu kamu sudah berusaha sekuat tenaga, dan aku paham betapa kerasnya kehidupan ini menekan kita.

Bersempit-sempitan di bus sampai tubuh seperti mau gepeng, makan fast food sampai bosan, pulang kerja lelah sampai tak punya tenaga untuk bicara, sementara rumah masih penuh urusan kecil besar yang menunggu.

Kadang rasanya pengin meledak di tempat.

Dan deskripsi sederhana itu, entah sudah menyentuh hati berapa banyak orang biasa—termasuk diriku sendiri.

Karena itu kita berlari, bekerja keras, berharap, berjuang… semua demi hari ketika kita bisa “naik kelas” dan terbebas dari label orang biasa. Siapa sih yang tidak ingin menjadi “pemenang hidup”?

Tapi pernahkah kamu bertanya: Kalau seumur hidup ini kita tetap menjadi orang biasa, bagaimana?

Mungkin kita berjuang belasan tahun, tapi tetap tidak menjadi luar biasa. Masih bekerja di pekerjaan yang biasa, menjalani hidup yang biasa.

Bisakah kita menerima kenyataan itu?

Pada suatu masa, aku sempat merasa hidup ini tidak adil. Setiap hari berdesakan di bus, bekerja sekuat tenaga, tapi hidup tetap berat. Gajiku bahkan tidak sebanding dengan harga secangkir kopi atau seporsi pasta di restoran elit.

Aku bisa menelan ketidakadilan itu, tapi tetap tidak mengerti: mengapa sudah begitu berusaha, tapi hidup yang kuinginkan tetap terasa jauh?

Lalu aku membaca dua paragraf yang sangat aku suka, yang membuatku perlahan paham bahwa menjadi orang biasa tidak selalu buruk. Kadang, justru di sanalah letak kebahagiaan terbesar.

Karena “biasa” bukan alat pembanding, dan tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan diri.

Benar, kita harus punya keinginan untuk berkembang. Tidak salah ingin sukses.

Namun kita juga harus jujur dan realistis melihat diri sendiri.

Seorang yang kemampuannya biasa, bakatnya biasa, keluarga biasa, dan keberuntungannya pun biasa— dalam hidup yang terbatas, ia pasti punya banyak ketidakbebasan:

  • banyak hal ingin dilakukan tapi tidak mampu,
  • banyak mimpi ingin dikejar tapi tidak terjangkau.

Namun, sering kali hakikat kehidupan memang sederhana dan membutuhkan kesetiaan. Dalam kesederhanaan itulah kebahagiaan kecil bertahan lama.

Kalau tidak, mengapa kita merasa bahagia ketika:

  • pulang kerja lelah lalu melihat senyum polos anak kita,
  • duduk makan hotpot bersama sahabat di malam yang dingin,
  • melihat tubuh sendiri berubah karena disiplin berolahraga,
  • menerima dukungan saat menghadapi masalah,
  • dikuatkan oleh orang tua dan pasangan saat berada pada titik terendah?

Semua kebahagiaan itu tidak ada hubungannya dengan luar biasa atau tidaknya diri kita.

Manusia perlu punya mimpi, iya. Perlu punya semangat untuk maju, benar.

Tapi kita juga perlu keberanian untuk mengakui bahwa kita adalah orang biasa—dan itu tidak apa-apa.

Akhirnya, aku mulai mengerti. Hidup yang bahagia bukan tentang seberapa hebat kita terlihat, tapi seberapa nyaman hati kita menjalani hidup.

Aku belajar bagaimana menjalani kehidupan sebagai orang biasa, tetapi tetap menciptakan hidup yang unik, penuh warna, dan bermakna.

Lebih mencintai hidup, mengisi hari dengan hal-hal yang membuat jiwa kaya menumbuhkan kebijaksanaan, dan menjaga batin tetap puas.

Tanpa membandingkan diri dengan siapa pun. Karena memang tidak ada gunanya dan tidak ada perlunya.

Hidup orang lain adalah hidup mereka. Hidup kita adalah hidup kita.

Dan bagi sebagian besar orang, yang terpenting bukan hidup orang lain— tetapi hidup yang sedang kita jalani saat ini, hidup yang sepenuhnya milik kita sendiri.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine