Jangan Mengeluh Tentang Lingkungan, Belajarlah Mengubah Pola Pikir

EtIndonesia. Dalam hidup, kita pasti akan mengalami berbagai bentuk luka dari dunia luar. Semakin banyak pengalaman, kita semakin waspada.

Namun ada satu jenis luka yang sering tidak kita sadari: luka yang kita ciptakan sendiri.

Untuk jabatan kecil, untuk hal sepele, atau bahkan hanya karena omongan orang, kita bisa stres, marah, dan terus memikirkannya.

Lama-kelamaan, hati kita berubah menjadi penuh lubang dan luka— hingga perlahan kehilangan kasih pada hidup dan manusia.

Padahal jika kita bisa tetap tenang, tidak mudah digoyahkan oleh hal-hal yang bersifat duniawi, kita akan menemukan bahwa kehidupan sebenarnya punya banyak sisi indah.

Tidak perlu menyalahkan langit karena tidak adil— memang dunia ini tidak pernah benar-benar adil. Dan celah-celah yang dibiarkan Tuhan kosong, kitalah yang harus mengisinya sendiri.

Kita Tidak Bisa Mengubah Takdir, Tapi Bisa Mengubah Sikap

Tuhan memberi kita hak untuk hidup, maka kita pun tidak berhak meremehkan hidup itu.

Dalam hidup, selalu ada kesedihan, kegagalan, nilai ujian yang buruk, atau tekanan dari lingkungan. Banyak orang memilih menyerah, tenggelam, bahkan ada yang memilih mengakhiri hidupnya.

Melihat tragedi-tragedi itu, aku hanya ingin berkata: “Selama kamu sudah lahir ke dunia, kamu harus memilih untuk hidup. Sekalipun harus merangkak, kamu tetap harus bertahan sampai akhir.”

Karena hidupmu bukan hanya milikmu saja— ada orangtua yang melahirkanmu, mencintaimu, dan menaruh harapan pada keberadaanmu. Tubuhmu adalah titipan mereka—bagaimana mungkin kamu memilih mengakhirinya sendiri?

Di dunia ini, ada jutaan orang yang menderita— bukan hanya kamu seorang. Dalam masa-masa sulit, kita tidak punya hak untuk mengatakan hidup kita lebih buruk dari siapa pun.

Hidup berawal dari kebingungan lalu menuju kedewasaan. Waktu terasa singkat. Ketika muda, kita merasakan dunia begitu segar. Begitu dewasa, ketika akhirnya ingin menikmati hidup, kita sudah dibebani oleh keluarga, karier, pasangan, anak-anak…

Sehari-hari hidup terasa seperti memikul gunung di punggung. Dan ketika keriput mulai muncul, rambut memutih, kita menoleh ke belakang dan bertanya: “Inikah hidup?”

Bijak: Menghargai Waktu, Menghargai Hidup

Orang bijak tahu bahwa waktu lebih mahal dari emas— emas bisa dicari, tetapi hidup tidak bisa diganti.

Terlalu banyak keinginan hanya membuat kita terbelenggu oleh keinginan itu sendiri.

Kadang aku membiarkan diri berkhayal: “Seandainya aku punya cukup uang, aku akan pergi ke Gunung Zhongnan.  Di kaki gunung dan dekat air, aku membangun rumah kecil. Pagi mendengar embun turun, malam mencium wangi bunga. Siang menikmati pemandangan, malam mendengar suara hutan. Hanya menikmati keheningan dan keindahan alam…”

Hidup seperti treadmill— sekali mulai berlari, kita tidak bisa berhenti begitu saja.

Kekuatan: Saat Tidak Ada Orang Mendengarmu

Seandainya bisa, aku ingin berjalan sendiri di tempat sunyi, memandang megahnya gunung, melihat kejernihan air, membiarkan jiwaku terbang bebas.

Namun hidup di kota yang bising terlalu lama, hati menjadi gelisah, emosi menjadi tipis, hubungan antar manusia terasa semakin dangkal dan penuh kepura-puraan.

Kadang kita ingin mengungkapkan isi hati— tapi menemukan orang yang benar-benar mau mendengarkan adalah hal yang langka.

Akhirnya, aku melampiaskan beban hidupku di atas treadmill, berlari dan membuat diri sedikit lega.

Sering kali, ketika bertemu teman, kita bisa ngobrol panjang soal hal-hal tidak penting, tetapi hal yang paling tulus justru dipinggirkan oleh kepentingan. Berapa banyak orang yang benar-benar bisa diajak bicara dari hati ke hati?

Orang dan orang seperti terpisah oleh cangkang— pujian palsu disukai, kejujuran malah jadi tabu.

Dan ketika kamu jatuh pada titik paling rendah, hanya dirimu sendiri yang bisa memelukmu. Hanya dirimu sendiri yang bisa berkata: “Kuatlah.”

Kekuatan adalah jalan menuju kemudahan. Ketegasan adalah jalan menuju solusi. Kalau kamu tidak kuat, tidak ada yang menggantikanmu bertahan. Kalau kamu tidak tenang, tidak ada yang menyelamatkanmu dari kekacauan.

Jika tidak bisa menghindar dan tidak bisa bersembunyi, mengapa harus merendahkan diri? Mengapa harus peduli pada tatapan orang?

Lebih baik berdiri penuh percaya diri, seperti bulan purnama yang tinggi di langit. Jika ingin menangis, biarlah air mata jatuh, tapi biarkan ujung bibir tetap terangkat— biarkan itu menjadi hadiah kecil dari waktu untuk dirimu sendiri, sambil menunggu takdir memberi imbalan yang lebih indah.

Hidup Tidak Memberi Jalan Pasti—Tapi Memberi Arah

Hidup hanya memberi arah, bukan jalur yang pasti.

Di sepanjang arah itu, kita akan melewati berbagai jalan: jalan lebar, gang kecil, jalan berliku, jalan berlumpur, lubang perangkap, bahkan jurang.

Mungkin pada akhirnya kita tidak bisa mencapai impian tertinggi, tapi itu bukan alasan untuk berhenti.

Selama kita terus berjalan, hidup tidak akan pernah benar-benar buntu. Satu-satunya hal yang bisa membuat kita putus asa adalah hati kita sendiri.

Jalan Keluar: Sering Kali Ada di Bawah Kaki Kita Sendiri

Kita sering mencari jalan keluar ke mana-mana, padahal sering kali jalan itu ada tepat di bawah langkah kita.

Hanya saja kita sering menengadah terlalu tinggi, enggan menundukkan kepala untuk melihat yang ada di depan mata.

Jika itu sebuah jalan, selalu ada yang bisa berjalan di atasnya. Ada orang yang berhasil, ada yang gagal— karena hasilnya ditentukan bukan oleh jalan itu sendiri, tapi oleh cara kita melangkah.

Kita semua sering berkata: “Kalau mobil sampai di gunung pasti ada jalan, kalau kapal sampai jembatan pasti bisa lewat.”

Kita percaya pepatah: “Setelah kegelapan, pasti ada cahaya.” Namun ketika masalah datang, kita tetap hanyut dalam kecemasan.

Padahal hanya dengan melihat dari sudut berbeda,  kita menyadari: hidup tidak pernah benar-benar menutup semua pintu.

Orang suka membuka jalan baru, padahal jalan baru dan jalan lama sebenarnya sama saja— yang berbeda hanyalah pemandangannya.

Jalan yang tidak pernah dilewati hanyalah “baru” di mata kita— padahal ia mungkin sudah ada bertahun-tahun. Dan jalan yang dilalui banyak orang akhirnya menjadi “jalan lama”.

Jadi, jalan itu tidak ada istilah baru atau lama, baik atau buruk— semuanya tergantung kebutuhan dan pilihan kita.

Jalan yang Paling Banyak Dilewati Belum Tentu yang Terbaik

Jalan yang ditempuh banyak orang belum tentu jalan yang baik. Jalan yang jarang ditempuh bahkan tidak pernah dilewati pun belum tentu buruk.

Kebenaran pada awalnya selalu berada di tangan sedikit orang. Begitu pula hidup— tidak banyak yang mau mengakui bahwa jalan orang lain mungkin jauh lebih sulit dibanding jalannya sendiri.

Jalan mana yang harus ditempuh? Jalan mana yang paling cocok bagi kita? Tidak ada yang tahu sebelumnya.

Manusia berjalan di antara keraguan dan kebingungan sepanjang hidupnya, dan pada akhirnya… kita mungkin tetap tidak mendapatkan satu jawaban pun.

Kekuatan dari Luka

Luka juga adalah sebuah bentuk tempaan. Tapi setelah terluka, kita harus belajar menjadi kuat.

Masyarakat itu keras— sedikit lengah saja, kita bisa penuh luka. Namun setelah menangis, kita tetap harus memilih untuk hidup dengan tegar.

Bagi yang patah hati, rasa sakit itu pasti ada. Tapi jika dia sudah pergi dari hidupmu, mengapa tidak melepaskannya dengan elegan?

Rasa lemah, air mata, dan ratapan yang berlebihan hanya menambah beban yang tidak perlu.

Ada satu kalimat yang ingin aku hadiahkan: “Pernah mencintai, pernah terluka—biarkan waktu menyembuhkan semua luka. Jika kamu berani melepaskan, kamu akan bahagia.”

Seperti lagu “Terima Kasih, Patah Hati”, begitulah hidup: “Masa depan penuh cahaya, tapi jalannya berliku.”

Meski dipenuhi duri, jalan tetap harus dilalui— selangkah demi selangkah.

Jangan menghabiskan hari dengan wajah muram atau sibuk mengeluh tentang kekurangan diri sendiri. Percayalah bahwa kamu mampu— itu setidaknya menunjukkan bahwa kamu menghargai dirimu sendiri.

Ada pepatah: “Setiap orang yang lahir pasti membawa kegunaannya sendiri.”

Kamu tidak buruk, hanya saja belum menemukan kelebihanmu.

Dan seperti kata orang: “Hidup bukan kekurangan keindahan, tetapi kekurangan mata yang bisa melihat keindahan.”

Hal yang Bisa Diulang—dan Hal yang Tidak Bisa Diulang

Segala sesuatu bisa dimulai lagi— kecuali hidup.

Segala sesuatu bisa dilepaskan— kecuali keyakinan.

Segala sesuatu bisa ditinggalkan— kecuali harga diri.

Semua bisa diterima— kecuali penghinaan.

Kamu boleh lupa dengan kegagalan, tapi jangan lupa pelajarannya.

Boleh melupakan kemarin, tapi jangan melupakan sejarah.

Boleh melupakan penderitaan, tapi jangan lupakan perjuangannya.

Boleh melupakan luka, tapi jangan pernah melupakan rasa malu yang membuatmu bangkit.

Memandang Kembali Perjalanan Hidup

Melihat kembali perjalanan diri: ada mimpi, ada rasa berdebar, ada kesedihan, tapi juga ada kebahagiaan tanpa batas.

Dalam hari-hari yang tampak biasa, kita pernah mencintai, pernah mengejar, pernah berjuang, pernah memberi.

Meski tidak selalu mendapatkan tawa dan kemenangan, kita juga pernah merasakan pahitnya air mata.

Namun kita belajar bahwa: selama kita menghadapi hidup dengan positif, hidup punya maknanya. Selama kita menebar kerja keras dan harapan, hidup punya nilainya.

Kadang kita sudah berusaha keras, tapi hasilnya tidak sesuai harapan. Kadang kita gagal meski sudah melakukan yang terbaik.  Kadang kita menangis berkali-kali dalam gelapnya malam. Kadang hidup menciptakan situasi yang tidak bisa kita kendalikan.

Tapi tidak apa-apa.

Hidup harus punya celah— agar cahaya bisa masuk.

Menemukan Posisi Diri: Cara Hidup Tak Pernah Hanya Satu

Hidup punya jutaan bentuk— tidak ada satu cara hidup yang cocok untuk semua orang.

Ada cara hidup yang bagi orang lain tampak mudah, tapi bagi kita terasa salah. Ada pula cara hidup yang membuat kita nyaman, tapi orang lain sulit memahaminya.

Hari terbaik adalah hari yang kamu jalani dengan cara yang kamu sukai. Gaya hidup terbaik adalah gaya hidup yang membuat hati tenang.

Belajarlah menikmati hidup, jangan menyeret hidup seperti beban.

Terimalah bahwa tidak semua orang akan memahami dirimu— dan kamu tidak perlu hidup untuk dipahami semua orang.

Pola Pikir Menentukan Hidup

Pola pikir yang baik adalah modal terbesar dalam hidup.

Dickens pernah berkata: “Satu pola pikir yang sehat lebih kuat dari seratus kecerdasan.”

Tidak diragukan lagi: semangat dalam diri akan menentukan kualitas hidup seseorang.

Hidup ini singkat— untuk apa tidak bahagia?

Jadilah orang yang mampu mengendalikan kehidupannya sendiri. Saat bahagia, tetap rendah hati agar hati damai. Saat terpuruk, tetap tenang agar tekad tetap hidup.

Hiduplah setiap hari dengan penuh: kebijaksanaan, kelapangan hati, rasa puas, keselamatan, kebahagiaan, ketenangan, dan cahaya.

Hidup Itu Sederhana: Yang Penting Cocok dengan Dirimu

Hidup punya banyak bentuk— yang penting adalah yang cocok denganmu.

Jangan buat terlalu banyak aturan untuk dirimu sendiri. Selama ada prinsip, nikmati hidup dengan cara yang membuatmu bahagia.

Karena kelak, justru hari-hari ceroboh dan penuh spontanitas itulah yang menjadi kenangan paling indah di hari tua.

Hiduplah dengan baik, jaga dirimu, jangan biarkan dirimu bersedih terlalu lama. Hidup ini singkat— bahagia itu wajib.

Setiap Orang Punya Kebahagiaannya Masing-masing

Kadang orang tidak bahagia bukan karena tidak punya kebahagiaan, tapi karena tidak bisa menghargainya.

Ketika kebahagiaan datang, mereka yang tahu menghargai akan meraihnya. Mereka yang tidak menghargai… akan melewatkannya dan menyesal.

Hidup hanya beberapa puluh tahun. Sahabatku, hargailah kebahagiaan yang datang mendekat. Jangan biarkan dirimu menyesal di masa tua.  Jangan berharap pada kehidupan berikutnya— hargai hidup yang kamu miliki sekarang.

Banyak orang berkata hidup itu melelahkan. Lelah karena tekanan mental yang berat. Lelah karena beban pikiran yang tak henti.

Ingin tidak lelah? Belajarlah melepaskan. Hidup butuh keseimbangan—ada kalanya tegang, ada kalanya longgar.

Rasa lelah yang berkepanjangan akan merusak tubuh dan jiwa. Belajarlah membebaskan diri dari kelelahan itu.

Tidak Mengejar Kebahagiaan Secara Buta — Barulah Hidup Menjadi Indah

Hidup hanya sekali. Tak ada satu orang pun yang ingin hidupnya berlalu tanpa makna.

Jika ingin menikmati inti dari kehidupan— hidup dengan semangat, penuh cahaya, penuh arti— maka arah hidup harus kamu pegang sendiri.

Jangan biarkan dirimu dikendalikan keadaan. Gunakan waktu dan potensi yang kamu punya. Gunakan sifat terbaik yang ada dalam dirimu. Dan selaraskan langkahmu dengan dunia yang luas ini.

Setiap orang bisa menemukan makna, kebahagiaan, dan kebebasan batin melalui perenungan dalam diri.

Dan ketika itu ditemukan— hidupmu akan berkembang menjadi kehidupan yang indah, kuat, dan penuh sukacita. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine