EtIndonesia. Pada Desember 2025, keluarga seorang siswa kelas 12 di Kabupaten Tancheng, Kota Linyi, Provinsi Shandong, Tiongkok, yang tewas akibat perundungan, membawa peti mati ke depan gerbang sekolah untuk memprotes dan menuntut keadilan. Lokasi tersebut dijaga ketat oleh pasukan khusus rezim partai komunis Tiongkok (PKT) untuk melakukan “stabilitas”.
Peristiwa ini terjadi di SMA Tancheng No.1 di Kota Linyi. Video yang beredar menunjukkan keluarga korban membawa peti mati dengan mobil ke gerbang sekolah, menata deretan karangan bunga, memasang spanduk, membakar uang kertas ritual, serta menggunakan pengeras suara untuk memutar tuntutan mereka secara berulang.
Pihak keluarga menuntut pihak sekolah memberikan penjelasan dan meminta pertanggungjawaban. Banyak polisi khusus terlihat berjaga untuk menjaga “ketertiban”.
Menurut unggahan di internet, korban bernama Xu Yang, seorang siswa kelas 12 berusia 17 tahun. Sejak kecil, orang tuanya menghilang dan ia dibesarkan oleh nenek dan pamannya.
Setelah menahan perundungan selama enam bulan, ia akhirnya melompat dari lantai 18 sebuah apartemen di seberang sekolah. Ia meninggalkan pesan terakhir kepada nenek dan pamannya: “Terima kasih sudah merawatku selama 17 tahun, tapi aku ingin pergi mencari ibuku.”
Siswa di daerah tersebut mengatakan bahwa Xu Yang memiliki prestasi akademik sangat baik untuk seluruh Kota Linyi dan berpeluang besar masuk universitas unggulan tahun depan. Namun, ia memilih mengakhiri hidup karena tidak sanggup lagi menahan perundungan.
Dugaan pelaku utama perundungan adalah anak seorang pejabat lokal. Ia disebut telah lama menindas Xu Yang, yang kemudian membuat siswa lain mengejek Xu sebagai “yatim piatu”, mengucilkannya, dan terus-menerus membully dirinya. Beredar pula video yang menunjukkan seorang siswa laki-laki menyeret Xu Yang ke sebuah gang di luar sekolah dan memimpin pengeroyokan.
Menurut paman korban, Xu telah lama menjadi sasaran intimidasi oleh kelompok kecil yang dipimpin ketua kelas. Pihak sekolah dan wali kelas disebut mengetahui hal tersebut tetapi membiarkan pelaku tanpa hukuman.
Setelah Xu meninggal, sekolah bahkan menutupi informasi dari keluarga. Paman korban baru mengetahui kejadian itu ketika Xu tidak pulang hingga larut malam dan datang ke sekolah untuk mencari, namun dicegah oleh penjaga untuk masuk. Setelah didesak, baru sekolah mengatakan bahwa ia harus pergi ke kantor polisi untuk mencari informasi.
Setelah mengetahui penyebab kematian anak tersebut, keluarga menanyakan kebenaran di grup chat orang tua murid. Namun wali kelas menolak menjawab dan malah membubarkan grup tersebut. Kantor polisi juga menolak membuka penyelidikan.
Saat kejadian ramai diperbincangkan, para siswa dan warganet mulai bersuara untuk membela Xu Yang, mengecam perundungan, serta mengkritik gelapnya sistem sekolah. Namun banyak unggahan mereka segera dihapus dan akun mereka diblokir. Seorang teman sekelas Xu menulis: “Akun diblokir, postingan dihapus… kenyataan lebih gelap daripada novel.”
Dalam menghadapi tekanan publik, SMA Tancheng No.1 merilis pernyataan yang membantah bahwa Xu tewas karena perundungan dan hanya menyatakan bahwa pihak sekolah “akan bekerja sama dengan penyelidikan polisi”.
Video dan foto yang beredar menunjukkan bahwa warganet masih terus membantu keluarga menuntut keadilan, dan beberapa orang datang ke sekolah untuk meletakkan bunga sebagai penghormatan terakhir. (Hui)
Catatan : Bunuh diri atau mengakhiri hidup bukanlah jalan keluar. Hargailah kehidupan.


